Menjadi Dewasa (Be A Man) Menurut Islam

Suaramuslim.net – Kata orang, tua adalah kepastian tetapi dewasa adalah pilihan. Tua hanyalah persoalan umur. Orang tua belum tentu dewasa. Namun bagaimana dengan anak muda? Bisakah ia memilh menjadi dewasa? Apakah kedewasaan mensyaratkan umur tertentu?

Dr. Alwi Alatas, mudir PRISTAC[1] Pesantren ATTAQWA Depok punya cerita menarik. Dalam sambutannya di hadapan orangtua santri baru pertengahan ramadhan lalu, pakar sejarah jebolan UIAM Malaysia ini menceritakan pengalaman masa muda Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan.

Semasa muda dulu, Nelson Mandela dan anak-anak di sukunya harus mengikuti ritual tertentu agar dapat disebut dewasa. Anak-anak yang belum menyelesaikan ritual itu dianggap belum dewasa.

Ritual berlansung selama beberapa bulan. Puncak ritual ialah sunatan massal. Jangan bayangkan sunatan massal ini seperti sunatan massal yang kerap diselenggarakan oleh lembaga amal. Nelson muda dan kawan-kawan berbaring berjejer menunggu giliran. Mereka disunat oleh dukun suku menggunakan pisau super tajam tanpa anestesi. Mereka harus mampu bertahan, tidak boleh menangis. Jika menangis, mereka dinyatakan tidak lulus. Menangis bukan ciri orang dewasa. Hanya anak kecil yang menangis. Itulah pesan ritual itu.

Kisah mendiang Nelson Mandela dituturkan kembali oleh mudir PRISTAC ATTAQWA , Dr. Alwi Alatas, tidak lain tradisi suku Xhosa, salah satu suku di pedalaman negara Afrika Selatan. Setiap anak lelaki Xhosa harus mengikuti serangkaian ritual tertentu agar dapat disebut dewasa. Mereka tetap anak-anak dan diperlakkan seperti anak-anak jika belum lulus dari ujian ritual itu.

Upacara pelantikan, atau pengesahan menjadi orang dewasa berlangsung selama 6 bulan. Seiring berjalannya waktu, masa upacara berkurang menjadi 3 bulan. Terakhir, sesuai rilis majalah africa geografic,[2] upacara hanya berlangsung satu bulan.

Dalam bahasa lokal, upacara itu disebut Ulwaluko. Pesertanya disebut Abakwetha. Upacara dimulai ketika memasuki musim dingin. Peserta upacara yang terdiri dari anak-anak yang siap beranjak dewasa digiring ke pegunungan. Pemerintah menetapkan usia minimal Abakwetha 18 tahun. Rupanya pemerintah pun menginterensi tradisi suku yang telah berlangsung turun-temurun, bahkan sebelum negara Afrika Selatan ada. Padahal seperti di Indonesia, angka 18 tahun sebagai batas anak-anak tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selama upacara Abakwetha disiksa dengan berbagai ritual mengerikan. Cuaca dingin mencekam dan terik matahari gurun sudah merupakan ujian tersendiri. Satu ritual paling berbahaya nan mengancam nyawa ialah puasa selama 7 hari tanpa minuman sedang makanan hanya seadanya. Pada hari ketujuh semua Abakwetha lunglai dehidrasi.

Puncak upacara adalah sunatan massal seperti yang dialami Nelson Mandela. Nampaknya, sunat massal ini, selain dapat ditinjau dari sisi biologis, lebih merupakan simbol kejantanan, bahwa yang disebut dewasa adalah mampu melakukan fungsi orang dewasa. Anak-anak yang lulus dari ritual sunat ini dijamin memiliki ketangguhan, keberanian, daya tahan, dan seterusnya yang dianggap ciri orang dewasa yang telah teruji secara meyakinkan selama upacara. Beginilah suku Xhosa Afrika Selatan memproklamirkan diri sebagai orang dewasa.

Lain lagi dengan suku Hamar di Ethiopia. Sebelum menikah, sebagai ujian kedewasaan, laki-laki harus dicambuk di depan umum. Selanjutnya sang lelaki harus mampu melompati empat sapi yang telah dikebiri.

