Erdogan Jelaskan Alasan Turki Meluncurkan Operasi Perisai Musim Semi di Idlib Suriah

Erdogan Jelaskan Alasan Turki Meluncurkan Operasi Perisai Musim Semi di Idlib Suriah

Erdogan Jelaskan Mengapa Turki Meluncurkan Operasi Perisai Musim Semi di Idlib Suriah
Operasi Perisai Musim Semi Turki. (Foto: indonesiainside.id)

ANKARA (Suaramuslim.net) – Keterlibatan Pasukan Turki di Idlib Suriah menuai kecaman internasional, Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan pun menjawab semua tudingan tersebut seperti dalam video yang diunggah laman YouTube Anadolu Agency pada 4 Maret 2020 sebagai berikut:

Saya katakan sekali lagi, niat Turki bukan menduduki dan mencaplok wilayah Suriah. Mereka yang menentang kehadiran Turki di Suriah harus merespons pertanyaan-pertanyaan berikut:

Mengapa mereka diam saja ketika provinsi-provinsi kami di selatan diserang kelompok terror? Justru menjadi pecinta Suriah begitu Turki mulai membangun zona aman di sepanjang garis perbatasannya?

Kami saat ini menampung 3,5 juta warga Suriah padahal ada hampir 4 juta warga Idlib yang ingin mengungsi ke negara kami.

Kami adalah saudara.
Kami memahami konsep tentang Muhajirin dan Anshar.
Haruskah kami katakan biarkan mereka tertembak, biarkan bom menghantam mereka?
Haruskah kita membiarkan hal ini? Tidak bisa. Kita tidak bisa menjadi seperti Assad. Bahkan dia tidak punya rasa iba.

Sebagai bangsa yang penuh belas kasihan, kami mengupayakan berbagai hal. Sementara rezim yang jahat terus menyerang rakyatnya sendiri, perempuan dan anak-anak dengan pesawat, helikopter, tank dan bom. Mengapa mereka menentang upaya Turki menyelamatkan orang-orang ini?

Apakah mereka yang mengeklaim Turki sebagai tamu tak diundang di Suriah dapat menjelaskan aksi mereka ke seluruh dunia?
Saudara-saudari kami yang terkasih, apakah mereka diundang? Tidak.
Lalu, apa yang mereka lakukan di sana?
Kami diundang di Suriah melalui Perjanjian Adana.

Apakah mereka yang mengeklaim Turki sebagai tamu tak diundang sadar bahwa dengan menyetujui serangan ke Turki berarti juga membuka jalan bagi serangan serupa ke mereka sendiri di belahan lain dunia ini?

Apakah keberadaan Turki di sini tidak dianggap sah karena Turki mendukung upaya rakyat Suriah untuk melindungi kehidupan dan martabat mereka?

Dengan mengabaikan arus migrasi satu juta orang dari Idlib datang ke wilayah kami, dan dengan mendukung rezim tirani yang hanya kuat ketika menyerang rakyatnya sendiri, apakah mereka mengabaikan tekad Turki untuk mengakhiri penyimpangan ini?

Apakah komunitas internasional yang diam menyaksikan tragedi kemanusiaan di Idlib siap untuk menanggung beban yang akan membanjiri mereka seperti air menyembur dari bendungan yang jebol?
Mereka perlu mempertanyakan ini kepada diri mereka sendiri.

Sekali lagi saya menegaskan tekad Turki untuk mengakhiri tirani di Suriah, mengamankan perbatasan kami, serta melindungi saudara-saudari kami. Situasi di Idlib tidak akan berlangsung normal sampai pasukan rezim menarik diri ke wilayah Perjanjian Sochi.

Sampai masalah di Idlib selesai, aliran migran baru tidak akan bisa dicegah dan warga Suriah tidak bisa pulang ke negara asal mereka. Ketika rezim menyerang, warga tidak akan melarikan diri ke tempat lain selain Turki, karena di sini adalah zona aman. Karena orang-orang ini sadar di mana pun rezim berada, kehidupan maupun martabat mereka tidak akan terjamin.

Upaya Rusia membantu rezim Assad untuk menguasai wilayah sama saja dengan memperpanjang kesempatan hidup dengan pemberian napas buatan. Namun, napas buatan ini hanya akan bertahan untuk beberapa saat. Kami berharap rezim akan sepenuhnya berubah jadi mayat.

Seluruh upaya kami adalah untuk meminimalisir angka kematian. Mereka yang berupaya mengubah Suriah menjadi arena pertarungan politik dan militer mungkin tidak peduli, tetapi setiap nyawa yang terenggut di wilayah ini menyakiti hati kami.

Itu karena orang-orang ini adalah saudara-saudari kami, baik secara historis, geografis, maupun agama.

Kami tidak akan membiarkan saudara-saudari kami berada di bawah kekejaman para tiran dan kelompok terror di perbatasan kami, dan juga sebuah rezim yang telah kehilangan legitimasinya.

Jika perlu, kami rela mati di jalan ini. Jika ada pihak lain yang bersedia melakukan hal yang sama, silakan!

Satu-satunya solusi di Idlib adalah rezim mengakhiri agresi dan kembali mematuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan di bawah perjanjian yang ada.

Sumber: Anadolu Agency

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment