Suaramuslim.net – Pada 6 April 1977, Mochtar Lubis, seorang budayawan dan wartawan, menyebut sikap hipokrit atau munafik sebagai ciri pertama manusia Indonesia.
Hampir setengah abad kemudian, pernyataan itu masih viral di media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih terlalu sering menjumpai berbagai perilaku yang ia kritik.
Dalam pidato kebudayaan yang kemudian diterbitkan menjadi buku Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menggambarkan kebiasaan orang menampilkan sikap berbeda antara ucapan dan perbuatan.
Ia juga menyinggung sikap feodal dan budaya Asal Bapak Senang, yang biasa kita kenal sebagai kebiasaan menjilat atasan. Di hadapan orang yang berkuasa, kata-kata bisa begitu manis. Suka memberi pujian. Sesudah orang tersebut pergi, ceritanya berubah.
Puluhan tahun kemudian, Cak Nun menyampaikan sindiran yang lebih menohok: “Di Indonesia ini kita mengalami kemunafikan yang komplit.”
Ia menyebut perilaku macak alim, macak merakyat, macak demokratis.
Kata macak dalam bahasa Jawa dapat berarti bersolek, berdandan, atau berlagak. Orang ingin terlihat alim, saleh, dekat dengan rakyat, dan menghormati demokrasi.
Semua sifat itu baik dan terpuji. Sayangnya, penampilan yang meyakinkan sering membuat orang lupa memeriksa perbuatannya.
Sindiran dengan kata komplit memang begitu menghentak. Kemunafikan sudah demikian parah ketika perilaku salah terus mendapat pembenaran, orang yang melakukannya tetap dihormati, bahkan lingkungan ikut mendukung dan membantu menutupi kesalahan.
Ketika ucapan berbeda dengan perbuatan
Masyarakat Indonesia begitu akrab dengan nasihat tentang kebaikan. Di rumah, orang tua mengajarkan kejujuran sejak kecil. Di sekolah, guru mengajarkan budi pekerti. Di masjid dan tempat ibadah lainnya, umat diingatkan untuk menjaga amanah dan peduli kepada sesama.
Namun, kenyataan kadang memperlihatkan sesuatu yang bertolak belakang. Anehnya, ada orang yang tersangkut perkara hukum masih sempat tersenyum ke arah kamera ketika dibawa polisi. Kita yang melihatnya malah ikut malu.
Keganjilan lain muncul di panggung politik. Ketika kampanye, sebagian calon pemimpin begitu mudah menjanjikan keberpihakan kepada rakyat.
Mereka berbicara tentang kejujuran, kepedulian, kesederhanaan, pemerintahan yang bersih, dan penciptaan lapangan kerja.
Tetapi setelah berkuasa, sebagian janji itu belum terwujud. Banyak warga masih kesulitan mencari pekerjaan. Ketika ditagih, jawaban yang muncul sering berupa penjelasan tentang keadaan ekonomi, efisiensi, keterbatasan anggaran, atau berbagai kesulitan yang dahulu jarang dibicarakan saat kampanye.
Bagi rakyat yang sedang menganggur, janji lapangan pekerjaan bukan sekadar pemanis pidato. Ada kebutuhan keluarga, biaya sekolah anak, dan harapan untuk hidup lebih baik.
Mereka tentu berharap para pemimpin mengingat janjinya sama baiknya dengan ketika mengucapkannya di depan ribuan orang.
Kepercayaan rakyat diuji setelah pemilihan selesai. Menciptakan lapangan pekerjaan memang tidak semudah mengucapkannya di panggung kampanye.
Kesulitan ekonomi tentu bisa dipahami, tetapi rakyat juga berhak mengetahui apa yang sudah dikerjakan dan mengapa sebagian janji belum terpenuhi. Mereka membutuhkan pertanggungjawaban, bukan sekadar alasan baru setiap kali janji lama ditagih.
Kemunafikan memang sering memperoleh tempat berlindung di balik sesuatu yang kelihatannya mulia.
Dalam kehidupan bertetangga, bentuknya mungkin jauh lebih sederhana. Kita sepakat bahwa rasan-rasan, membicarakan aib orang lain, adalah perbuatan buruk. Kehidupan pribadi harus dihormati.
Tetapi ketika mendengar kabar menarik tentang rumah tangga tetangga, rasa ingin tahu kadang mengalahkan semua nasihat tadi.
Biasanya percakapan dimulai dengan pesan:
“Ini jangan sampai menyebar, ya.”
Atau, “Ini hanya untuk kamu…”
Atau, “Ojo kondo-kondo yo…”
Lalu kabar itu berpindah kepada orang berikutnya, lengkap dengan pesan yang sama. Semua merasa sudah menjaga rahasia karena hanya menceritakannya kepada orang yang dipercaya.
Akhirnya satu kampung mengetahui persoalannya. Tidak seorang pun merasa telah menyebarkannya.
Begitulah salah satu wajah macak alim. Orang bisa sangat rajin mengingatkan pentingnya menjaga lisan, sementara mulutnya sendiri sulit berhenti membicarakan aib orang lain.
Ukuran moral yang berubah-ubah
Ada kebiasaan lain yang barangkali lebih mengkhawatirkan. Kita sering memiliki ukuran moral yang berbeda, tergantung siapa yang sedang dinilai.
Ketika kendaraan tetangga parkir di depan pagar rumah kita, biasanya muncul keluhan. Tetangga dianggap tidak tahu aturan dan kurang menghormati orang lain. Tetapi ketika tamu kita melakukan hal yang sama di depan rumah tetangga, kita justru meminta pengertian. “Sebentar saja, namanya juga ada tamu.”
