Mengenal Sosok Pembaharu Pesantren Tebuireng KH. Salahudin Wahid (Gus Sholah)

Mengenal Sosok Pembaharu Pesantren Tebuireng KH. Salahudin Wahid (Gus Sholah)

Ilustrasi Gus Sholah. Ilustrator: Ana Fantofani
Ilustrasi Gus Sholah. Ilustrator: Ana Fantofani

Suaramuslim.net – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kabar duka datang dari keluarga besar Nahdlatul Ulama. Salah satu tokoh NU yang juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang KH. Salahuddin Wahid yang biasa disapa Gus Sholah meninggal dunia di RS Harapan Kita, Jakarta, Ahad (2/2) pada pukul 20.59 WIB.

Dr. (H.C) Ir. H Salahuddin Wahid atau biasa dipanggil Gus Sholah lahir di Jombang, 11 September 1942 adalah seorang aktivis, ulama, politisi, dan tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

Tak hanya itu, Gus Sholah pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa awal reformasi tahun 1998. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komnas HAM. Bersama kandidat presiden Wiranto, ia mencalonkan diri sebagai kandidat wakil presiden pada pemilu presiden 2004.

Putra dari pasangan K.H. Wahid Hasyim (ayah) dengan Sholehah (Ibu) dan adik kandung dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini adalah cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) K.H. Hasyim Asy’ari.

Gus Sholah meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami masa kritis usai menjalani bedah jantung.

Rekam jejak pendidikan KH. Salahuddin Wahid

Dikutip dari laduni.id, pada tahun 1947 Salahuddin pindah ke Tebuireng, menyusul wafatnya Hadratus Syekh Kiai Hasyim Asy’ari yang digantikan oleh ayahnya, KH. Wahid Hasyim. Selanjutnya pada awal tahun 1950, ketika ayahnya diangkat menjadi Menteri Agama, ia ikut pindah ke Jakarta.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi), di mana para gurunya banyak yang menjadi anggota pergerakan, termasuk orang-orang komunis. Pengalaman di sekolah ini membuatnya terbiasa hidup di lingkungan yang heterogen sehingga terbiasa menghadapi perbedaan. Ketika naik ke kelas IV, pindah ke SD Perwari yang terletak di seberang kampus UI Salemba.

Sekitar tahun 1955-1958, Gus Sholah melanjutkan sekolahnya di SMP Negeri I Cikini. Di SMP ini ia memilih jurusan B (ilmu pasti). Setelah lulus SMP ia masuk SMA Negeri I yang populer dengan sebutan SMA Budut (Budi Utomo), karena terlatak di Jalan Budi Utomo. Selama di SMA Budut, aktif di Kepanduan Ansor dan OSIS.

Tahun 1962 Gus Sholah tamat SMA dan melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia memilih jurusan arsitektur, meskipun sebenarnya juga berminat masuk jurusan ekonomi atau hukum. Semasa kuliah di Bandung, ia aktif dalam kegiatan Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa. Sejak tahun 1967, ia juga aktif di organisasi mahasiswa ekstra kampus, dan memilih Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai wadah bernaungnya.

Di samping bersekolah, sejak kecil Gus Sholah bersama saudara-saudaranya juga belajar mengaji. Ini merupakan aktivitas rutin yang wajib dilakukan setiap hari. Ketika ayahnya masih hidup, kegiatan mengaji dipimpin langsung oleh sang ayah. Setelah Kiai Wahid wafat, tugas itu diambil alih oleh sang ibu. KH. Bisri Syansuri yang sering ke Jakarta, juga ikut mendidik mereka.

Selain belajar membaca Al-Qur’an, remaja Gus Sholah juga belajar fikih, nahwu, sorof, dan sejarah Islam. Guru-gurunya antara lain Ust. Muhammad Fauzi dan Ust. Abdul Ghoffar. Keduanya alumni Pesantren Tebuireng yang tinggal di Jakarta.

Gus Sholah sempat merasakan pendidikan pesantren melalui Pesantren Ramadhan. Selama beberapa kali liburan sekolah di bulan Ramadhan, ia belajar ke Pesantren Denanyar Jombang bersama adiknya, Umar Wahid. Menginjak usia dewasa, cara yang ditempuhnya untuk belajar adalah dengan membaca sendiri buku-buku keagamaan.

Aktif menulis

Pada tahun 1998, Gus Solah meninggalkan kegiatannya di bidang ini. Ia mulai memanfaatkan waktunya membaca buku sekaligus mulai menulis. Sejak tahun 1993, beliau menjadi pimpinan redaksi majalah Konsultan. Setalah itu aktif menulis di harian Republika, Kompas, Suara Karya, dan lain sebagainya.

Tulisan-tulisannya banyak menyoroti berbagai persoalan yang sedang dihadapi umat dan bangsa. Pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasannya seringkali berbeda dengan kakak kandungnya, Gus Dur. Bahkan ia pernah berpolemik dengan Gus Dur tentang hubungan agama dan negara di harian Media Indonesia.

Selain menulis di media massa, Gus Sholah juga banyak menulis buku. Karya-karyanya yang telah dibukukan, antara lain adalah: Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (November 2003), Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (November 2004).

Pembaharu Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Langkah pertama yang diambil Gus Sholah dalam memimpin Tebuireng adalah melakukan ”diagnosa” atau mendeteksi ”penyakit” yang sedang menimpa Tebuireng. Sejak bulan April hingga akhir tahun 2007, Gus Sholah secara berkala mengadakan rapat bersama unit-unit yang ada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari. Dia meminta laporan tentang kendala yang dihadapi, disamping meminta masukan dan kritik dari mereka. Gus Sholah juga menurunkan ”mata-mata” yang turun langsung ke kamar-kamar untuk menanyai para santri tentang kinerja pengurus pondok.

Selama memimpin Tebuireng, Gus Sholah berupaya menggugah kesadaran para guru, pembina santri, dan karyawan Tebuireng, untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kinerja berdasar keikhlasan dan kerja sama. Langkah konkretnya adalah mengadakan pelatihan terhadap para guru dengan mendatangkan konsultan pendidikan Konsorsium Pendidikan Islam (KPI), yang juga membantu para kepala sekolah untuk menyusun SOP, Standard Operating Procedure, bagi kegiatan belajar mengajar (KBM).

Mulai awal tahun 2007, di Tebuireng diterapkan sistem full day school di semua unit pendidikan. Para pembina dibekali dengan latihan khusus, baik latihan kedisiplinan dan psikologi, sehingga dapat menjalankan tugas dengan baik.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment