Malu: Tinggi-Rendahnya Peradaban

Malu: Tinggi-Rendahnya Peradaban

Rasa Malu Hilang, Maksiat Akan Datang
Ilustrasi anak menutup muka karena malu.

Suaramuslim.net – Malu merupakan salah satu indikator tinggi-rendahnya sebuah peradaban. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa malu merupakan penggerak tersebarnya kebaikan atau keburukan.

Ketika sebuah komunitas memiliki tradisi malu yang kuat, maka akan tersebar kebaikan. Sebaliknya, ketika masyarakat membuang rasa malu, maka tersebarlah kerusakan.

Kadar malu yang tinggi mendorong anggota masyarakat untuk berbuat baik, sehingga tersebar karya-karya kebaikan. Sebaliknya, suatu negara hancur, karena masyarakatnya bebas melakukan apa saja tanpa kontrol, karena hilangnya rasa malu. Situasi ini mendorong tersebar kejahatan dan kerusakan di tengah masyarakat.

Malu: Dorongan Kebaikan

Baik tidaknya tatanan masyarakat sangat ditentukan oleh kuat dan lemahnya tradisi malu. Ketika anggota masyarakat memiliki rasa malu, mereka terdorong untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat dan menjauhkan diri dari tindakan tercela.

Masyarakat yang hidup bersih, karena malu dikatakan jorok dan kotor. Masyarakat yang menegakkan disiplin, malu bila tercatat sebagai bangsa yang malas. Tingginya trust (saling percaya) di antara anggota masyarakat karena malu jika dikatakan saling curiga.

Demikian teguhnya masyarakat dalam memagang amanah, karena malu disebut sebagai bangsa yang khianat. Tegaknya keadilan dan penghormatan yang tinggi terhadap hukum, karena malu bila disebut sebagai bangsa bar bar.

Sebaliknya tidak sedikit masyarakat yang terjerembab dalam lingkungan yang kotor, gaduh-ricuh dan saling konflik, dan banyaknya penindasan-kezaliman tidak lain disebabkan oleh hilangnya rasa malu, sehingga mereka berbuat apa saja sesuai dengan kehendak masing-masing.

Situasi seperti inilah yang pernah disampaikan oleh Nabi dengan perkataan yang mulia: “Sebuah perkataan yang masyhur (populer) di kalangan para nabi terdahulu, apabila kalian tidak memiliki sifat malu, maka berbuatlah sesukamu.” (Al-Bukhari).

Hilangnya rasa malu tidak lain karena tak sadar dampak buruk perbuatannya. Mereka tidak lagi takut dicela ketika berbuat buruk. Kebiasaan berbohong, menipu, berkata kotor kepada orang lain, dipandang sebagai hal biasa. Situasi seperti inilah yang membuat peradaban masyarakat itu rendah.

Kalau Ibnu Hajar Al-Asqalani pernah mengatakan bahwa sifat malu adalah akhlak menjadikan pemiliknya menjauhkan dari segala keburukan, maka masyarakat yang tak memiliki rasa malu, perbuatan buruk mudah terjadi secara massif.

Ketika di antara warga masyarakat membiarkan anggota masyarakat yang lain berjudi, miras, atau berzina tanpa merasa rasa takut akan dampak sosialnya, maka di sanalah hancurnya sebuah peradaban.

Pernyataan Nabi yang menyatakan “Apabila kalian tidak memiliki sifat malu, maka berbuatlah sesukamu” merupakan sebuah narasi adanya perintah untuk berbuat baik. Dan pernyataan ini bukan perintah melakukan tindakan berperadaban rendah atau perbuatan tercela.

Kalau Allah menyatakan: “Kalau kalian menyembah kepada selain Allah, maka lakukanlah,” menunjukkan larangan untuk menyembah kepada selain Allah. Dan di dalam perkataan ini mengandung ancaman akan datangnya keburukan.

Bila manusia tetap melakukan perbuatan ini (menyembah kepada selain Allah), maka ini sebagai kabar bahwa ketika seseorang tak punya malu, sehingga menyembah kepada selain Allah, maka dia termasuk kategori manusia yang berbuat kejahatan. Dikatakan kejahatan, karena lupa atas kebaikan Allah yang demikian banyak pada dirinya.

Demikian pula ketika seorang pasangan laki-laki dan perempuan tidak lagi malu berbuat zina, maka mereka berbuat apa saja tanpa peduli terhadap dampak perbuatannya. Mereka bukan hanya berbuat buruk tetapi memberi contoh kepada orang lain untuk berbuat hal yang sama.

Belajar Malu

Malu yang menggerakkan berbuat baik, bisa jadi diperoleh karena bawaan sejak dari lahir. Pembawaan sejak lahir ini merupakan pemberian Allah dan bisa dianggap sebagai potensi yang kuat untuk mendorong seseorang senantiasa berbuat baik.

Namun ada malu yang terbentuk dan diperoleh dengan belajar. Dengan belajar, seorang hamba akan mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui perilaku hamba-Nya.

Hal ini mendorong seseorang berbuat baik, dan malu bila berbuat buruk. Ketika seseorang mengetahui sifat-sifat Allah Maha Mendengar Maha Melihat, maka mendorong seseorang berhati-hati dalam tindakannya karena merasa diawasi dan dilihat Allah.

Menurut Syaikh Utsaimin mengatakan bahwa sifat malu bisa terbentuk karena dua hal.

Pertama, malu kepada Allah. Ini mendorong seseorang untuk berbuat maksimal. Orang yang belum khusyu’ dalam beribadah, maka dia berusaha khusyu’, dan malu bila lalai ketika beribadah.

Kedua, malu dari pandangan manusia. Tidak sedikit manusia yang menjauhi perbuatan buruk karena malu bila dilihat manusia.

Dengan malu yang melekat pada dirinya, maka seseorang tertahan mencuri, berbohong, atau curang. Dengan demikian, sikapnya terkontrol dan akan tersebar berbagai kebaikan.

Undang-undang yang mengatur dan melarang perbuatan buruk menjadikan dirinya menahan diri dari perbuatan nista dan hina. Ketika sebagian besar anggota masyarakat menahan diri dari perbuatan nista dan hina, maka seluruh anggota masyarakat akan tenang dan tenteram karena terhindar dari ancaman.

Malu terhadap berbuat rusak ini jelas menjadi impian masyarakat manapun. Oleh karena itu, tersebarnya rasa malu, bukan hanya membawa kebaikan, tetapi akan menciptakan peradaban yang tinggi. Sebaliknya ketika hilang rasa malu, akan menghancurkan peradaban masyarakat.

Surabaya, 24 Maret 2021

 

Dr. Slamet Muliono Redjosari
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

 

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment