Harus Diakui, Umat Islam Tombak Keberhasilan Kemerdekaan RI

Suaramuslim.net – Diskusi kali ini diinspirasi oleh Q.S. An Naml ayat 38-40 sebagai berikut.

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ (38) قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ (39) قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Sulaiman berkata, “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”

‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya.”

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”

Maka tatkala Nabi Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat­-Nya).

“Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”

Nabi Sulaiman ‘alaihis salam memiliki sikap yang luar biasa ketika mendapatkan anugerah di luar kemampuannya dengan ucapan;

Baca Juga :  Pengikut Nabi Musa, Bangsa Yahudi dalam Al Quran

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat­-Nya).”

Bisakah Kita Seperti Nabi Sulaiman?

Allah telah memberikan anugerah kemerdekaan pada kita, di saat itu secara persenjataan di luar daya kita dengan bersikap positif dengan menganggapnya sebagai ujian kesyukuran kita kepada-Nya.

Kemerdekaan itu sebagai ujian kesyukuran apakah kita bisa menjadi bangsa yang bersyukur atau malah kufur?

Bangsa yang bersyukur adalah bangsa yang mengamalkan konsep Ketuhanan, kemanusian dan keadilan sosial. Bangsa yang berpegang teguh dengan norma agama dan masyarakat.

Bangsa yang bersyukur adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya dengan mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif.

Bangsa yang bersyukur adalah bangsa yang kuat menghadapi penjajah modern, baik hegemoni ekonomi dan budaya.

Sebaliknya bangsa yang kufur nikmat, adalah bangsa yang menolak Ketuhanan Yang Maha Esa.

Yaitu bangsa yang menolak norma agama dan masyarakat.

Yaitu bangsa yang pasrah dengan hegemoni ekonomi dan budaya bangsa lain yang bertentangan dengan norma agama dan masyarakat.

So.. Wujudkan syukurmu di kemerdekaan ini! Bagaimana caranya?

Ada tiga hal sederhana untuk mengawali menjadi bangsa yang bersyukur.

1. I’TIRAAFAN (pengakuan)

Harus akui bangsa ini ada karena berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Di samping juga usaha perjuangan yang luhur dari pahlawan kita.

Baca Juga :  Seteru Dua Kawan Lawas, Soekarno dan Buya Hamka – Bagian 4

Jangan sombong seolah usaha dirinya doang..!

Karena menafikan Allah atas setiap nikmat adalah kekufuran dan kesombongan. Dan hal itu akan membuat Allah murka, seperti yang terjadi pada Qarun. Ia dengan sombongnya berkata terkait kenikmatan hidupnya;

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78).

Dan kesombongan Qorun dijawab langsung oleh Allah;

أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا

“Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta?” (Al-Qashash: 78).

So, mulailah bersyukur kepada manusia, dengan mengakui itu bantuannya. Baru bisa mengakui pemberian Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR Abu Daud No. 4811 dan Tirmidzi No. 1954).

Akui, bahwa usahamu tak akan berbuah kenikmatan sejati tanpa anugerah-Nya.

Dan ternyata pendiri bangsa ini sudah mengakui kemerdekaan karena anugerah Allah Yang Maha Kuasa.

Lihatlah alinea ketiga Pembukaan UUD 1945.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Dan bagi generasi zaman now, harusnya mengakui bahwa hidup nyaman sekarang ini (tidak dijajah secara fisik), adalah karunia Allah dan para pahlawan. Karena pengakuan ini penting sebagai sikap Berketuhanan Yang Esa untuk mengisi kemerdekaan ini ke arah yang lebih baik.

Baca Juga :  Doa Dzun Nuun, Doa Mustajab dalam Al Quran

2. TAHADDUTSAN BIN NIKMAH (ungkapkan kebaikan nikmat itu)

Ungkapkan ini adalah anugerah dan kebaikan Allah, sehingga kita beruntung menjadi hamba-Nya.

Carilah nikmat mana yang belum disyukuri sebagai anugerah-Nya. Sebutkan kebaikan temen, istri atau siapa saja, sehingga merasa beruntung kita punya temen baik, istri yang salehah.

So.. Mengungkapkan sesuatu itu sebagai sebuah kenikmatan yang datangnya dari Allah, jauh lebih baik daripada mencari-cari nikmat yang belum didapat.

Ungkapan positif terhadap nikmat ini dapat menjadi energi diri untuk berkarya yang lebih baik.

3. TASHRIF FI MARDHOTILLAH (menggunakan nikmat pada yang diridai Allah)

Semua nikmat harusnya digunakan kepada hal-hal yang positif dan disenangi Allah. Mata, gunakanlah dengannya memandang yang halal.
Mulut, gunakanlah denganya bicara yang positif.

Tangan, kaki, dan seterusnya.

Maka, kemerdekaan ini, gunakanlah dengannya hal-hal positif untuk membangun bangsa menjadi makmur yang memperhatikan kemanusiaan secara adil, melandasinya dengan persatuan menuju ridha Allah.

Kalau itu semua dilakukan maka Allah:

1. Akan menambah nikmat itu baik secara material dan spritual, lihat Ibrahim ayat 7.

2. Menjadikan sebagai bala, masalah baik di akhirat maupun di dunia, lihat An Nisa ayat 147.

WALLAHU A’LAM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here