Memaknai Waktu di Pusaran Takdir

Suaramuslim.net – Menunggu kadangkala dianggap sebagai sebuah hal menjemukan, karena dalam proses menunggu kita berlaku pasif. Menunggu akan bermanfaat kalau kita bisa membersamainya dengan hal-hal positif. Nah, dalam kaitan menunggu keberangkatan kereta api Sancaka dari Madiun-Surabaya yang seharusnya berangkat pukul 19.30 malam, saya harus menunggunya karena estimasi yang saya buat tentang acara dan selesainya sampai pada perjalanan menuju stasiun terlalu berlebihan, sehingga saya mempunyai kesempatan waktu selama 5 jam dari jam 14.00 – 19.30. Nikmat waktu sekitar 5 jam itulah yang kemudian saya buat merenungi waktu yang berjalan sambil menunggu keberangkatan.

“Nikmat Tuhan yang Manakah yang Engkau Dustakan?”

Apa yang terus berjalan di muka bumi ini? Jawabannya adalah waktu. Waktu merupakan perjalanan masa yang harus kita ikuti. Sehingga dengan waktulah seluruh perjalanan hidup kita tercatat. Waktu bisa dimaknai sebagai sebuah aturan yang mengatur perjalanan hidup. Hanya kematianlah yang memberhentikan kita dalam mengikuti waktu.

Waktu dalam dimensinya bisa dipisahkan menjadi tiga bagian, masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Masa lalu adalah perjalanan waktu yang sudah kita lewati. Di dalam masa lalu kita bisa belajar tentang sesuatu yang menyenangkan dan baik sebagai bagian untuk melangkah di masa kini dan masa yang akan datang. Begitu juga pengalaman kurang di masa lalu juga akan bisa menjadi bahan instropeksi agar tak terulang lagi. Dari masa lalu kita bisa belajar banyak hal untuk menata perjalanan pada masa kini dan masa yang akan datang.

Baca Juga :  Locus of Control: Internal vs Eksternal

Masa kini adalah masa yang sekarang kita jalani. Prosesi perjalanan yang kita lakukan saat ini adalah bagian dari perjalanan masa kini. Dari masa kinilah segala sesuatu yang kita lakukan akan juga mengingatkan apa yang sudah kita lakukan pada masa lalu. Perjalanan masa kini adalah sesuatu yang mesti dilakukan.

Manusia harus selalu bergerak. Karena gerak itu menunjukkan adanya kehidupan. Dalam perjalanan masa kini, manusia mempunyai kecenderungan apa yang diinginkan harus dipenuhi. Karena dalam anggapan kita sebagai manusia, apa yang kita semai hari ini adalah bagian sejarah masa depan yang akan kita susun.

Masa depan adalah rangkaian aktifitas yang kita bentuk dari sebuah perjalanan masa lalu dan masa kini. Sebagai contoh saja setiap orang pasti mempunyai cita-cita, cita-cita tak akan bisa dicapai kalau tidak diperjuangkan. Tak ada sesuatu yang “given” dalam kehidupan ini, semua butuh proses dalam mewujudkannya. Sehingga kita mesti menyadari bahwa yang kita dapatkan hari ini adalah buah dari perjalanan kita masa lalu dan masa kini.

Adakah Keterlibatan Orang Lain Terhadap Apa yang Kita Raih Hari Ini?

Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan sesuatu dari luar dirinya. Contoh yang paling mudah adalah tidak ada manusia yang lahir tidak melewati rahim ibu. Begitu juga untuk bisa tumbuh dan berkembang secara baik, setiap insan butuh kasih sayang perawatan orang tua dan guru. Sehingga apa yang kita dapatkan hari ini harus disadari bukanlah hasil kerja kita sendiri, tapi ada pengaruh dan keterlibatan orang lain.

Baca Juga :  Jangan Potong Kepompong Anak-Anak Kita

Keterlibatan itu bisa juga dimaknai sebagai pengaruh. Yang itulah kemudian diingatkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya:

“Setiap bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tuanyalah yang menyebabkan dia menjadi Majusi, Nasrani atau Muslim”.

Ada keterikatan setiap orang dengan lingkungan dan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Itulah yang kemudian Nabi juga mengingatkan agar kita sebagai manusia yang berakal untuk cerdas menyikapi lingkungan dan orang-orang yang ada disekitar kita.

“Barangsiapa melakukan sebuah perbuatan yang menyerupai sebuah kaum, maka bisa dikatakan mereka itu adalah bagian dari kaum tersebut”.

Mengapa Seseorang Bisa Terpengaruh?

Dalam sebuah masyarakat terbangun paham kedekatan dan kekeluargaan. Kedekatan dan kekeluargaan dalam kaidah hubungan sebagai manusia sosial disebut sebagai proksemik. Kedekatan itu bisa menyebabkan sebuah rasa yang sama. Dari rasa yang sama akan melahirkan rasa memiliki. Perasaan seperti tidak bisa dinafikan akan menjadi pengaruh orang akan melakukan hal yang sama. Perasaan “sungkan” kadangkala akan mengikis logika.

Meneguhkan Diri di dalam Pusaran Waktu

Menjadi diri sendiri merupakan hal penting dalam hidup. Menjadi diri sendiri itu diakibatkan oleh kemampuan diri meneguhkan diri dalam pusaran waktu yang dijalani. Saya mengibaratkan sebagai sebuah konsep tentang diri. Konsep diri merupakan sebuah gambaran tentang diri kita, apa yang kita pikirkan dan apa yang kita ingin capai. Konsep diri berkaitan dengan keimanan seseorang akan menjadi apa dirinya. Konsep diri itulah yang akan menjadi perisai bagi setiap insan agar dapat menempatkan diri pada posisi yang benar dan baik meski berada di tengah masyarakat yang tidak sama dengan apa yang diyakini. Konsep diri akan membangun nalar logika agar kita berjalan sesuai dengan ego dan superego kita.

Baca Juga :  Inilah Pemandu Kehidupan di Dunia

Akhirnya membincang tentang waktu sama saja dengan membincang akan takdir yang akan turun kepada kita, yang pada akhirnya takdir kita bergantung terhadap apa yang sudah kita lakukan dalam menjalani masa lalu dan masa kini.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al Ashr: 1 – 3 ).

*Ditulis di Madiun, Kereta Api Sancaka pada tanggal 11 April 2018
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.