Peran Publik dan Privat Seorang Ayah
Keluarga Misbahul Huda. (Dok. Pribadi)

Suaramuslim.net – Peran seorang ayah secara sederhana bisa dikelompokkan dalam dua bagian. Pertama, peran seorang ayah di dalam aktivitas publik (eksternal) dan peran ayah dalam aktivitas privat (internal). Seyogianya ayah berusaha berperan optimal dalam dua area tersebut. Karena kelak anak butuh role model dalam area publik maupun privat.

Peran Ayah di Area Publik

  1. Peran sebagai pekerja

Islam memberikan tanggung jawab mencari nafkah pada suami. Hukum menafkahi keluarga adalah wajib. Dengan begitu, seyogianya ayah berusaha bersungguh-sungguh dalam mengupayakan nafkah keluarga, tidak menelantarkan mereka. Ayah harus punya visi ke depan terkait dengan kehidupan keluarga dari aspek finansial. Karena seiring dengan pertumbuhan buah hati, kebutuhan hidup semakin meningkat.

  1. Kontribusi positif pada masyarakat

Di tengah berbagai kesibukan yang dilakukan ayah. Seorang ayah tetaplah menjadi bagian integral dari masyarakat. Ayah yang bisa memberikan kontribusi lebih ke tengah masyarakat akan menjadi teladan bagi anak-anak. Ayah tak segan-segan ikut kerja bakti di kampung, menjadi aktivis sosial atau membantu tetangga yang membutuhkan.

  1. Menjadi aktivis dakwah
Baca Juga :  Anak Pandai Mengancam, Salah Siapa?

Di tengah karut marutnya kondisi masyarakat, aktivitas yang paling mulia adalah menjadi aktivis dakwah. Ayah diharapkan bisa mengambil peran dalam agenda dakwah di tengah umat. Memberikan kontribusi optimal agar umat segera bisa terbebas dari himpitan kehidupan yang menyusahkan ini (sistem kapitalisme).

Peran Ayah di Area Privat

Adapun peran ayah di area privat, antara lain: peran sebagai pendidik.

Menjadi ayah harus berwawasan luas. Sepintar apa pun istri, tetap ada kondisi saat istri membutuhkan saran dan masukan dari ayah. Pendidikan anak tidak bisa diserahkan semuanya kepada istri. Ada kondisi saat ayah membantu dan mengajarkan pelajaran tertentu. Ayah yang abai terhadap urusan anak-anak, tidak akan dekat secara emosional karakter anak, menyelami dunia mereka. Tidak boleh dengan alasan mencari nafkah, ayah kehilangan waktu dengan mereka.

Sahabat Abu Darda RA pernah ditegur oleh sahabat Salman Al Farisi karena terlalu mementingkan ibadah dan mengabaikan hak-hak istri dan anak-anaknya.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.