Menerima Perubahan

Suaramuslim.net – Setiap pergeseran waktu sejatinya bisa dimaknai sebagai ruang terjadinya perubahan, karena pergerakan waktu akan selalu diikuti dengan pergerakan manusia. Apa artinya? Perubahan haruslah dipahami sebagai sesuatu yang biasa terjadi, karena perubahan itu selalu menyatu pada jiwa manusia. Sebagai contoh umur kita akan selalu berubah di setiap pergeseran waktu.

Menyiapkan diri menghadapi perubahan menjadi sebuah keharusan, karena perubahan tanpa persiapan tentu tidak akan terasa dampaknya. Ibarat orang berjalan tak tahu arah tujuan, sehingga perubahan terjadi begitu saja. Inilah seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam junjungan kita semua, seperti buih di tengah lautan. Terjadi pergerakan, tapi pergerakan yang dilakukan adalah pergerakan tanpa arah dan cenderung mengikuti arus kemana membawa.

Manusia sejatinya ditakdirkan oleh Allah sebagai mahluk yang sempurna. Kesempurnaan yang dimaksud adalah manusia dibekali oleh Tuhan dengan kesempurnaan akal budi. Dengan akal budilah diharapkan manusia mampu mendinamisasi perubahan menjadi yang lebih baik. Sebab Tuhan selalu berharap adanya kebaikan. Lalu apa itu kebaikan?

Baca Juga :  Bagaimana Nabi Muhammad Berinfaq?

“Sesungguhnya kalian adalah sebaik-baik umat, yaitu ketika kalian mampu berbagi kebaikan dan menekan terjadinya kemungkaran”. Nabi menjelaskan tentang kebaikan dengan sabdanya “sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberi kemanfaatan bagi sesamanya”.

Nah kembali pada makna perubahan, tentu yang diharapkan adalah perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga perubahan itu menjadi kemanfaatan. Lalu bagaimana Nabi menyiapkan contoh menjemput perubahan?

Perjuangan Nabi dalam mengubah masa kegelapan yang menandai kehidupan masyarakat Quraisy, sehingga disebut sebagai masyarakat Jahiliyah dilakukan selama kurun waktu 22 tahun. Dalam masa selama itu Nabi mengalami pasang surut perjuangan, ada kalanya mengalami masa-masa suka dan juga masa-masa duka.

Di dalam setiap pengalaman itu Nabi selalu menghadapi dengan rasa syukur dan keyakinan bahwa apa yang dilakukan pastilah akan membuahkan hasil. Sebagai seorang manusia tentu Nabi juga sama dengan kebanyakan manusia lainnya. Beliau juga punya perasaan suka dan perasaan duka.

Bagaimana beliau mengalami kesedihan yang memuncak ketika orang-orang yang tercinta di sekitarnya dipanggil oleh Allah. Pamannya Abu Thalib yang selama ini menjadi pelindungnya serta sang istri tercinta Siti Khadijah. Dalam kesedihan yang memuncak tentu Nabi mengalami masa-masa sulit membangkitkan motivasi dirinya, sehingga dengan takdir-Nya, Allah memperjalankan Nabi dalam perjalanan mulia Isra’ dan Mikraj.

Baca Juga :  Jujur Berbuah Mujur

Begitu juga ketika Nabi harus menjalani masa-masa perjanjian Hudaibiyah. Nabi harus menunggu beberpa lama untuk bisa memasuki tanah Mekkah, tanah kelahirannya untuk melakukan peribadatan. Semua dijalani Nabi dalam sebuah proses yang memakan waktu. Namun semua dilakukan dengan persiapan dan perencanaan yang matang, dan yang paling penting adalah kesiapan Nabi menerima proses dan menjalani proses menuju ke arah yang lebih baik.

Belajar Menerima Proses

Proses merupakan sebuah perjalanan panjang untuk mendapatkan hasil, sehingga dalam proses tentu ada banyak hal yang harus dilewati agar sampai pada hasil yang diharapkan. Tentu saja bicara hasil berkaitan erat dengan upaya yang kita lakukan. Semakin terencana dengan baik sebuah upaya, maka hasilnya juga akan menjadi lebih baik.

Kesanggupan melakukan proses juga merupakan potret kemampuan seseorang bisa menerima kenyataan. Sehingga setiap orang akan bisa belajar mendapatkan sesuatu yang maksimal dari proses yang dijalankan.

Nah, semoga saja kita bisa menerima hasil apa pun dari apa yang sudah kita jalankan, karena sejatinya hasil kita menunjukkan cara kita bekerja, terkecuali mereka yang melakukan jalan pintas dan melanggar norma. Semoga kita dikelompokkan pada kelompok mereka yang sadar akan proses dalam meraih hasil. Amin.

Baca Juga :  Soerabaia Tempo Doeloe “Dogcart“ (2)

“Tidaklah Allah akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merancang dan melakukan perubahan“.

*Ditulis di Surabaya, 26 Juni 2018
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.