Suku Fula di Afrika Barat mentato wajah anak perempuan mereka sebagai tanda siap dinikahi. Tato dilukis menggunakan kayu yang sangat tajam. Pembuatan tato ini tentu sangat menyakitkan.

Sama dengan suku Xhosa, suku Masai dari Tanzania dan Kenya menyunat anak laki-laki mereka sebagai pengesahan kedewasaan. Setelah disunat, anak-anak yang kini dianggap dewasa dipindahkan ke tempat isolasi. Puncak upacara ditandai dengan berburu singa. Kini tradisi berburu singa dilarang pemerintah setempat dengan alasan perlindungan satwa. Anak dewasa baru dapat direkrut sebagai prajurit suku. Suku Masai melakukan regerasi prajurit setiap 6-10 tahun.

Anak-anak perempuan di Kepulauan Mentawai mempertajam gigi sebagai tanda kedewasaan. Selain tanda dewasa, mempertajam gigi dipercaya menambah kecantikan.

Adapun suku Aborigin di Australia mengirim anak-anak mereka ke padang gurun selama 6 bulan. Bagi umumnya orangtua, tindakan ini tentu mengada-ada. Namun, begitulah suku Aborigin menguji kedewasaan generasi muda mereka. Anak-anak harus bertahan di gurun tanpa bantuan orang lain. Jika berhasil, mereka kembali ke rumah sebagai seorang lelaki sejati.

Lain pula dengan suku Sungai Sepik di Papua Nugini. Mereka menandai kedewasaan anak-anak mereka dengan membuat pola kulit buaya di punggung menggunakan silet!. Sakitnya tak tertahankan!

Mungkin ini yang paling seram. Salah satu suku di Brazil yang tinggal di pedalaman hutan Amazon, suku Satere-Mawe menandai paralihan anak laki-laki menjadi pria dewasa dengan mengenakan selongsong daun berisi semut peluru selama 10 menit. Sang anak hanya sah menjadi pria dewasa jika mampu menahan rasa sakit. Padahal, semut peluru dikenal memiliki gigitan paling menyakitkan di dunia.

Bagaimana dengan Islam? Kapan seseorang dewasa menurut Islam? Bagaimana menjadi dewasa?

Dewasa menurut Islam

Tradisi Rasulullah, para sahabat, dan para ulama dari zaman ke zaman memberi pelajaran berharga. Menjadi dewasa tidak harus melewati serangkaian ritual yang menyakiti tubuh, tidak harus mengikuti upacara yang sengaja direka untuk menyiksa. Menjadi dewasa dalam Islam identik dengan pendidikan untuk mampu menghadapi tantangan hidup dengan meniti jalan yang telah digariskan agama.

Namun, bukan berarti cara Islam lebih mudah dari pada suku-suku di atas. Menjadi dewasa dalam Islam artinya mengemban tanggung jawab dari Allah ta’ala. Anak-anak yang belum dewasa belum memiliki tanggung jawab. Dengan kata lain, ia belum mukallaf, dosanya tidak dihisab, amal baiknya tidak diganjar pahala. Jadi, dewasa dalam Islam ialah ketika mencapai usia baligh yang ditandai dengan haidh bagi wanita dan mimpi basah bagi laki-laki.

Masalah kemudian muncul tatkala manusia telah dewasa secara fisik tetapi masih anak-anak secara jiwa. Fisiknya telah baligh, namun pikirannya masih berangan-angan sebagai anak kecil yang hobi bermain kelereng, layangan, ke sana-ke mari tanpa beban, tanpa tanggung jawab, tanpa ada sedikit perasaan bahwa segala amal perbuatannya akan dihisab di hadapan Allah.

Umar bin Khattab r.a. pernah berpesan, “didiklah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka”. Petuah Umar benar-benar wujud nyata dalam pendidikan para ulama salaf. Kemuliaan seseorang, kedewasaannya, tidak diukur dengan kemampuan menahan lapar dan dahaga misalnya, atau kemampuan menahan gigitan semut peluru, melainkan dengan tanggung jawab, adab, dan akhlak yang baik. Pria dewasa yang siap menikah bukan hanya harus telah bersunat, lebih dari itu memiliki segala kemampuan untuk menjadi nahkoda bahtera rumah tangga mengarungi samudera kehidupan yang penuh gulungan badai dan terjangan topan.

