Nandur Pari Tukul Suket Teki

Kehidupan ibarat nandur pari tukul suket teki

Suaramuslim.net – Kalau Anda kebetulan tinggal di desa atau di kampung dan disana ada persawahan, coba amati di ladang persawahan yang ada. Selain ada tanaman padi juga di sekitarnya seringkali juga tumbuh rumput. Apakah para petani sengaja menanam rumput? Tentu tidak, rumput itu tumbuh sendiri, karena memang faktor alam yang menyebabkan dia harus tumbuh.

Faktor alam yang menyebabkan rumput tumbuh dalam persoalan di atas, seringkali kita sebut dengan variabel lain. Variabel lain itu macamnya ada dua. Ada variabel yang bisa dikontrol dan ada yang tidak.

-Advertisement-

Apa yang kita alami dalam keseharian, tentu ada banyak variabel yang mewarnai yang akan menyebabkan terjadinya sesuatu terhadap kita. Orang sering menyebutnya dengan takdir. Jadi sejatinya apa yang terjadi pada kita tidak ada yang kebetulan, semua sudah terangkai. Masalahnya ada yang bisa kita jangkau dan ada yang tidak. Allah menyebutnya sebagai “sunnatullah”.

Sebagai contoh, untuk menjaga keselamatan berkendara di jalan, kita mempersiapkan segala hal agar selamat. Kita gunakan helm standar, kecepatan yang rata-rata sesuai dengan peraturan, tidak terlalu cepat, berjalan di pinggir dan lain-lain yang bisa kita lakukan agar selamat di jalan. Tapi apakah dijamin kecelakaan tidak akan terjadi? Kalau dari sisi kita, bisa dipastikan kecelakaan akan bisa dihindari, tapi dari sisi lain di luar kita apakah kecelakaan bisa dicegah? Belum tentu, karena faktor di luar tidak bisa kita kontrol. Jalan berlubang berada di luar kewenangan kontrol kita, orang ugal-ugalan berkendara, juga faktor lain di luar kita yang tak bisa kita kontrol.

Mempersempit Ruang Jangkauan Harapan

Segala sesuatu mesti harus terukur. Artinya bahwa dalam hidup kita harus rasional dalam menjalaninya. Tidak bisa harapan terlalu tinggi, tapi kita tidak mempersiapkan bekal untuk mencapai yang tinggi, sehingga kita hanya bermimpi. Tak mungkinlah kita menjadi seorang dokter kalau sekolah kita di fakultas hukum. Tak mungkinlah kita akan bisa membangun tatanan yang tertib, kalau hidup kita juga tak tertib. Semuanya saling terkait.

Mempersempit ruang jangkauan dalam mencapai tujuan merupakan langkah tepat. Mempersempit ruang jangkauan berarti kita sedang merancang apa saja yang bisa kita jangkau dengan meminimalisir variabel lain yang tak bisa dikontrol.

Membangun Kepastian

Kepastian bisa berarti sesuatu yang bisa diprediksi hasilnya. Nah, dalam rangka membuat kepastian terhadap hasil yang akan kita capai, maka kita perlu menentukan tujuan yang akan dicapai dalam suatu pekerjaan.

Setelah kita tentukan langkah-langkah menuju penyelesaian, juga harus mempertimbangkan kemampuan yang kita miliki, dan apa yang bisa kita jangkau dan menjadi kewenangan kita. Sehingga kalau semua langkah dan tujuan bisa kita ukur dan dalam jangkauan kita, maka saat itulah kita sedang membuat kepastian.

Nah kawan, mulailah membangun kepastian dengan memulai dari apa yang bisa, mudah dan murah untuk kita laksanakan.

“Dan Dialah yang menidurkan (mematikan) kamu pada malam hari. Dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari. Kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari, buat disempurnakan umurmu pada yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allah subhanahu wa ta’ala kamu kembali, lalu Dia memberitahukan padamu apa yang terdahulu apa yang kamu kerjakan” (QS. Al An’am: 60).

*Ditulis di Surabaya, 24 April 2018
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

M. Isa Ansori
Pegiat pelestarian cagar budaya, Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS), Pengajar Psikologi Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris LPA Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here