Memahami Anak Suka Memukul Orang Lain

Suaramuslim.net – Anak adalah belahan jiwa, permata hati bagi orang tuanya. Karena itu apapun kondisi anak akan menambah keceriaan dan kebahagiaan sebuah keluarga. Namun tak bisa dipungkiri, sebagian anak membawa sifat dan karakter yang sedikit bermasalah. Sebagian anak bersifat agresif atau pemarah. Karakter ini akan muncul ketika usia mereka memasuki dua tahun. Mereka akan menunjukkan sifat agresifnya dengan marah dan memukul orang lain atau bahkan melampiaskannya pada benda di sekitarnya. Tentu hal ini membuat banyak orang tua khawatir.

Mungkin kita sering kali mendapati anak yang masih berusia dini atau yang duduk di bangku sekolah dasar menjadi seorang yang “ringan tangan”. “Ringan tangan” yang dimaksud bukan bermurah hati membantu orang lain, akan tetapi mudah sekali menggunakan tangannya untuk memukul atau mencubit orang lain. Kebanyakan anak menunjukkan perilaku agresif karena ia merasa frustrasi disebabkan keinginannya melakukan sesuatu lebih besar daripada kemampuannya.

-Advertisement-

Mereka ingin mengkomunikasikan kebutuhan dan kemauannya, tetapi kemampuan bicaranya masih terbatas. Anak juga terkadang bersikap agresif untuk melepaskan rasa marahnya, mengontrol situasi, atau menunjukkan kekuatannya untuk melindungi mainannya. Anak juga terkadang menganggap perilaku agresif seperti mencubit atau memukul sebagai alat komunikasi.

Baca Juga :  3 Nilai Ajaran Islam Untuk Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi ini? Kembali memukul anak sebagai bentuk hukuman atas perbuatan anak tadi tentu bukanlah pilihan yang bijak. Kenali lagi sebab anak berperilaku, lalu bantu ia menyalurkan emosinya dengan cara yang benar. Ada beberapa alasan mengapa anak menjadi sosok yang sering memukul orang di sekitarnya, atau mungkin termasuk kita, orang tuanya. Jangan terburu-buru memarahi anak. Pahami dulu mengapa ia berperilaku demikian.

Berikut ada beberapa hal yang menjadi alasan anak untuk memukul atau melukai orang lain:

  1. Mengekspresikan emosi

Emosi itu bisa berupa kemarahan, kekesalan, kekecewaan, frustrasi atau kesedihan. Jika anak bisa memahami emosi ini dan menyalurkannya dengan kata-kata mungkin anak akan lebih memilih cara ini. Namun keterbatasan kosa kata anak karena ia yang masih dalam masa perkembangan bisa jadi menyulitkan anak.

  1. Ranah pribadinya terganggu

Hal ini bisa terjadi jika orang tua membatasi tempat bermain anak atau anak bermain dengan teman sebayanya dan merasa ruang mobilitasnya berkurang. Orang dewasa akan dengan mudah untuk berpindah atau “mengusir” orang yang dirasa mengganggunya, namun anak kecil akan kesulitan untuk mengungkapkan perasaan ini.

  1. Merasa iri
Baca Juga :  Game of Thrones, Layakkah Dikonsumsi Anak?

Ini biasa terjadi jika anak memiliki saudara kandung dengan usia yang tidak terpaut jauh. Anak yang merasa sendirian atau terabaikan bisa jadi mendorong ia untuk memukul.

  1. Penuh Energi

Adakalanya anak penuh dengan energi, sehingga bisa membuat mereka melakukan hal yang bisa merusak atau melukai orang lain. Kita perlu memahami, kapan saja anak memiliki banyak energi. Beberapa anak mungkin memiliki banyak energi setelah seharian berada di dalam rumah. Untuk itu, salurkan energi anak dengan aktivitas yang lebih positif, misalnya berolahraga. Kita bisa membawa anak berlarian di taman atau bersepeda santai di sekitar lingkungan rumah. Kita juga bisa mengajak anak melakukan hal lain yang disukainya, misalnya bernyanyi atau sekadar melompat-lompat.

  1. Kekesalan anak

Harus diperhatikan, anak juga bisa merasa kesal jika orang tuanya terlalu banyak menggunakan kata-kata sebagai instruksi untuk mengarahkan perilaku anak.

  1. Komunikasi

Perilaku suka memukul atau melukai orang lain bisa juga disebabkan karena kendala komunikasi. Mungkin anak masih berusia terlalu dini, sehingga belum memiliki kemampuan bahasa yang baik. Hal inilah yang membuat anak kadang tidak mampu menyampaikan apa yang diinginkan. Akibatnya, anak menyampaikan pendapatnya dengan cara lain, misalnya memukul atau melukai orang lain. Langkah ini dilakukan anak untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, misalnya orang tua, guru maupun orang-orang di sekitarnya.

  1. Sensitivitas anak
Baca Juga :  Momen Tepat Tumbuhkan Rasa Empati pada Anak

Setiap anak memiliki tingkat sensitivitas inderawi (sensorik) yang berbeda-beda. Hal ini berarti apa yang anak rasakan mungkin berbeda dengan apa yang dirasakan oleh anak-anak lainnya. Misalnya ada anak-anak yang sangat sensitif dan memiliki kepekaan terhadap panca inderanya. Sehingga saat anak disentuh atau dikerumuni anak-anak lain, anak merasa sangat tidak nyaman. Perasaan tidak nyaman akibat masalah inderawi yang cukup sensitif inilah yang membuat anak-anak memukul, mendorong atau melakukan hal lain yang bisa melukai temannya.

Anak-anak yang suka memukul dan menyakiti orang lain memang membuat orang tua sangat khawatir. Untuk itu, kita harus memahami alasan anak suka melukai orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.