Keutamaan Menyiapkan Buka untuk Orang yang Berpuasa
Ilustrasi berbagi makanan dengan orang lain. (Ils: Sasi/Dribbble)

Suaramuslim.net – Puasa adalah “Syahrul-Juud” (Bulan Kedermawanan). Di dalamnya ada aneka amalan yang menggambarkan kedermawanan, seperti: menyiapkan berbuka untuk orang berpuasa, berbagi makanan kepada orang miskin dan lain sebagainya.

Contoh konkret yang bisa diteladani dalam hal ini adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika Rasulullah adalah orang yang sangat dermawan di luar bulan Ramadhan, maka di bulan Ramadhan kedermawanan beliau bagaikan angin yang berhembus. Sabdanya:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Quran. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR Bukhari)

Dalam masalah memberi makan untuk orang berbuka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Baca Juga :  Pembatal dan Hal-Hal Mubah bagi Orang yang Beriktikaf

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi makan (buka) kepada orang yang berpuasa, maka dia mendapat seperti pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR Tirmdizi)

Dahsyat. Orang yang menyiapkan amal baik ini, selain mendapat pahala seperti pahala orang berpuasa, tapi juga tidak mengurangi pahala puasanya sedikit pun. Sebuah gambaran luar biasa yang menunjukkan karunia Allah yang begitu besar.
Para sahabatnya pun meneladani kedermawanan beliau di bulan Ramadhan. Sebagai contoh, Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam tafsirnya (1422: II/176) menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar RA tidak akan berbuka melainkan bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Ulama salaf seperti Dawud Ath-Thai, Abdul Aziz bin Sulaiman, Malik bin Dinar, Ahmad bin Hanbal dan lainnya juga meneladani kedermawan yang mulia ini.

Dengan demikian, bagi siapa saja yang mau meneladani beliau dalam bulan Ramadhan, maka salah satunya bisa dalam ranah kedermawanan. Utamanya dalam hal memberi makan untuk orang berbuka yang di Indonesia biasa dikenal dengan takjil.

Baca Juga :  Menu Buka Puasa yang Sehat Bagi Penderita Diabetes

Di Mesir –saat penulis masih menempuh studi di al-Azhar—ada tradisi unik yang bisa diambil contoh dalam menyiapkan takjil. Di setiap masjid disiapkan makanan ringan dan berat untuk berbuka puasa. Bahkan, di jalan-jalan pun pemandangan yang biasa disebut dengan “Ma`idaturrahman” (Hidangan Allah) itu juga disediakan dari yang paling bersahaja sampai dengan yang mewah.

Pada awalnya, mereka berbuka dengan kurma dan berbagai minuman khas Mesir, kemudian, dilanjutkan dengan salat berjamaah. Baru kemudian berbuka dengan makanan-makanan berat. Bagi yang ingin berbuka pun –masyaallah—bisa memilih mana saja yang menyiapkan aneka makanan berat seperti: ayam, daging dan berbagai makanan khas Mesir lainnya.

Penulis berpikir, jika kedermawanan ini mampu untuk ditularkan pada bulan-bulan yang lain –dan itu memang seyogianya bisa dilakukan–, maka sedikit-banyak bisa mengurangi angka kemiskinan. Terlebih, ketika kedermawanan itu dilakukan secara kolektif atau berjamaah sebagaimana dalam bulan Ramadhan. Bila dilihat dari jumlah umat Islam yang lebih dari 1 miliar, maka bukanlah mustahil untuk mengurangi angka kemiskinan bahkan membangkitkan ekonomi umat.

Baca Juga :  10 Nilai Kebaikan dan Hikmah Puasa yang Bisa Kita Ajar untuk Anak-Anak

Begitu identiknya bulan puasa dengan kedermawanan, sampai-sampai dalam sejarah digambarkan bahwa sosok agung sekaliber Imam Az-Zuhri ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau berujar, “Bulan Ramadhan adalah bulan untuk membaca Al Quran dan berbagi makanan.” (Ibnu Rajab, 2004: 171) Di bulan suci ini, mari bersama melejitkan kedermawanan untuk kemudian diteruskan pada bulan-bulan lainnya.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.