KAIRO (Suaramuslim.net) – Pasar-pasar di Mesir mulai ramai dengan pedagang yang menjual “makanan bekas.” Kondisi ini sebagai buntut “kebijakan” ekonomi yang diterapkan oleh pemerintahan Presiden Abdel Fatah Al-Sisi.

Pasar yang menjual makanan sisa semakin menyebar di kota besar Kairo, rumah bagi lebih dari 20 juta orang. Sisa-sisa makanan dari restoran dan hotel dijual dengan harga diskon. Produk makanan yang cacat, mulai dari daging olahan dan pasta hingga keju dan jus, juga dijajakan. Banyak barang juga didapati tanpa menyertakan tanggal pembuatan dan kadaluarsa.

“Tidak ada yang bertanya tentang validitas barang, meskipun buruk, yang penting adalah harganya yang murah,” kata seorang pembeli Ahmed Ramadan, seperti dilansir Middle East Monitor, Sabtu (20/04/19).

Seorang pembeli lain, Asma Mohammed, mengatakan bahwa dia terpaksa membeli tulang dan leher ayam sisa untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang terdiri atas lima orang setelah dia tidak mampu membelinya di pasar biasa.

“Tulang unggas sekarang dijual seharga 15 pound [$ 0,87], dua tahun lalu hanya lima pound [$ 0,29], saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika saya tidak bisa membeli kaki dan tulang unggas,” katanya.

Muncul kekhawatiran tentang kualitas makanan sisa yang dijual, takut akan keracunan makanan dan penyakit yang disebarkan oleh minuman yang terkontaminasi. Namun, bagi ribuan orang yang kesulitan membeli barang kebutuhan pokok, ini dapat menjadi alternatif.

Harga bahan makanan pokok, air dan bahan bakar telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir setelah subsidi negara dipotong dan PPN diperkenalkan di negara itu untuk pertama kalinya.

Kebijakan baru itu disebut sebagai bagian dari komitmen Mesir terhadap reformasi ekonomi yang ditetapkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) sesuai dengan perjanjian pinjaman negara.

Namun, kebijakan tersebut telah menambah kesengsaraan finansial jutaan rakyat Mesir yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Mereka mengeluh tidak mampu membeli kebutuhan pokok sejak harga melonjak. Inflasi telah melonjak setelah pemerintah mengambangkan pound Mesir pada 2016, dan tahun lalu, departemen keuangan mengumumkan meningkatkan pendapatan pajak publik sebesar 131 persen pada tahun 2022.

Bulan lalu, Presiden Al-Sisi mengumumkan ia akan menaikkan upah minimum menjadi 2.000 pound Mesir ($ 116) per bulan dari 1.200 pound ($ 53). Namun beberapa hari sebelumnya, Menteri Kelistrikan mengumumkan akan menghapus subsidi listrik selama tiga tahun ke depan dan meliberalisasi layanan publik lainnya.

Sumber: Middle East Monitor
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.