Management by Heart (6) “Level of Leadership”
Ilustrasi Prof. Joni Hermana. (Ils: Suaramuslim.net/Rian Oktanto)

Suaramuslim.net – Umumnya orang mencampuradukkan antara pemimpin dan pimpinan. Sebab keduanya punya arti yang berbeda. Pemimpin bukan lah sebuah jabatan, namun lebih dekat kepada sebuah ‘pengakuan’ formal ataupun informal yang disematkan pada seseorang atas kemampuannya memengaruhi orang lain dalam lingkungan organisasinya sehingga mereka mau mengikuti, atau bahkan patuh terhadap gagasan yang disampaikannya.

Sementara pimpinan adalah jabatan formal yang melekat pada seseorang karena ia ditetapkan secara hukum untuk menjadi pemegang otoritas dan sekaligus penentu kebijakan organisasi, mungkin dalam istilah masa kini, “pemimpin dengan SK.”

Walaupun begitu, keduanya, baik pemimpin maupun pimpinan, mempunyai kesamaan, yaitu setiap individunya sama-sama memiliki karakter kepemimpinan (leadership) yang melekat pada diri mereka masing-masing sebagai sebuah kapasitas dalam ‘memimpin’ dirinya sendiri (minimal) maupun orang lain.

Jadi artinya, baik mereka yang jadi pimpinan maupun yang dipimpin dalam sebuah organisasi, semuanya mempunyai karakter leadership di dalam dirinya. Tugas kita sebagai pimpinan adalah harus mampu mengenali karakteristik leadership pada setiap kolega maupun seluruh bawahan yang kita pimpin agar organisasi dapat berjalan dengan maksimal sesuai dengan kapasitas sumber daya yang dimiliki.

Hal ini bisa terjadi karena kita sebagai pimpinan mampu memilih dan memilah mana staf/bawahan kita yang mempunyai karakter leadership sehingga dapat diberdayakan, serta mana staf yang tidak bisa, karenanya mungkin cukup maksimal ditugasi pendelegasian saja.

McNamara dari Banff Executives Canada menyatakan bahwa setiap manusia itu mempunyai kompetensi leadership yang dapat dikelompokkan pada 4 kerangka yang berbeda. Adapun masing-masing kerangka kompetensi kepemimpinan (leadership competency frame) pada setiap individu adalah:

Baca Juga :  Manajemen Hati: Forgive but not Forget

Kerangka A

Adalah mereka yang dari sikapnya saat berurusan dengan orang lain cenderung selalu memaksakan kehendaknya. Kalau posisinya dia sebagai pimpinan, maka ia selalu memaksakan pendapatnya, bahwa pendapatnya-lah yang benar dan yang harus diikut. Dia seperti seorang diktator atau bersikap otoriter.

Sementara kalau dia berposisi sebagai staf atau yang dipimpin, dia bersikap “what’s it in for me” (WIIFM). Dia akan mau bergerak melaksanakan sesuatu hanya jika ada atau tidaknya interes bagi dirinya. Kalau pegawai, biasanya dia mau kalau ada SK-nya, ada kejelasannya imbalan atau insentifnya, atau ada rewards-nya dan sejenisnya.

Kerangka B

Adalah potensi kepemimpinan pada diri seseorang yang karakternya mendengar kebutuhan dan kemudian baru memberi solusi atau tindakan. Pimpinan dengan kerangka B ini dalam sikap maturitasnya termasuk yang ‘tradisional’, karena melakukan sesuatu dengan pendekatan “sebab-akibat,” sehingga jika kita menjadi anak buahnya, kita harus selalu aktif menyampaikan kepadanya tentang masalah atau kebutuhan organisasi agar dia dapat kemudian memberi solusinya.

Sementara jika staf kita lah yang mempunyai kepemimpinan kerangka B, maka dia cenderung akan melakukan sesuatu kalau diperintah atau ada sebab yang membuat dia tergerak untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang ada. Namun jika dibandingkan dengan staf Kerangka A di atas, staf Kerangka B ini lebih berkesadaran terhadap internal unit/departemennya dan bukan berorientasi kepada pribadinya semata.

