Ketika kursi membuat orang lupa cara memanusiakan manusia

Kriteria Khusus Pemimpin dalam Islam

Suaramuslim.net – Ada penyakit yang sering menyerang orang ketika mendapatkan jabatan: mabuk posisi.

Gejalanya sederhana. Ketika belum berkuasa, ia rajin mencari orang. Setelah berkuasa, orang yang harus mencarinya.

Dulu gemar berdiskusi, kini lebih suka didengarkan. Dulu membutuhkan kritik, kini kritik dianggap gangguan.

Kursi ternyata bukan hanya mengubah tempat duduk. Kadang ia mengubah cara seseorang memandang manusia.

Orang yang dulu dianggap sahabat berubah menjadi bawahan. Teman berpikir berubah menjadi orang luar. Mereka yang dahulu dekat perlahan diperlakukan berdasarkan kebutuhan: siapa yang berguna, siapa yang patuh, siapa yang menyenangkan, dan siapa yang dianggap mengganggu.

Ironisnya, pemimpin sering tidak merasa dirinya berubah. Ia merasa masih sama. Yang dianggap berubah justru orang-orang di sekelilingnya.

Padahal bisa jadi bukan mereka yang berubah.
Cara mereka diperlakukanlah yang berubah.

Maka lahirlah jarak relasi. Yang dahulu aktif menjadi pasif. Yang dahulu berani menyampaikan gagasan memilih diam. Yang dahulu dekat mulai menjaga jarak. Bukan selalu karena mereka kehilangan kepedulian, tetapi karena mereka merasa tidak lagi diperlakukan sebagai manusia yang memiliki pikiran dan martabat.

Kemudian pemimpin bertanya, “Mengapa mereka sekarang diam?”

Jawabannya mungkin sederhana: “Karena Anda mengajari mereka bahwa berbicara kepada Anda tidak lagi aman, nyaman, atau bermakna.”

Di sinilah spiral of silence bekerja. Ruangan tampak kompak karena semua orang diam. Pemimpin mengira semua setuju karena tidak ada yang membantah.

Padahal diam tidak selalu berarti setuju. Bisa jadi orang hanya belajar bahwa berbeda pendapat dengan kekuasaan memiliki konsekuensi sosial.

Lebih mengkhawatirkan ketika kritik dari para pakar tidak dijawab dengan data dan argumentasi, tetapi dianggap kebodohan dan dibalas dengan ejekan.

Saat kritik dianggap kebodohan, ejekan menggantikan argumentasi.

Di titik itu, ruang dialog bergeser dari argumentative culture menuju ridicule culture. Yang dihargai bukan lagi kualitas gagasan, tetapi kemampuan mempermalukan orang yang berbeda pandangan.

Pakar tentu bisa keliru. Presiden juga bisa keliru. Menteri bisa keliru. Siapa pun bisa keliru. Tetapi kekeliruan seorang pakar tidak dibuktikan dengan mengejeknya. Begitu pula kewenangan seorang pemimpin tidak otomatis membuat semua pendapatnya benar.

Pengetahuan diuji dengan pengetahuan. Data dengan data. Argumentasi dengan argumentasi.

Jabatan bukan bukti kebenaran. Jabatan memberikan kewenangan untuk mengambil keputusan, bukan monopoli atas kebenaran.

Di sinilah bahaya superiority dalam kekuasaan. Ketika seseorang terlalu lama berada di posisi tinggi, ia dapat mulai terbiasa melihat orang dari atas.

Mereka yang berbeda pendapat tampak kurang tahu. Mereka yang mengkritik dianggap tidak memahami persoalan. Mereka yang dahulu menjadi teman berpikir akhirnya hanya dipandang berdasarkan manfaatnya.

Kekuasaan kemudian menciptakan semacam kaca pembesar bagi dirinya sendiri: semakin tinggi kursinya, semakin kecil orang lain terlihat.

Padahal orang yang benar-benar besar tidak perlu membuat orang lain merasa kecil.

Ia tidak membutuhkan ejekan untuk menunjukkan kecerdasan. Tidak membutuhkan tepuk tangan untuk memastikan dirinya benar. Dan tidak membutuhkan keheningan orang lain untuk merasa paling tahu.

Karena itu, ketika orang-orang yang dahulu berani bicara kini memilih diam, ketika kawan diskusi berubah menjadi penonton, ketika orang-orang yang dahulu dekat mulai mengambil jarak, jangan buru-buru menyalahkan mereka.

Mungkin mereka tidak kehilangan kepedulian.
Mereka hanya kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri di dekat Anda.

Manusia memiliki ingatan terhadap cara ia diperlakukan. Ketika seseorang hanya didekati saat dibutuhkan dan dijauhkan ketika tidak lagi berguna, ia akhirnya memahami bahwa dirinya bukan lagi sahabat dialog, melainkan instrumen kepentingan.

Di situlah jarak relasi menjadi nyata.

Dan jarak itu tidak selalu terlihat sebagai konflik. Kadang ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih sunyi: tidak lagi bertanya, tidak lagi mengusulkan, tidak lagi mengingatkan, tidak lagi datang membawa gagasan.

Diam adalah salah satu bentuk paling halus dari kehilangan kepercayaan.

Maka seorang pemimpin perlu berhati-hati terhadap ruangan yang terlalu sunyi. Sebab ruangan yang tidak memiliki kritik bukan selalu tanda bahwa kepemimpinan berhasil. Bisa jadi orang-orang di dalamnya telah berhenti merasa perlu berbicara.

Yang lebih berbahaya adalah ketika tepuk tangan disalahartikan sebagai kebenaran.

Kadang orang bertepuk tangan bukan karena argumen itu benar, tetapi karena mereka tahu siapa yang sedang berbicara.

Di sinilah kekuasaan perlu bercermin.

Sebab ukuran seorang pemimpin bukan seberapa banyak orang yang mengangguk di hadapannya, melainkan seberapa banyak orang yang tetap berani mengatakan “tidak” ketika memang harus mengatakan tidak.

Kritik bukan penghinaan.
Perbedaan pendapat bukan pembangkangan.
Keahlian bukan ancaman.
Dan orang yang mengingatkan bukan selalu orang yang membenci.

Justru masyarakat membutuhkan pemimpin yang cukup kuat untuk mendengar sesuatu yang tidak ingin didengarnya.

Sebab kekuasaan yang hanya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu berkata “iya” akan segera kehilangan kemampuan membedakan antara kebenaran dan kenyamanan.

Kursi boleh meninggi. Kekuasaan boleh membesar.
Tetapi kemanusiaan jangan mengecil.

Sebab pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukan seberapa tinggi ia duduk, melainkan seberapa manusiawi ia memperlakukan orang-orang yang sudah tidak lagi ia butuhkan, dan seberapa lapang ia menerima kritik dari mereka yang tidak takut mengatakan kebenaran.

Di situlah karakter kekuasaan sebenarnya terlihat.

Surabaya, 21 September 2026
M. Isa Ansori
Dosen Psikologi Komunikasi  dan praktisi transaksional analisis

Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan, dapat memberikan hak jawabnya. Redaksi Suara Muslim akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.