Umar bin Khattab menikahkan putranya ‘Ashim dengan seorang gadis penjual susu bernama Zainab lantaran kejujuran dan ketaqwaan menantunya itu, bukan karena wajahnya telah ditato dengan pisau kayu. ‘Ashim bin Umar pun telah dididik oleh ayahnya dengan sebaik-baiknya sebagai orang dewasa. Oleh karena itu, ketika mendapatkan calon yang tepat, ia menawarkan ke putra-putranya, lalu pilihan itu jatuh kepada ‘Ashim.

Anak-anak kita hari ini dipaksa menjadi anak-anak sebelum 18 tahun, padahal mereka telah baligh dalam usia 12-13 tahun. Mereka diperlakukan sebagai anak-anak, dididik sebagai anak-anak, dan tidak diberi tanggung jawab seperti orang dewasa. Karena dipaksa menjadi anak-anak, akhirnya mereka pun bertingkah seperti anak-anak: mabuk game, mabuk gawai, berbuat onar, dan tidak ikut membantu keluarga mencari nafkah.

Semua ini karena mereka merasa masih anak-anak. Mereka merasa masih tanggung jawab orang tua sedang mereka sendiri belum memiliki tanggung jawab apapun selain duduk manis di bangku sekolah, mengerjakan PR, dan rajin belajar agar mampu menjawab soal ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi.

Fenomena ini perlu dikoreksi. Anak-anak yang telah baligh adalah orang dewasa, dalam arti memiliki beban tanggung jawab di hadapan Allah seperti orang dewasa. Amal baik-buruknya telah dihitung. Kertas hidupnya tidak putih lagi. Pena malaikat telah mencatat. Mereka harus dididik sebagai orang dewasa.

Sebelum mencapai usia baligh, anak-anak kaum Muslimin harus dididik untuk bersiap menjadi orang dewasa. Ritual suku-suku tradisional yang kita paparkan secara singkat di atas, ibarat gunung es, akarnya lebih besar, lebih dalam, dari pada gunung es yang mencuat di permukaan.

Ritual pengesahan kedewasaan hanya ujian. Sebelum ujian mereka telah dipersiapkan sekian lama, sejak kanak-kanak. Ujian dalam ritual tidak lain ujian kehidupan, bukan ujian di atas kertas seperti anak-anak kita di sekolah-sekolah. Mereka, anak-anak suku itu, jika telah melewati ritual pengesahan kedewasaan, dijamin dapat hidup di lingkungannya, seperti ayah-ibu, kakek-nenek, dan moyangnya.

Adapun anak-anak kita, walaupun telah menamatkan ujian di perguruan tinggi ternama, gelarnya segudang, dan ijazahnya bergulung-gulung, belum tentu dapat hidup bermasyarakat. Mengapa? Sebab mereka memang tidak kita didik untuk hidup bermasyarakat, melainkan untuk menjawab soal ujian, untuk mendapat pekerjaan, untuk hidup berkecukupan bersama istri dan anak-anak. Untuk itu anak-anak dididik.

Kini, saatnya kita mengingat kembali tradisi ulama Islam sejak zaman berzaman. Mereka ditempa dengan adab dan akhlak mulia sejak kecil. Perjalanan hidupnya dihiasi dengan pendidikan untuk menghadapi tantangan hidup. Ketika beranjak baligh, mereka telah sadar akan tanggung jawabnya di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

Mereka melangkahkan kaki, mengayunkan tangan, dengan penuh tanggung jawab sebagai orang dewasa, sebagai kesatria. Jika ingin menikah, mereka tahu bagaimana menjadi suami dan istri yang baik. Ketika hendak punya anak, mereka tahu bagaimana mendidik anak dengan baik. Merekalah orang dewasa sesungguhnya, bukan hanya karena fisiknya telah dewasa, tetapi juga karena memiliki ilmu, adab, dan tanggung jawab. Inilah orang dewasa sesungguhnya.

Oleh: Wahyudi Husain*
Editor: Oki Aryono

*Staf Pengajar Pondok Pesantren ATTAQWA Depok

[1] PRISTAC, Pesantren for The Study of Islamic Thought and Civilization, setingkat SMA.
[2] magazine.africageographic.com/weekly/issue-48/xhosa-circumcision-ritual-south-africa-its-hard-to-be-a-man/

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.