Baca Juga :  Menggagas Kepemimpinan Yang Berkelanjutan

Kerangka C

Ialah bagi mereka yang bersikap lebih proaktif dalam membangun relasi dan memecahkan masalah saat berinteraksi dengan orang lain. Dia mempunyai ‘self initiative’ yang membuatnya secara aktif mampu menggerakkan tim atau orang di sekitarnya, bahkan antar departemen. Karena itu dia disebut juga sebagai “system thinker.”

Sebagai pimpinan, karakter Kerangka C ini akan selalu membangun relasi dengan berusaha menganalisis apa saja yang menjadi kebutuhan mitra, stakeholders maupun organisasinya serta berusaha mencarikan solusinya. Sebagai staf, karakter Kerangka C ini akan membuat pimpinan merasa nyaman karena banyak masukan dan gagasan yang dia berikan. Bahkan tidak sekadar gagasan, dia sendiri mampu mengusulkan solusi untuk penyelesaiannya.

Kerangka D

Yaitu para individu yang saat berinteraksi dengan orang atau pihak lain, tidak saja mampu secara proaktif mengusulkan solusi bagi kebutuhan mitranya, tetapi juga piawai mengintegrasikan kebutuhan organisasinya dengan organisasi mitranya sehingga fokus dalam mencapai tujuan strategis bersama. Win-win approach, yang membuatnya disebut sebagai seorang “network thinker.”

Seorang pimpinan yang mempunyai karakter kepimpinan Kerangka D ini akan mampu bekerja efektif lintas organisasi bahkan dalam skala global sekalipun melalui konektivitas jejaringnya. Sangat sesuai memimpin organisasi dalam era Industrial Revolution 4.0. Kita juga akan banyak terbantu jika mempunyai staf dengan Kerangka D ini karena dia mampu menyatukan kebutuhan atasannya, maupun mitra yang bekerja sama dengan atasannya.

Baca Juga :  Management by Heart (8): “Responsibilitas dan Akuntabilitas”

Dengan level leadership berbeda-beda untuk setiap individu yang bekerja dalam lingkungan internal organisasi kita, maka menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pimpinan untuk mengidentifikasi kompetensi masing-masing bawahannya agar tidak salah dalam membagi tugas dan membagi otoritas yang dia miliki. Contohnya, bagi bawahan yang mempunyai kerangka A dan B, maka pimpinan disarankan cukup menugasinya sampai level ‘mendelegasikan’ saja. Sedangkan untuk bawahan yang mempunyai kerangka C dan D, maka kita sebagai pimpinan bisa menugasinya sampai dengan level ‘memberdayakan’ (empowering).

Sekadar diketahui, saat mendelegasikan, kita hanya menugasi bawahan terbatas pada lingkup pekerjaan yang jelas terukur (cenderung teknis), karena itu hal ini cocok untuk mereka yang mempunyai Kerangka A atau B. Sedangkan aspek pekerjaan yang bersentuhan kebijakan atau membuat keputusan, ini hanya dapat diberikan kepada bawahan yang lebih berdaya (empowered). Artinya dia memiliki wisdom dalam membuat keputusan atau kebijakan yang sesuai dengan arah misi dan visi organisasi. Mereka ini biasanya yang mempunyai Kerangka C atau D.

Jadi kenali karakter kepemimpinan orang-orang yang bekerja dalam lingkungan kita, terutama kalau diamanahi sebagai pimpinan. Semua ini semata agar kita mampu maksimal dalam memanfaatkan sumber daya manusia yang kita miliki. Silakan mulai amati bagaimana karakter kepemimpinan orang-orang yang menjadi teman kerja kita.

Surabaya, 27/06/2019

Joni Hermana
Rektor ITS 2015-2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here