Kisah Ummu Mihjanah dengan Pribadi Muslim Terbaiknya
Ilustrasi masjid.

Suaramuslim.net – Allah Berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 110 sebagai berikut.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.”

‘Ikrimah dan Muqatil berkata, ”Ayat ini turun berkaitan dengan Ibnu Mas’ud, Ubai bin Ka’b, Mu’adz bin Jabal dan Salim budak Abu Hudzaifah. Ceritanya ada dua orang Yahudi, yaitu Malik bin Ash-Shaif dan Wahb bin Yahudza berkata kepada mereka, ”Sesungguhnya agama kami lebih baik daripada agama yang kalian dakwahkan kepada kami dan kami jauh lebih baik dan lebih mulia dari kalian.” Lalu Allah menurunkan ayat ini (Tafsir Al Munir, Dr Wahbah Az Zuhaili).

Dari sebab turunnya ayat ini diketahui sebagai bantahan dari pernyataan orang Yahudi yang mengatakan bahwa sahabat sahabat Nabi itu lebih rendah dari mereka. Dibantah dengan ayat itu kelebihan sahabat Nabi Muhammad dari mereka.

Baca Juga :  Larangan Putus Asa dalam Memberi Nasihat

Terlepas dari sabab nuzulnya ayat, bahwa ayat ini mengandung makna umum mencakup semua umat ini dalam setiap generasinya, dan sebaik-baik generasi mereka ialah orang-orang yang Rasulullah diutus di kalangan mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka.

Makna ayat ini sama dengan makna yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

وَكَذلِكَ جَعَلْناكُمْ أُمَّةً وَسَطاً

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan. (Al-Baqarah: 143).

So… Kita termasuk khaira ummah (umat terbaik) dengan cara mengikuti jejak kepribadian para sahabat-sahabat tersebut,  sebagai generasi pemilik pribadi muslim terbaik yang;

1. Amar makruf, yaitu selalu mengajak kepada kemakrufan (kebaikan) di tengah masyarakat.
2. Nahi munkar, yaitu mencegah potensi munculnya setiap kemungkaran, tentu dengan hal yang makruf.
3. Itu semua di atas dilandasi sebagai perintah beriman kepada Allah.

Artinya pribadi muslim yang terbaik adalah yang selalu menebarkan kebajikan. Dan karena itu semestinya pribadi muslim harus bersenyawa dengan kebaikan sekecil apa pun. Karena bisa jadi kebajikan yang besar itu bermula dari hal-hal yang kecil. Dan tidak boleh meremehkan kebaikan itu sekecil apa pun sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad;

Baca Juga :  Bagaimana Nabi Muhammad Berinfaq?

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ

Janganlah engkau meremehkan suatu kebaikan, walaupun sekadar bermuka manis ketika engkau bertemu dengan saudaramu. (HR Muslim).

Inspirasi dari Ummu Mihjan

Ada kisah yang inspiratif dari seorang sahabat perempuan berkulit hitam, sudah tua dan miskin yang namanya tidak dikenal secara jelas namun biasa disebut dengan Ummu Mihjan atau Mihjanah.

وقد روى مسلم في صحيحه هذا الموقف النبوي عن أبي هريرة رضي الله عنه: «أنَّ امرأةً سوداءَ كانت تَقُمُّ المسجدَ ( أو شابًّا ) ففقدها رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ . فسأل عنها ( أو عنه ) فقالوا : مات . قال أفلا كنتُم آذَنْتُمونى . قال : فكأنهم صَغَّروا أمرَها ( أوأمرَه ) . فقال : دُلُّوني على قبرِها فدَلُّوه . فصلَّى عليها . ثم قال إنَّ هذه القبورَ مملوءةٌ ظُلمةً على أهلِها . وإنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ يُنوِّرُها لهم بصلاتي عليهم»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang wanita berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah kehilangan dia, maka beliau bertanya tentangnya. Mereka berkata: ”Dia telah wafat.” Rasulullah berkata: ”Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata: “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele. Rasulullah bersabda: ”Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menyalatkannya lalu bersabda: “Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.”

Sumber: Al-Ishabah 8/187, Al-Muwatha 1/277, An-Nasa’i 1/9. Hadis tersebut mursal, akan tetapi maknanya sesuai dengan hadis yang setelahnya yang bersambung dengan riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

Baca Juga :  Beginilah Pemberdayaan Masjid Saat Nabi di Makkah

Ada pelajaran dari kisah tersebut:

1. Apa pun kedudukan sesorang dalam strata sosial, selama melakukan kebajikan yang diridai Allah sekecil apa pun harus dihargai.

2. Wanita di zaman Nabi tidak harus selalu berada di rumah saja. Mereka juga bersosialisasi, bekerja di ruang publik, dan berkhidmat untuk agamanya, meskipun melalui perbuatan kecil seperti mengurus masjid.

Karena terkadang mengajak kemakrufan (seperti sifat khaira ummah) itu efektif dengan cara bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

3. Penghormatan Nabi kepada Ummu Mihjan yang berkulit hitam, memberikan pelajaran kesamaan beramal saleh di mata Allah.

4. Siapa pun yang disalati Nabi, akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Dan siapa pun yang disalati Nabi pasti orang itu memang mulia dalam pandangan Nabi Muhammad. Sekalipun hanya tukang sapu masjid.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.