Korban Gempa Lombok (Foto: Dok. Istimewa)

Suaramuslim.net – Gempa Lombok yang memporak-porandakan rumah dan fasilitas umum serta menelan korban jiwa, serasa memekakkan rasa dan memilukan duka. Gempa Lombok ternyata masih menjadi penanda bahwa masih ada ke Indonesiaan kita.

Apa yang mencirikan ke Indonesiaan itu, diantaranya gotong royong dan saling tolong menolong. Tanpa diminta dan dikomando, bencana Lombok telah memanggil rasa ke Indonesiaan masyarakat, mereka berjibaku bersama maut, menerobos puing-puing gempa hanya ada satu yang ada didalam pikiran mereka, membantu dan menyelamatkan mereka. Sementara yang lain mengumpulkan logistik untuk membantu kebutuhan yang diperlukan.

Menarik ketika membaca pernyataan pemerintah kota Surabaya melalui Tri Rismaharini, walikota Surabaya, bahwa dari pelajar Surabaya akan terbangun satu gedung sekolah di Lombok. Ini menyiratkan ada perasaan yang sama yang terbangun sebagai perasaan kemanusiaan dan ke-Indonesiaan.

Hal lain yang tak kalah menariknya adalah FPI dari seluruh Indonesia dikerahkan untuk membantu saudaranya sebangsa di Lombok yang mengalami gempa. FPI menunjukkan jati dirinya sebagai organisasi yang peduli kepada Indonesia, ini mengingatkan saya di Tahun 2005, ketika terjadi Tsunami di Banda. Aceh, FPI menjadi sangat terdepan dalam garis perjuangan kemanusiaan.

Baca Juga :  Antara Kebutuhan Politik dan Kemanusiaan

Belum lagi kemarin juga dalam sebuah media online disebutkan lembaga lembaga penghimpun dana ummat, berjibaku tidak hanya mengirimkan relawannya, tapi juga mengirimkan ambulance dan logistik untuk pertolongan pertama dan pembangunan sarana prasaranya. Gempa Lombok membangkitkan rasa ke Indonesiaan kita.

Senyampang rakyat berjibaku tolong menolong menyelamatkan saudaranya yang tertimpa musibah, elit politik Jakarta dan sekitarnya lebih sibuk mengurus dirinya dengan isu calon presiden dan wakil presiden, tak ada sedikitpun ucapan belasungkawa dan penetapan sebagai bencana nasional. Gundah terasa miris menyayat, rakyat bergelimpangan menjadi korban, sementara elit begitu pelit perhatian terhadap rakyatnya.

Semakin sadar akal sehat saya, bahwa tak ada lagi Indonesia di elit dan para petualang serta pecundang politik. Mereka hanya menyemai hawa nafsu, ego yang tak bermoral, meminjam istilah bagawan Sastra Prof Budi Darma bahwa mereka adalah sekumpulan manusia yang mempunyai karakter tanpa persona. Mereka diibaratkan seperti pemain sepak bola yang berposisi sebagai bek kanan, yang hanya memakai sepatu sebelah kanan, sementara yang kiri dibiarkan telanjang, begitu juga sebaliknya.

Baca Juga :  Sikap Kita Terhadap Uighur, Minoritas Muslim di Ladang Minyak Cina

Manusai berkarakter tanpa persona Yaitu mereka para tokoh politik dan petualang serta pecundang yang selalu merasa dirinya paling hebat, mereka menyerang kelompok lain dengan cara membabi buta, ucapannya selalu panas dan cenderung memecah belah persatuan. Mereka ini adalah sekelompok manusia yang ingin tampil dipanggung atau juga frustasi karena kapasitasnya tak mencukupi memenuhi ambisinya.

Semoga saja kita dimasukkan kepada orang orang yang sadar dan bisa menjadi hati nurani kita. Amin

*Ditulis di Surabaya, 9 Agustus 2018
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here