Management by Heart (6) “Level of Leadership”
Ilustrasi Prof. Joni Hermana. (Ils: Suaramuslim.net/Rian Oktanto)

Suaramuslim.net – Lirik lagu anak jadul “Kasih Ibu” yang dikutip di atas mungkin cocok untuk menggambarkan bagaimana langkah kita sebagai pimpinan organisasi jika ingin menerapkan Management by Heart (MbH).

Sebelumnya, saya telah mengulas bahwa untuk mengasah kemampuan visioner diri, perlu mengintensifkan hubungan ruhaniah kita dengan Sang Pencipta dengan cara mendirikan salat dan bersabar. Bersabar di sini maknanya luas, dalam konteks ini bisa juga berarti kita tanpa lelah harus terus berusaha dan mencoba untuk mendekatkan diri kita pada Allah SWT agar kita mendapat petunjuk-Nya.

Dalam kesempatan kali ini saya ingin mengulas sifat dari seorang ibu yang selalu memberi kepada anaknya, dengan ikhlas dan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Hal ini sesuai dengan konsep MbH, karena merupakan cerminan dari prinsip yang diajarkan oleh Tuhan, yaitu dalam melayani siapa pun, apalagi rekan dan bawahan, kita harus berusaha memberi yang terbaik dan tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Selama ini, dalam manajemen “modern” justru pimpinan yang biasanya dilayani oleh bawahan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Pimpinan tinggal perintah, bawahan melaksanakan, lalu proses dan hasilnya dimonitoring dan dievaluasi. Hubungannya sangat hierarkis dan inter-subjektif, sehingga ujungnya selalu berakhir pada reward dan punishment.

Padahal dalam MbH, karena keyakinannya bahwa yang menggerakkan fisik seseorang adalah ruhaninya, dan ruh tunduk kepada Penciptanya, maka sebetulnya tidak perlu memaksa atau memerintah bawahan untuk mengerjakan sesuatu yang kita inginkan. Tetapi sentuhlah ruhnya, maka ia akan bekerja bahkan dengan kinerja yang jauh lebih baik dari yang kita harapkan (beyond our expectation), sebab semua atas inisiatif dirinya sendiri yang digerakkan atau diberi petunjuk oleh Tuhan.

Baca Juga :  Management by Heart (5): “Be Positive”

Bagaimana Caranya?

Kuncinya kerjakan apa yang diamanahkan kepada kita dengan ikhlas, artinya “hanya memberi tak harap kembali.” Jangan pernah berharap mendapat imbalan apapun dari orang atau siapa pun yang kita layani. Atau jangan pernah bekerja karena semata berharap akan mendapat kedudukan, penghasilan atau mungkin status. Berharaplah imbalan hanya dari Tuhan Yang Menciptakan kita saja, tidak yang lain. Let Him to do the rest for us. He knows the best.

Beberapa Contoh Praktiknya:

  1. Ketika kita mengerjakan tugas kantor, kita akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab dan dengan hasil terbaik yang bisa dilakukan dengan sungguh-sungguh. Baik ada atau tidak ada orang yang melihat atau mengawasi. Ini yang disebut berintegritas, atau dalam bahasa ibadahnya, ihsan.
  1. Ketika menyelesaikan persoalan orang lain, apalagi yang berada dalam kewenangan kita, maka kita akan berusaha membantunya dengan menyederhanakan masalahnya yang rumit, memudahkan masalah yang sulit, bukan sebaliknya. Sabda Rasulullah SAW: ”Yassiruu wa laa tu’assiruu, basysyiruu wa laa tunaffiruu” (permudahlah, jangan dipersulit, berilah kabar gembira jangan ditakut-takuti).
  1. Ketika dimintai tolong, maka kita tidak akan segan untuk membantunya sesuai dengan kemampuan terbaik yang kita miliki.
  1. Ketika mempunyai informasi, knowledge atau pengetahuan baru, kita tidak segan-segan membagikannya kepada yang lain. Karena berkeyakinan bahwa cara belajar yang terbaik adalah dengan cara mengajarkannya pada orang lain. Pengetahuan tidak akan hilang karena dibagikan, justru malah akan bertambah dan terus bertambah.
  1. Ketika orang lain mempunyai masalah, dan tidak bisa membantunya secara langsung, kita akan berempati, bahkan turut mendoakan yang terbaik agar orang tersebut mendapatkan solusi terbaik.
Baca Juga :  Kebangkitan Umat Harus Dimulai Dengan Perjuangan Ekonomi

Pendeknya melakukan apa saja untuk memberi yang terbaik dari diri kita untuk orang-orang di lingkungan sekitar. Ini adalah bagian dari prinsip MbH. Dan jika kita melakukan semua hal di atas dengan hati yang bersih, maka akan mendapatkan balasan luar biasa yang tidak berkesudahan dari-Nya, serta dengan cara yang tidak diduga, atau dalam bahasa Al Quran-nya: “falahum ajrun ghayru mamnuun” (maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya).

Mau coba?

Surabaya, 25/06/2019

Joni Hermana
Rektor ITS 2015-2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here