Mengelola Dakwah dengan Profesional

130
dakwah

Suaramuslim.net – Griya Al-Qur’an, Radio Suara Muslim dan Irwitono, ibarat segita sama sisi. Itulah kurang lebih penggambaran yang tepat untuk menggambarkan hubungan pemilik nama lengkap Irwitono, ST. MM dengan dua lembaga dakwah yang dibidaninya, yaitu Griya Al-Qur’an dan Radio Suara Muslim.

Griya Al-Qur’an adalah sebuah lembaga pengajaran baca dan tahfidz Al-Qur’an khususnya untuk masyarakat urban.

“Saat itu banyak lembaga pendidikan baca tulis Al-Qur’an untuk anak-anak, namun sangat jarang lembaga pengajaran baca Al-Qur’an yang fokus untuk orangtua,” papar mantan pegawai PT Telkom tersebut.

Selain langka, Irwitono juga melihat banyak lembaga pengajaran baca Al-Qur’an yang dikelola ala kadarnya sehingga terkesan tidak profesional. Selain itu dia juga mengamati banyaknya kasus orangtua yang bacaan Al-Qur’annya kurang benar bahkan sama sekali tidak bisa membaca. Berangkat dari fakta tersebut, pada awal Sya’ban 1428 Hijriah Irwitono dan beberapa jamaah Masjid Al Fattah perumahan Delta Tama Sidoarjo merintis sebuah lembaga pengajaran baca Al-Qur’an yang awalnya diberi nama Rumah Al-Qur’an.

“Saya termasuk murid pertama lembaga yang kami dirikan,” ucap  bapak tiga anak tersebut.

Seiring waktu, Rumah Al-Qur’an kian banyak peminat. Karenanya, Irwitono dan kawan-kawan merasa perlu mengembangkan lembaga ini ke tempat yang lebih representatif dan manajemen yang lebih tertata. Berkat dukungan Ustadz Agung Cahyadi, Ustadz Muhammad Sholeh Drehem dan lain-lain, Rumah Al-Qur’an pun pindah lokasi di Jalan Dinoyo Surabaya dengan brand baru Griya Al-Qur’an.

Dakwah di Udara

Geliat dakwah Irwitono pun semakin bergelora ketika ia dipercaya mengelola sebuah radio dakwah yang pada waktu itu kondisinya sedang mati suri.

“Radio dakwah tersebut sudah dipersiapkan sejak lama namun mengalami kendala perizinan. Mulai sekitar tahun 2010 saya diamanahi untuk mengelola radio tersebut. Saya benahi sisi manajemennya, progamnya dan lain-lain. Pada 2011, Suara Muslim Surabaya mulai mengudara.”

Boleh dibilang Suara Muslim Surabaya bisa mengudara berkat gotong royong para pegiat dakwah di Surabaya. Mereka menyumbangkan berbagai potensi yang mereka punya, mulai dari dana, fasilitas, ide dan lain-lain. Semangat yang mereka usung adalah; dari umat, oleh umat dan untuk umat. Awal mengudara, Suara Muslim hanya dioperasikan oleh dua karyawan, termasuk Irwitono sendiri. Hingga saat ini Suara Muslim didukung oleh sekitar 40 lebih SDM, dengan dua cabang, yaitu Madiun, Lumajang dan Tuban.

Suara Muslim sendiri boleh dibilang sebagai fenomena langka, bahwa di tengah gempuran media online Suara Muslim masih bisa eksis. Ihwal ini, Irwitono mengatakan bahwa nilai-nilai yang dibangun dalam sebuah korporasi sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan korporasi tersebut. Sebagai sebuah lembaga dakwah, Suara Muslim menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an yang terjawantah lewat aktivitas perusahaan. Irwitono menyebutnya dengan satu pilar yaitu sholat subuh, plus empat core value, yaitu speed, kreatif, solid, responsible.

Masjid, Rumah, dan Sekolah

Di tengah kesibukan yang berbagai-bagai, alumni Teknik Industri Telkom University Bandung ini tetap menempatkan keluarga sebagai pilar utama dakwah. Ia berusaha membangun kedekatan bersama anak-anak salah satunya mengajak mereka tertib jamaah subuh di masjid. Bahkan anak ketiganya sudah dia ajak jamaah subuh ketika masih berusia tiga bulan. Ia pun turut sibuk menyiapkan perbekalan sekolah anak-anaknya, juga menemani mereka sarapan. Mengantarkan sekolah anak-anaknya juga menjadi aktivitas rutinnya jika ia sedang di rumah.

Dalam mengelola keluarga, Irwitono dengan tiga pilar yaitu rumah, masjid dan sekolah. Rumah adalah basis pertama di mana orangtua sebagai sumber keteladanan bagi anak-anak. Sekolah adalah tempat menimba ilmu sekaligus membentuk karakter, karena itu Irwitono sengaja menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang menyediakan fasilitas keilmuan dan agama yang mencukupi. Sementara masjid bagi pria kelahiran Kudus 44 tahun silam tersebut adalah pilar peradaban dan keimanan.

Titik Balik

Melihat aktivitas keseharian Irwitono yang kental dengan nuansa dakwah, tentu banyak orang mengira ia sudah menjadi aktivis dakwah sejak remaja. Namun, Irwotono mengakui bahwa kesadaran berdakwah muncul saat ia sudah berumah tangga.

Sebagai seorang pegawai BUMN dengan gaji yang lumayan fantastis, Irwitono hampir sudah pernah mencicipi segala kenikmatan hidup, dari fasilitas transportasi hingga pelesir ke negeri seberang. Namun ia merasakan ada yang kurang dalam dirinya. Jiwanya terasa kosong.

Ia mengawali titik balik saat menunaikan ibadah haji pada 2003 lalu. Di Tanah Suci, ia bertemu  Ustadz Amir Faishal Fath yang saat itu mengatakan, tidak cukup hanya menjadi orang saleh, tetapi harus muslih. Pendek kata, muslim yang baik adalah yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, bukan semata untuk diri sendiri dan keluarga. Itulah titik awal Irwitono menerjuni dunia dakwah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here