Matnazu tukang becak Warga Simo Hilir Sukomanunggal Surabaya, foto: Dok. Istimewa

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Ibadah haji bagi umat muslim merupakan ibadah yang dicita-citakan banyak orang. Namun nyatanya tidak semua umat muslim dapat mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Banyak hal yang mempengaruhui cita-cita tersebut untuk tidak dapat dipenuhi. Salah satunya kemampuan. Namun hal itu agaknya tidak berlaku kepada Matnazu Mucari Bungkas, kakek berusia 71 tahun asal Kota Surabaya.

Warga Simo Hilir Sukomanunggal itu menarik becak selama 22 tahun demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan menabung untuk berhaji. Matnazu mengaku selama puluhan tahun bekerja, ia tidak tertarik untuk membeli perabotan mewah. Menurut kakek dari 20 cucu ini yang sangat berharga ialah becak tua yang bersandar di depan rumahnya.

“Mau beli apa nak, masak orang miskin kayak aku ini mau beli barang mewah. Ya becak itu nak yang berharga untuk keluarga saya nak,” ucap Matnazu kepada media di Embarkasi Haji Surabaya, Senin (15/7).

Dengan becak tua itulah, Matnazu menghabiskan waktu sehari-hari. Mengais rezeki untuk menafkahi keluarga dan menghidupi anak-anaknya yang sekarang tinggal sembilan orang setelah tiga di antaranya meninggal dunia.

Menarik becak ia jalani mulai tahun 1997, meski penghasilannya tidak seberapa, namun pada waktu itu dari menarik becak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, selang beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 2004, menurut Matnazu penghasilan dari menarik becak mulai menurun. Hal itu dikarenakan peminat becak yang mulai sepi.

“Kalau awal-awal saya narik becak itu nak, sehari penghasilannya 50.000 sampai 100.000, tapi semakin ke sini peminat becak mulai sepi, sehari biasanya hanya 30.000 sampai 50.000,” ujar Matnazu.

Dengan kondisi demikian nyatanya keinginan Matnazu untuk berhaji tidaklah surut. Sisa uang belanja keluarga ia tabung untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. “Ada berapa sisa uang untuk belanja, saya tabungkan nak,” pungkasnya.

Kakek yang pernah berprofesi sebagai kuli angkut ini mengaku keinginannya untuk berhaji timbul saat ia menikah dengan Sanatun pada 1972 silam. Istrinya yang yang telah meninggal 15 tahun silam itulah yang awalnya menabung dan terbiasa mengatur keuangan hasil keringat Matnazu. Namun sejak istrinya meninggal, Matnazu ahirnya menyimpan tabungannya sendiri.

“Saya nabung haji semenjak ditinggal istri itu ya sendiri nak, saya masukkan ke arisan. Kalau tidak begitu ya habis, nggak bisa haji saya,” sahut Matnazu dengan senyum lebar.

Matnazu mengaku ketika di rumah ia tidak bisa bermalas-malasan. Menurutnya jika ia berdiam di rumah justru membuatnya jatuh sakit. Pagi-pagi sekali kakek berdarah Madura ini mangkal di Pasar Perumnas Sukomanunggal.

“Saya ini tidak bisa diam di rumah nak, bahkan saya kemaren sebelum berangkat saja masih narik becak,” sambung Matnazu.

Rupanya Matnazu tidak hanya bekerja sebagai penarik becak. Setelah menikah pada 1972, ia pernah bekerja sebagai kurir di kawasan Jembatan Merah Plaza. Kemudian, Matnazu bekerja sebagai karyawan di perusahaan ekspedisi. Namun, pada 1997 perusahaan tempat Matnazu menaruh harapan itu gulung tikar.

Matnazu sempat bingung mencari pekerjaan, anaknya banyak, dan semuanya bersekolah. Akhirnya, dengan sisa uang tabungan yang tinggal 150 ribu, Matnazu membeli becak. Dari becak itulah, Matnazu bakal menyempurnakan rukun Islam kelima.

’’Semoga mabrur dan kembali dengan selamat,” ujarnya penuh harap.

Matnazu yang tergabung dengan kloter 28 asal Kota Surabaya tersebut akan diterbangkan menuju Arab Saudi pada Selasa (16/7) pukul 06.30 WIB menggunakan pesawat Saudia Airlines melalui Bandara Internasional Juanda.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here