Ilustrasi anak jalanan yang sedang makan, foto: (Coretan Penghuni Jalanan)

Suaramuslim.net – Beberapa waktu lalu, ribuan umat Islam Indonesia berbondong-bondong pergi ke Jakarta untuk melakukan reuni 212. Mereka banyak berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan beberapa wilayah lain ikut turut serta. Dengan pembelaan yang jelas; mengecam penista agama.

Reuni ini sudah berjalan sejak 2017, 2018, dan 2019. Mereka melantunkan zikir, ceramah, berorasi, mengecam penista agama, membela ulama yang dikriminalisasi rezim, dan setelahnya bersatu untuk membangun agenda keumatan yang tersistem diimplementasikan di lingkungannya masing-masing.

Visi ini semakin menegaskan bahwa umat Islam, dengan perbedaan ormas yang ada, bisa bersatu. Perbedaan-perbedaan terhadap khilafiyah, amaliah harian, tidaklah menjadi penghalang untuk bersama membela agama yang dilecehkan. Dari mereka yang dianggap menistakan ajaran agama.

Kalau saja ribuan umat Islam bisa berkumpul untuk mengecam penista agama, bisakah mereka bersatu untuk mengecam pendusta agama?

Ini pertanyaan menggelitik yang saya pikir-pikir sendiri dalam benak saat melihat ribuan umat Islam berkumpul di sekitaran Monas.

Penyebabnya setelah melihat mereka, saya duduk-duduk santai di depan rumah kontrakan. Saya lihat samping-samping rumah yang penghuninya selalu terlihat lesu.

Gambarannya begini:

Saya tinggal di sebuah kontrakan yang memiliki tetangga sangat kasihan, kadang juga terlihat unik. Betapa tidak, samping kiri rumah terdapat rumah yang puluhan tahun tidak ada aliran listrik, air, orangnya hidup sebatang kara, dan saya pernah diceritai tetangga lain, kalau dulu kakaknya yang (maaf) agak gila harus meninggal dan tidak ada yang tahu hingga ditemukan bau membusuk.

Dua rumah dari kiri kontrakan, berbeda lagi, rumah tersebut berisi satu keluarga, ada satu yang (maaf) kurang waras. Saya lihat, setiap pagi dia pergi ke pasar, entah apa yang dilakukan, setiap dari pasar dia sudah membawa sayur-mayur, terkadang pisang, untuk bekal makan keluarganya.

Depan rumah kontrakan agak masuk ke dalam, ada anak kecil yang ditinggal pergi kedua orang tuanya, dia ikut kakek neneknya. Sedangkan kakek neneknya sudah tua dan mengandalkan bekerja sebagai pembuat kunci pintu.

Tetangga yang terakhir, sebelah kanan dari beberapa rumah, ada janda agak tua yang hidup sebatang kara bersama anaknya. Kemarin, saya temui kakinya dirawat karena terkena paku.

Saya tahu persis, mereka hidup dengan “masa depan” yang seadanya. Jangankan memikirkan masa depan, untuk mengepulkan nasi setiap pagi saja mungkin harus berpikir keras.

Ya mungkin, satu momen mereka pernah kenyang dalam hidupnya, namun setelah itu mereka harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan.

**

Suatu ketika, Kiai Dahlan, seperti dikutip Junus Salam dalam K.H. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya (2009), mengajar murid-muridnya. Setiap kali ngajar, beliau bolak-balik menyuruh untuk membaca surah Al Ma’un.

Murid-murid tersebut lantas bertanya, “Kiai, suratnya kok Al Ma’un terus, tidakkah ada surah lainnya,” ujar para murid.

“Kalian sudah hafal surat al-Ma’un, tapi bukan itu yang saya maksud. Amalkan! Diamalkan, artinya dipraktikkan, dikerjakan! Rupanya, saudara-saudara belum mengamalkannya,” ucap Ahmad Dahlan.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?/Mereka itulah orang yang menghardik anak yatim/dan tidak mendorong memberi makan orang miskin/Maka celakalah orang yang salat/(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya/yang berbuat ria/dan enggan (memberikan) bantuan.”

Selanjutnya beliau menyuruh murid-muridnya untuk berkeliling mencari orang miskin dan membawanya pulang, lalu dimandikan dengan sabun, diberi pakaian yang bersih, diberi makan dan minum, serta disediakan tempat tidur yang layak.

Setelah duduk-duduk tadi, saya terpikir ajaran Ahmad Dahlan tentang pembelaan mustad’afin yang semakin tidak relevan di masyarakat muslim menengah perkotaan. Mungkin yang relevan dalam bahasan-bahasannya adalah: pergi umrah, nabung memakai syariah, dan berpakaian ala islami.

***

Nadjib Hamid, Wakil Ketua Wilayah Muhammadiyah dalam salah satu sambutannya saat mengisi acara pernah bilang, kira-kira bunyinya seperti ini.

“Sering kali kita mengecam Penista Agama, namun kita sering lupa mengecam Pendusta Agama, Kita sering melupakan ajaran Al Ma’un.”

Kata-katanya seperti menampar telinga kanan kiri sekaligus dengan keras. Benar, jangan-jangan kita ini selalu lupa bahwa di samping tempat tinggal kita ini banyak kaum mustad’afin yang berkeliaran. Kita sering mengaku sebagai pembela agama, namun, di samping tempat tinggal sendiri tidak tahu kalau mereka merintih tidak bisa makan.

Secara sadar memang memberi orang itu sangat sulit, apalagi capek-capek mencari, tapi diberikan. Sangat sedikit kemungkinan yang bisa. Namun nyatanya hidup ini harus imbang.

Tanpa menafikkan perjuangan pembelaan penistaan agama yang saya banggakan, sepertinya kita juga perlu untuk membela kaum mustad’afin. Karena membela mereka tidak harus pergi jauh ke Jakarta, bukan?

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.