Management by Heart (6) “Level of Leadership”
Ilustrasi Prof. Joni Hermana. (Ils: Suaramuslim.net/Rian Oktanto)

Suaramuslim.net – Responsibilitas dan akuntabilitas adalah dua istilah yang selalu kita dengar dalam sebuah organisasi. Namun saya mengamati, banyak pimpinan yang tidak benar-benar memahami makna keduanya, terutama mempraktikkannya dalam aktivitas keseharian organisasinya.

Responsibilitas seorang pimpinan diukur dari sejauh mana dia mampu menjalankan amanah, atau kewajiban yang dibebankan pada dirinya sesuai dengan capaian kinerja yang diharapkan. Artinya dia bertanggung jawab (responsible) terhadap apapun yang menjadi tugas dan kewajiban yang dibebankan kepada dirinya sebagai seorang pimpinan.

Sementara itu, makna akuntabilitas lebih diartikan sebagai sejauh mana seorang pimpinan mampu memenuhi komitmen atau janji yang dibuatnya sendiri kepada mereka yang dipimpinnya atau publik yang dilayaninya. Artinya apabila seorang pimpinan berhasil melaksanakan komitmen sesuai dengan yang dijanjikannya, berarti ia seorang yang akuntabel (tanggung-gugat).

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa yang disebut responsibilitas adalah berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menjalankan amanah atau tugas yang diberikan, sementara akuntabilitas berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam memenuhi janjinya berupa kebijakan yang dibuatnya. Seseorang yang selalu mencederai janji atau komitmennya sendiri, berarti ia adalah seorang yang tidak akuntabel.

Sekarang saya ingin mengaitkan hal di atas dengan topik yang sudah dibahas pada seri tulisan ke 7, yaitu tentang output dan outcome.

Program kerja dalam sebuah organisasi adalah pada dasarnya merupakan rangkaian perencanaan aktivitas yang akan diimplementasi untuk tujuan organisasi. Perencanaan program kerja ini disusun berdasarkan dua hal, yaitu: 1) apa yang menjadi kewajiban organisasi, dan 2) apa yang menjadi keinginan dari organisasi tersebut.

Baca Juga :  Management by Heart (9): “Understanding Our Work”

Hal pertama merupakan amanah yang melekat dan menjadi kewajiban, misalnya seperti ITS sebagai PTN maka mempunyai kewajiban mendidik sekian banyak mahasiswa, dengan kriteria kualitas yang baku dan harus sekian persen tepat waktu.

Sedangkan contoh hal kedua berupa perencanaan yang lahir dari kebijakan/cita-cita organisasi, misalnya ITS harus menjadi pelopor dalam inovasi teknologi di antara PTN terkemuka lainnya. Ini secara tidak langsung merupakan ‘janji’ pimpinan kepada para stakeholders yang harus dipenuhi agar ia termasuk pimpinan yang akuntabel.

Perencanaan program aktivitas yang disusun berdasarkan amanah atau kewajiban organisasi ini, umumnya luarannya berupa output. Sedangkan untuk mencapai luaran yang lebih berhasil-guna, maka masih diperlukan kebijakan atau wisdom pimpinan, agar dapat memaksimalkan output yang dihasilkan untuk mencapai outcome yang diharapkan.

Jika menggunakan analogi spiritual, seorang pimpinan yang menjalankan program kerja hanya berbasis pada output, atau sesuatu yang diwajibkan saja, itu sama dengan seseorang yang beribadah hanya sampai menjalankan amalan syariah saja. Sudah cukup, tapi belum terlalu cukup untuk mencapai taraf aktualisasi diri sebagai pimpinan yang juga mengusahakan apa yang menjadi cita-cita ‘beyond’ kewajiban itu semata sehingga organisasinya hidup lebih dinamis, penuh terobosan dan gagasan dari seluruh anggotanya.

Baca Juga :  Management by Heart (2): “Kita, Bukan Aku-Kamu”

Jika sudah level seperti ini, ibaratnya sama dengan orang yang beribadah dengan rasa cinta kepada agama dan sang Penciptanya. Artinya ia berorientasi dalam mewujudkan outcome bagi organisasinya.

Apakah ada level yang lebih tinggi lagi? Ada, yaitu apabila pimpinan berusaha untuk tidak sekadar memenuhi target outcome yang basisnya adalah mewujudkan kesejahteraan internal organisasi, tetapi dalam kiprahnya dia juga memikirkan asas kebermanfaatan bagi yang lain. Tidak sekadar memajukan organisasinya sendiri, tetapi juga organisasi lainnya, masyarakat sekitar, bahkan dalam skala lebih besar bangsanya. Ini level pimpinan yang berorientasi pada impact dari organisasinya.

Secara spiritual, pimpinan seperti ini berada pada level mereka yang beribadah sebagai wujud rasa syukur. Jadi tidak hanya sekadar cinta, tetapi juga mensyukuri nikmat, sehingga orientasinya lebih mengarah kepada berusaha membangun kebermanfaatan bagi orang lain atas rasa syukurnya itu.

Dalam praktik sehari-hari, kalau ada pimpinan yang selalu mengejar-ngejar bawahannya dalam melaksanakan program kerja dengan fokus pada efisiensi, berarti kita sedang berurusan dengan pimpinan level 1, yaitu orientasinya pada output.

Jika kita mempunyai pimpinan yang selalu fokus pada outcome, maka ia akan selalu berbicara sejauh mana investasi (output) yang sudah ditanamkan dapat meningkatkan produktivitas organisasinya, maka berarti termasuk pimpinan level 2, artinya dia concern terhadap efektivitas.

Baca Juga :  Kebangkitan Umat Harus Dimulai Dengan Perjuangan Ekonomi

Sedangkan level pimpinan tertinggi yaitu level 3, fokusnya lebih mengarah kepada sejauh mana peningkatan produktivitas organisasinya mampu memberi kebermanfaatan dan kemaslahatan pada masyarakat dan bangsanya. Maka sesungguhnya iya seorang pimpinan yang fokus pada sustainabilitas organisasinya.

Ketiga level pimpinan di atas apabila dikaitkan dengan judul bahasan tulisan seri 8 ini adalah; pimpinan level 1 adalah mereka yang baru memenuhi makna responsibilitas sedangkan level 2 dan 3 adalah mereka yang sudah berada dalam maqam makna akuntabilitas.

Surabaya, 2 Juli 2019

Joni Hermana
Rektor ITS 2015-2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here