Keteladanan Ahmad Hassan dalam Mengakui Kesalahan

Suaramuslim.net – Kesalahan bagi manusia adalah hal lumrah. “Setiap keturunan anak Adam (manusia) pasti melakukan kesalahan. Sedangkan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat,” demikian sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Walau begitu, sangat jarang dijumpai orang yang mau mengakui dengan jujur kesalahannya. Apalagi jika yang berbuat salah adalah alim ulama (atau tokoh besar dan berpengaruh). Di antara yang jarang itu, nama ulama nusantara Ustadz Hassan bin Ahmad atau yang dikenal dengan A. Hassan, patut diangkat dalam tulisan ini.

Ulama kelahiran Singapura 1887 ini, adalah figur yang ulung dalam berdebat dan berilmu agama luas. Sederet tokoh muslim kenamaan seperti M. Natsir, Endang Abdurrahman dan Isa Anshari adalah di antara contoh kader sukses didikan tangan dingin beliau.

Betapapun kokoh, kuat dan luasnya ilmu ulama yang hayatnya sehari-hari menerapkan hidup bersahaja ini, namun semua itu tidak membuatnya tinggi hati, apalagi menutupi kesalahan jika memang telah melakukannya. Jika beliau melakukan kesalahan, tak akan segan dan malu dalam mengakuinya. Salah satu contohnya adalah yang ditulis oleh Tamar Djaja –salah satu muridnya— dalam buku “Riwayar Hidup A. Hassan”. (1980: 64)

Baca Juga :  Pemulung Jujur Ini Pernah Menemukan Uang, Emas Hingga Sertifikat Tanah

Suatu hari, H. Ali Muhammad Siraj (seorang yang berasal dari Sumedang Jawa Barat) pernah mengunjungi A. Hassan ketika berada di Banyuwangi. Dalam kunjungan tersebut ia selalu membawa sepeda untuk mempermudah perjalanan keliling di kota atau di kampung-kampung. Selanjutnya ia mengisahkan perjalanannya dengan A. Hassan.

Dalam suatu perjalanan memakai sepeda, ada peristiwa menarik. Di pinggir ban sepeda itu tertulis kata-kata “inflate hard”. A. Hassan menanyakan arti kata-kata itu kepada Ali Muhammad Siraj. Ia pun menjawab, “Pompalah keras-keras, maksudnya supaya ban lebih awet dipakainya dan tak mudah kempes”.

Mendengar jawaban itu, seketika A. Hassan menimpali, “Bukan itu arti kalimat tersebut. Artinya ialah ban ini dibikin sangat teratur, tak usah khawatir”. Mendengar arti yang diberikan beliau, Ali tidak membantah, karena ia tahu bahwa Tuan Hassan lebih paham berbahasa Inggris.

Uniknya, pada tengah malam, pintu kamar Ali diketok beliau dan berkali-kali memanggil namanya. Sejurus kemudian, dibukakanlah pintu untuk Tuan A. Hassan. Kemudian beliau masuk dan segera mengucapkan minta maaf atas kesalahannya membuat arti kalimat tersebut.

Baca Juga :  Kegenitan dan Kebutuhan Aktualisasi

A. Hassan mengakui bahwa arti itu tidak benar, yang benar ialah arti yang disampaikan oleh Ali Muhammad Siraj. Beliau secara jujur mengaku bersalah dan mau minta maaf kepadanya. Hal ini segera dilakukannya karena khawatir besok meninggal tapi belum sempat meminta maaf kepada Ali Muhammad Siraj atas kesalahamnnya.

Bayangkan! Ali Muhammad Siraj mengakui keahlian A. Hassan terkait bahasa Inggris, dan jika A. Hassan mau untuk tidak minta maaf maka Ali pun tak akan curiga apa-apa. Tapi, A. Hassan dengan kejujurannya berani mengakui kesalahannya.

Pada kasus lain, ada kisah yang juga cukup unik. Di saat kebanyakan orang berlomba-lomba ingin mendapatkan gelar haji, lain halnya dengan beliau. Saat diberi kesempatan menunaikan ibadah haji, dengan jujur beliau mengakui hajinya tidak sah karena belum sempat melempar Jumrah di Mina lantaran kakinya sakit yang mengharuskan beliau ditandu. Atas kejadian ini, beliau tidak pernah menyebut dirinya Haji A. Hassan. (Tamar Djaja, 1980: 44-53)

Dalam kasus lain, ulama yang meninggal tahun 1958 ini, tidak segan-segan rujuk pada pendapat yang benar jika pendapat-pendapatnya selama ini ternyata salah seperti masalah hukum wajibnya musafir pada berjum’ah. Selama ada pendapat yang benar, berlandaskan pada Al Quran dan Hadits, maka dirinya siap menjadi yang terdepan dalam mengakui kesalahan serta rujuk pada pendapat yang benar.

Baca Juga :  Bisnis Islami Berkemajuan

Insan dengan tipologi seperti ini, digambarkan dalam surah Ali Imran ayat 136, sebagai ciri khas orang bertakwa, yaitu mengakui kesalahan dan kezaliman yang diperbuat, kemudian mengingat Allah, segera memohon ampunan dan tak akan melakukan kesalahan yang sama dengan penuh kesadaran. Dari sosok A. Hasaan, pembaca bisa belajar keteladanan itu.

Kontributor: Mahmud Budi Setiawan
Editor: Oki Aryono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.