Siluet ayah dan anak. Foto: pixabay.com

Suaramuslim.net – Kalau anak-anak itu kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak itu tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan, meskipun barangkali ada yang demikian, tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak-anak.

Kerap kali, anak-anak lebih banyak mendengar asma Allah disebut dalam suasana menakutkan saat mereka melakukan kesalahan, sementara ketika berbuat baik nyaris tak mendengar Asma Allah dari lisan orang tua maupun pendidiknya. Kerapkali, anak mendengar asma Allah ta’ala disebut dari lisan orang tua dengan suara serupa himar (keledai). Padahal ini seburuk-buruk suara. Suara keledai tetaplah buruk meskipun untuk menyampaikan hal yang baik.

Astaghfirullahhal-adzim…

Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kesalahan, atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat “keliru” – meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita – asma Allah terdengar keras di telingan mereka oleh teriakan kita, “Ayo…Nggak boleh! Dosa!! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”

Atau saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, “Eee..nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba….? Muba….? Mubazir!!!! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, loh.”

Baca Juga :  Pendidikan Literasi untuk Anak

Nama Allah mereka dengar lebih sering dalam suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak-anak kita, dengan cara “mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah. Sama seperti pengguna kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan pada saat membutuhkan pertolongan. Mereka “menjauh” karena terlanjur memiliki kesan negatif yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apapun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmallah. Kita ajari mereka menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?) sehingga bertentangan apa yang mereka rasakan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

Bercermin pada perintah Nabi Shallahu alaihi wa sallam dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri kita dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:

Baca Juga :  Begini Cara Mengatasi Anak yang Terlanjur Manja

Awali bayimu dengan La ilaha illallah

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam pernah mengingatkan, awali bayi-bayimu dengan kalimat “La ilaha illallah.” Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan pada awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otaknya dan menghidupkan cahaya hatinya. Apa yang didengar bayi pada saat awal kehidupannya akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya  terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan. Suara ibu yang terdengar berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi.

Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitulah pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul: “174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.”

Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita  ucapkan, Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam, memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak  di masa mendatang. Kepada Ibnu Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam berpesan:

Baca Juga :  Ayah, Utamakan Keselamatan Iman

“wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu. Juga sebaliknya apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR At-Tirmidzi).

Dikutip dari buku Positive Parenting karya Mohammad Fauzil Adhim

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.