Locus of Control Internal vs Eksternal

Suaramuslim.net – Sebagian besar orang percaya, bahwa kesuksesan atau kegagalan hidupnya adalah tergantung atas usahanya sendiri. Sedang sebagian yang lain lebih percaya bahwa apa yang terjadi adalah karena sudah suratan takdirnya. Tipe pertama adalah orang yang yakin bahwa pusat kendali hidupnya adalah dirinya sendiri (internal locus of control); adapun tipe kedua adalah orang yang yakin bahwa kendali hidupnya adalah pada faktor eksternal (external locus of control) (Robbins, 2009; Joelson, 2017).

Dalam konteks agama, kedua tipe tersebut dikenal dengan kelompok Qodariyah dan Jabariyah. Dengan demikian kelompok Qodariyah memiliki internal locus of control, bahwa apakah seseorang sukses atau tidaknya, masuk surga ataupun neraka itu adalah karena dia sendiri yang menentukan. Sedangkan kelompok Jabariyah memiliki external locus of control.

Jabariyah berasal dari kata jabr yang artinya paksaan, bahwa manusia terpaksa harus menjalani takdir hidupnya. Tokoh utama dari perspektif ini adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Dalam pandangan ini manusia adalah lemah, tidak berdaya, seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak terlepas dari skenario dan kehendak Allah SWT (Asyhari, 2016).

Termasuk tipe manakah Anda?

Bagaimana hidup yang sebenarnya?

Mana yang paling benar dari kedua perspektif tersebut, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Terutama bila hanya sekedar berdebat dengan menggunakan rasionalitas manusia yang sifatnya terbatas. Bila dicari dari kitab suci Al Quran dan hadis, ternyata kedua perspektif tersebut memiliki dukungan yang kuat.

Baca Juga :  Hubungan Iman dengan Sunnatullah

Untuk internal locus of control, terdapat dukungan dari QS Ar Ra’d: 11. Dalam ayat tersebut terlihat bahwa manusia sendirilah yang harus berusaha untuk perubahan dirinya.

“..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.(QS Ar Ra’d: 11)

Adapun untuk external locus of control, terdapat beberapa ayat yang menunjukkan peran Tuhan dalam perilaku kita dan juga hadits shahih yang menjelaskan bahwa segala hal tentang manusia telah dituliskan dengan jelas masalah rezeki, ajal, amal, dan kecelakaan/kebahagiaannya, ketika ruh janin berumur 40 hari.

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. (QS. Ash-Shafaat: 96)

Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Insan: 30)

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. berkata : Rasulullah saw. menyampaikan kepada kami: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rezekinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya.(HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga :  Nandur Pari Tukul Suket Teki

Bila masing-masing perspektif ada dukungannya, apakah memang ada pertentangan antara ayat-ayat Alqur’an dan hadits, mengingat kedua pendapat bertolak belakang?

Tidak mungkin ada pertentangan antara ayat Al Quran dengan ayat yang lain dan juga dengan hadis. QS. Ar Ra’d: 11 yang saya munculkan, walaupun sering dikutip banyak pihak, belum berisi keseluruhan ayat. Bila kita baca keseluruhan ayat, maka ternyata tersirat bahwa kedua perspektif tersebut benar. Bagaimana mungkin? Mari kita baca dulu ayat tersebut secara utuh:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(QS Ar Ra’d: 11)

Terlihat dalam ayat tersebut bahwa manusia dapat mengubah nasibnya, namun Allah SWT juga Maha Berkehendak terhadap segala sesuatu, yang tidak dapat ditolak oleh makhluknya. Dengan demikian, dalam perspektif tertentu, kita akan melihat bahwa kedua perspektif adalah benar dan tidak saling bertentangan.

Bagaimana hal itu dapat dijelaskan?

Salah satu analogi yang menarik akan saya ambilkan dari sebuah novel horor untuk remaja yang sangat terkenal yakni Goosebumps. Dalam “Seri Petualangan Maut”, pembaca diberikan keleluasaan menentukan jalan ceritanya sendiri. Bahkan dikatakan dalam satu cerita terdapat 20 alur cerita yang berbeda, tergantung pilihan pembaca. Pembaca dapat memilih, ketika menghadapi sesuatu apakah akan memilih cara A ataukah cara B. Pilihan yang berbeda akan berdampak pada halaman yang dibaca menjadi berbeda.

Baca Juga :  Memaknai Waktu di Pusaran Takdir

Seperti itulah hidup kita, pembuat cerita di novel tersebut (R.L. Stine) telah menuliskan semua alur cerita jauh sebelum dibaca pembacanya. Penulis novel tahu hal-hal baik dan buruk dari semua pilihan pembacanya. Pilihan yang salah dapat berdampak pada kesialan pelakunya (tragic ending), sedang pilihan yang benar akan memberikan akhir yang bahagia (happy ending).

Tuhan telah menuliskan semua alur cerita kehidupan bagi diri kita, namun semua tergantung pada pilihan kita apakah mengambil keputusan yang salah atau benar. Semuanya tergantung pilihan hati dan pikir kita untuk mengambil keputusan berperilaku. Dengan demikian apakah kita masuk surga ataupun neraka, bukanlah karena kehendak Tuhan, namun kitalah yang melakukan pilihan hidupnya. Dan semakin banyak pengalaman dan pengetahuan kita, maka semakin banyak pilihan yang dapat kita lihat dan kita pilih.

Dengan demikian, posisi locus of control baik internal maupun eksternal adalah sama benarnya. Ada pilihan jalan cerita yang sudah digariskan oleh Sang Pembuat Cerita Hidup, namun tergantung kita sebagai pelaku cerita untuk membuat pilihan jalan cerita yang akan dijalaninya.

Semoga kita dimampukan untuk memilih jalan yang baik dan benar. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here