Susila (50) tahun, seorang istri yang ditinggal suaminya wafat ketika melakukan thawaf ifadhoh, foto: Humas PPIH Surabaya

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Memasuki hall Mina Debarkasi Surabaya, Rabu (28/9) pukul 10.15 WIB, ingatan Susila (50 tahun) memutar kembali rekaman kenangan saat ia dan suaminya memasuki hall yang sama saat awal pemberangkatan ibadah haji 40 hari lalu.

Saat itu, wanita yang tergabung dalam kloter SUB 33 ini turun dari bus digandeng suami tercinta, Rikan Adjir Kadiran menuju hall untuk mengikuti beberapa proses pemeriksaan.

Kini sang suami tercinta telah tiada. Dengan langkah gontai, Susila memasuki hall didampingi teman satu rombongannya.

Ibu tiga anak ini tak pernah menyangka suaminya akan meninggal dunia tepat di hari ulang tahunnya. 14 Agustus 2019 merupakan hari ulang tahun Rikan Adjir Kadiran yang ke-52 tahun.

Namun Allah berkehendak lain dan lebih menyayanginya. Tanggal kelahirannya menjadi tanggal kematian bagi kakek 2 cucu dari Dusun Bareng RT 2 RW 1 Dukuh Gondang Tulung Agung ini.

Sambil menyeka air mata yang terus mengalir, Susila mengenang kebersamaan dirinya bersama suami tercinta selama di Arab Saudi.

Selama di sana, tutur Susila belahan hatinya ini selalu memanjakan dirinya. Ia pun selalu bergandengan tangan selama menjalani proses ibadah haji di tanah suci.

“Saya selalu dimanja selama di sana, digandeng terus, bapak sangat sayang sekali sama saya,” ucap Susila lirih terisak.

Tak ada firasat maupun pesan apa pun yang dirasakan Susila terhadap suaminya, bahkan kondisi suaminya sangat sehat.

Usai melakukan thawaf ifadhoh, terang Susila, ia bersama suaminya berjalan kaki menuju maktab. Ketika keluar dari lift lantai 9, tiba-tiba suaminya terjatuh dan pingsan. Tim kesehatan lantas membawanya ke kamar dan memeriksa kondisi kesehatan bos selep padi ini. Tak lama setelah itu, ia dinyatakan telah meninggal dunia.

“Padahal di dalam lift, kita dengan teman rombongan yang lain saling guyon dan bercanda. Keluar lift, langsung jatuh, setelah itu beliau meninggal,” ucapnya.

Susila menambahkan, selama di tanah suci suaminya sering memberikan bantuan kepada orang lanjut usia.

“Bapak suka menolong orang di sana, yang tua tua ditolong. Ternyata Bapak sendiri yang diambil,” isaknya.

Susila pun mengikhlaskan kepergian suaminya. Ia yakin suaminya meninggal dalam keadaan khusnul khatimah dan dimakamkan di tanah haram, di pemakaman Sharayee.

Sepulang dari ibadah haji, Susila akan meneruskan usaha selep padi suaminya dan membesarkan anak-anaknya, yang diantaranya ada yang masih kelas VII SMP.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.