Suaramuslim.net – Nama Lalu Muhammad Zohri tiba-tiba menyeruak di antara kebisingan Piala Dunia yang baru menyelesaikan babak semifinal. Kabar itu datang dari Finlandia. Tepatnya dari kota Tampere. Kota ini berjarak 160 km dari ibukota Helsinki. Tampere adalah kota terbesar ketiga di Finlandia. Tampere hanya berpopulasi 230.537 jiwa dengan luas wilayah 689.59 kmĀ².

Ya, pada Rabu (11/7), Zohri menjadi pelari tercepat di dunia dalam kejuaraan dunia atletik usia 20 tahun. Ia mencatat waktu 10,18 detik. Ini memecahkan rekor nasional atas namanya sendiri untuk level junior yang 10,25 detik. Ia mengalahkan Anthony Schwatz dan Eric Harrison, keduanya dari Amerika Serikat, yang sama-sama mencatat waktu 10,22 detik.

Catatan waktu Zohri itu terpaut 0,01 detik dengan rekor nasional 100 m senior atas nama Agung Suryo Wibowo yang 10,17 detik. Agung adalah sprinter terbaik Indonesia. Sebelumnya Indonesia memiliki Mohammad Sarengat (1939-2014), Purnomo Muhammad Yudhi (lahir 1962), Mardi Lestari (lahir 1968), dan Suryo Agung Wibowo (lahir 1983). Catatan waktu terbaik Sarengat adalah 10,5 detik pada 1962.

Rekor itu pecah 25 tahun kemudian oleh Purnomo dengan catatan 10,33 detik pada 1987. Catatan waktu terbaik Purnomo adalah 10,29 detik. Rekor itu dipecahkan Mardi pada 1989 dengan catatan waktu 10,20 detik. Rekor Mardi dipecahkan Suryo 20 tahun kemudian dengan catatan 10,17 detik pada 2009.

Para pendahulu Zohri sudah mampu membuktikan berjaya di level senior. Ini tentu cita-cita Zohri. Bahkan mereka bisa juara Asia. Purnomo bahkan masuk semifinal olimpiade. Perjalanan Zohri masih panjang. Tapi catatan waktunya sudah sangat bagus walau ia masih junior. Fisik yang cukup jangkung dan otot-otot yang bagus merupakan potensi tersendiri bagi Zohri. Catatan waktu Zohri memang terus meningkat. Pada Juni lalu, saat menjadi juara junior Asia U19, catatan waktunya masih 10,27 detik. Di Jakarta bisa diperbaiki menjadi 10,25 detik. Dan saat babak semifinal meningkat menjadi 10,24 detik.

Zohri berasal dari keluarga miskin. Ia bahkan yatim piatu sejak kecil. Zohri lahir pada 1 Juli 2000 di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Ia tinggal bersama kakaknya. Berkat prestasi di cabang lari, Zohri direkrut di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) NTB. Akhirnya ia bisa tinggal di tempat yang lebih baik, di Asrama.

Bakatnya mulai terendus saat mengikuti kejuaraan nasional antar PPLP November 2017. Mengejutkan. Saat itu ia mencatat waktu 10,25 detik. Memecahkan rekor atas nama Sudirman Hadi dengan catatan waktu 10,45 detik. Akhirnya Zohri masuk pelatnas. Dan disertakan di kejuaraan Asia pada Juni lalu di Jepang.

Sebelumnya ia juga sudah ikut kejuaraan SEA Youth Athletics Championship di Filipina dan ASEAN Schools Games. Eni Saeni pelatih sprint memiliki harapan besar terhadap Zohri. Tp perjalanan masih panjang. Pada Asian Games nanti ia pun tak dibebani target. Karena catatan prestasi para pesaing dari Qatar dan Tiongkok memiliki catatan waktu di bawah 10 detik.

Selamat berjuang.

Penulis: Nasihin Masha
Editor: Arina Masruroh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.