Ketika kita yang terganggu, orang lain harus tahu aturan. Giliran kita yang mengganggu, tetangga diminta lebih pengertian.
Dalam kehidupan masyarakat, kesalahan orang yang tidak disukai mudah menjadi bahan pembicaraan.
Sebaliknya, ketika pelakunya orang dekat, kita mulai mengingat jasa-jasanya. Hubungan baik selama bertahun-tahun dianggap cukup untuk membuat kesalahannya lebih mudah dimaafkan. Ukuran benar dan salah akhirnya ikut berubah mengikuti hubungan pribadi.
Sikap macak demokratis juga mudah dikenali. Seseorang dapat berbicara panjang tentang kebebasan berpendapat.
Ia mengecam orang yang tidak mau menerima kritik. Tetapi ketika kritik diarahkan kepada dirinya atau kelompoknya, nada bicaranya berubah. Orang yang berbeda pendapat dianggap tidak sopan, mencari perhatian, atau sengaja membuat keributan.
Rupanya kebebasan berpendapat kadang berlaku luas, selama pendapatnya sama dengan milik kita.
Begitu pula dengan macak merakyat. Tampil sederhana dan bergaul dengan masyarakat kecil memang mudah mengundang simpati. Orang merasa dekat ketika disapa, diajak berbincang, atau didengarkan keluhannya.
Tetapi kedekatan baru benar-benar teruji ketika warga menyampaikan sesuatu yang tidak menyenangkan. Masihkah mereka diterima dengan ramah? Atau keramahan perlahan menghilang karena orang mulai menuntut janji yang pernah diucapkan?
Kebiasaan semacam ini membuat kritik Mochtar Lubis terasa panjang umurnya. Kita memiliki banyak nilai baik, tetapi juga cukup terampil membuat pengecualian ketika nilai tersebut mulai mengganggu kepentingan sendiri.
Mengapa manusia tetap merasa benar?
Bagaimana seseorang bisa terus merasa dirinya baik ketika ucapan dan tindakannya saling bertentangan?
Dalam sebuah percobaan tentang kemunafikan moral (moral hypocrisy), Batson dan rekan-rekannya (1999) meminta peserta membagi dua pekerjaan, satu menarik dan satu membosankan.
Mereka boleh menggunakan undian dengan melempar uang logam agar pembagiannya adil. Namun, dari 28 peserta yang memilih menggunakan undian, 24 orang justru mengambil pekerjaan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian peserta kemungkinan berbuat curang dengan mengabaikan hasil undian.
Albert Bandura (1999) menjelaskan gejala yang disebut moral disengagement, yaitu cara manusia membenarkan perbuatan salah agar tidak merasa bersalah.
Misalnya, seseorang menggunakan uang iuran warga untuk keperluan pribadi. Ketika ditegur, ia beralasan, “Cuma pinjam, nanti juga saya kembalikan.” Bahkan ia mungkin berkata, “Orang lain juga melakukan hal yang sama.”
Dengan alasan tersebut, ia merasa tindakannya masih bisa dibenarkan, padahal sudah menggunakan uang tanpa izin.
Manusia rupanya cukup pandai mencari pembenaran.
Penjelasan Batson dan Bandura membantu kita memahami mengapa kemunafikan dapat bertahan.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa tindakannya salah, tetapi selalu mempunyai alasan untuk membenarkannya. Setelah alasan itu diterima oleh teman, keluarga, atau kelompoknya, rasa bersalah pun perlahan memudar.
Apalagi jika orang tersebut memiliki kedudukan dan pengaruh. Kesalahannya bisa dimaafkan berkali-kali karena dianggap berjasa. Orang-orang di sekitarnya ikut membela, sementara pihak yang dirugikan diminta memaklumi keadaan.
Lama-kelamaan, orang lebih sibuk menjaga nama baik daripada mengakui kesalahan.
Ketika kesalahan terus dibenarkan
Dalam kehidupan masyarakat, kita mengenal orang yang gemar memberikan nasihat. Ia mengingatkan pentingnya kejujuran, kesabaran, dan sikap menghormati orang lain. Ucapannya sangat positif, terkadang membuat pendengarnya terharu.
Tetapi anehnya, ketika situasinya dibalik, orang menjadi tidak nyaman saat ada yang mengingatkan kesalahannya. Teguran dirasa sebagai serangan pribadi.
Lingkungan akhirnya memilih diam. Sahabat enggan membicarakannya lagi. Mereka sudah lelah menghadapi kemarahan setiap kali mencoba mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Diamnya orang lain kemudian dianggap sebagai tanda persetujuan.
Keadaan seperti ini membuat kemunafikan semakin sulit diperbaiki. Lingkungan ikut membenarkan kesalahan dan memilih diam daripada menegur.
Dalam puisi nomor 68 dari 99 untuk Tuhanku (1983), Emha Ainun Nadjib menuliskan permohonan yang sederhana:
Tuhanku…
“tolong ditegur kalau goblok atau keliru, maklumlah
manusia, sukar menatap diri sendiri, sedangkan
cermin hanya menawarkan suatu sisi”
Mochtar Lubis sudah mengingatkannya hampir lima puluh tahun lalu. Cak Nun kemudian menyebutnya kemunafikan yang komplit.
Kita pandai menasihati, mudah mencari pembenaran, dan sering memaafkan kesalahan sendiri. Lingkungan di Indonesia terus merawatnya. Yang menyedihkan, anak-anak kita bisa tumbuh menganggap semua itu sebagai sesuatu yang biasa.
Bagus Suminar

