Mendudukkan Optimisme dan Pesimisme Secara Proporsional
Ilustrasi positive thinking. (Ils: Harry Reafor/Dribbble)

Suaramuslim.net – “…Tak ada tempat untuk pesimisme, masa depan harus dijemput dengan antusiasme…” (Najwa Shihab, Catatan Najwa, volume 1).

Cuitan presenter kondang dalam Catatan Najwa ini menjadi salah satu quote yang bisa menggugah hati banyak orang. Setiap manusia memang suka dengan hal yang positif (baik). Sejatinya, tidak ada orang yang menginginkan keburukan dalam dirinya. Apakah kita hanya membutuhkan optimisme tanpa ada pesimisme? Atau sebenarnya kita butuh keduanya?

Optimisme vs Pesimisme

Berbicara mengenai optimisme dan pesimisme saat ini sepertinya sangat sensitif karena masa-masa ini adalah masa kampanye atau berhubungan dengan politik. Dalam tulisan ini kita fokuskan pada optimisme dan pesimisme saja.

Optimisme menurut KBBI merupakan paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan, sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal. Sedangkan kalau pesimisme merupakan paham yang beranggapan atau memandang segala sesuatu dari sudut buruknya saja.

Permasalahan dalam hal ini ialah banyaknya orang mengatakan bahwa yang kita perlukan hanyalah optimisme, tidak perlu ada pesimisme. Ada banyak quote sindiran mengenai pesimisme, salah satunya mengatakan bahwa pesimistis adalah sebuah kekalahan yang sangat memalukan dan awal dari kesesatan. Ada juga yang mengatakan bahwa pesimisme adalah alasan untuk tidak mencoba dan menjamin kegagalan pribadi.

Baca Juga :  Optimisme Kebangkitan Umat

Pesimisme hanya pemikiran yang buruk, seharusnya kita manusia berpikir positif dalam menghadapi kehidupan. Kamu juga pasti setuju kalau yang namanya hidup harus dihadapi dengan optimistis. Namun, mari kita berbicara menurut sudut pandang yang berbeda. Walaupun dalam menghadapi berbagai hal kita harus optimistis bukan berarti kita menjauhkan diri dari rasa pesimistis.

Masih ingatkah kita pada peperangan di masa Rasulullah? Peperangan saat kaum muslimin mengalami kegagalan. Kisah fenomenal pada perang Uhud tidak dijadikan sebagai masa kelam saja, namun dijadikan pembelajaran.

“Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada perang Badar) kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Ali Imran [3]: 165).

Gabriele Oettingen, seorang profesor psikologi New York University, mengatakan bahwa ketika mempelajari pikiran positif (positive thinking), ia menemukan energi (diukur dari tekanan darah) orang-orang yang menjadi subjek penelitiannya jatuh ketika pikiran mereka dipenuhi dengan fantasi tentang masa depan. Sehingga sering kali orang-orang yang telah jatuh pada khayalannya (mencapai impiannya), mereka tidak memberikan upaya yang cukup untuk mencapai tujuan mereka.

Baca Juga :  Bulan Ramadhan Waktu Tepat untuk Muhasabah

Fakta lain yang dipaparkan oleh Tali Sharot, pengarang buku The Optimism bias and Directure Affective Brain Lab, dalam studinya menyadari jika orang memiliki bias yang inheren terhadap optimisme. Bias tersebut kemudian membuat orang cenderung menggampangkan risiko yang mungkin terjadi. (https://tirto.id/terlalu-optimis-bisa-berujung-kegagalan 21/10/2016).

Gelap dan Terang

Optimisme walaupun bertentangan tidak akan bisa muncul tanpa ada pesimisme. Kita bisa mengatakan terang karena ada gelap. Hal tersebut juga berlaku pada optimisme dan pesimisme. Jika pesimisme dalam kehidupan kita tidak ada, maka segala hal yang mempunyai harapan baik tidak akan kita sebut optimisme karena kita sudah biasa mempunyai harapan baik. Sebaliknya, jika kata optimisme hilang, maka yang ada kita sudah biasa menganggap segala hal itu buruk dan kita tidak akan mengatakan hal tersebut sebagai pesimisme.

Seperti pada QS Al-A’raf [7]: 56 “…berdoalah kepadanya dengan rasa takut dan penuh harap.” Juga pada QS As-Sajdah [32]: 16 “…mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap.”

Kata rasa takut dengan penuh harap terihat sangat kontras, namun mengapa keduanya bisa dijadikan satu? Mengapa saat berdoa kita diperintahkan untuk takut dan penuh harap? Jawabannya ada dalam QS An-Nisa’ [4]: 28 “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.

Manusia bersifat lemah, maka dari itu kita harus memiliki rasa takut (pesimistis) jika Allah tidak mengabulkan doa kita. Namun, tetap berusaha dengan penuh harap (optimistis) agar Allah mengabulkannya. Jika manusia hanya diliputi rasa pesimistis, maka tidak ada perkembangan, fana dan hal buruk lainnya. Namun, jika manusia selalu merasa optimistis dalam segala hal, maka khawatir akan terlenakan dan tidak tahu bahwa mulut buaya sudah siap menangkap mangsanya. Sedikit saja tergelincir maka buaya akan menerkamnya.

Baca Juga :  Pejuang Atau Pecundang

Maka dapat dikatakan bahwa optimistis yang sampai melenakan, menganggap remeh, bahkan berpikiran bahwa semuanya akan baik-baik saja malah sangat berbahaya. Orang yang terlalu menganggap bahwa dirinya sudah benar, berkelakuan baik sampai terlena dan tidak sadar ada beberapa hal yang sebenarnya membuat Allah murka, maka di saat itulah perlu adanya sedikit rasa pesimistis agar kita tidak terlena.

Sebaliknya, di saat manusia selalu berpikiran buruk, takut tidak dimaafkan oleh Allah, takut menyinggung perasan orang sehingga memilih untuk menjauh dari keramaian, menyendiri dan sebagainya, maka kita membutuhkan rasa optimistis bahwa Allah akan mengampuni hamba-Nya bila hamba-Nya bersungguh-sungguh meminta ampun kepada-Nya.

Penulis: Mori Kaze*

*Trainer Ekstrakulikuler

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here