Meniti di Jalan Sendiri

5
Meniti di Jalan Sendiri sekolah

Suaramuslim.net – Membincang tentang harapan orang tua dan anak-anak berkaitan dengan pendidikan, tentu kebanyakan orang akan mengatakan ingin menyekolahkan anaknya disekolah yang dianggap sebagai sekolah “favorit”.

Beberapa hari menjelang dan setelah pelaksanaan penerimaan siswa baru, saya masih mengikuti ketidakpuasan sebagian orang tua karena anak-anaknya “belum berhasil” memasuki sekolah yang difavoritkan. Tentu saja sekolah yang difavoritkan itu adalah sekolah negeri.

-Advertisement-

Saya mencoba memahami apa yang diharapkan oleh para orang tua tersebut. Misalnya harus sekolah negeri, alasannya sederhana bahwa sekolah negeri itu tidak bayar, sekolah negeri itu murah, sekolah negeri itu lebih baik dibanding sekolah swasta, atau sekolah negeri itu lebih berkualitas dan banyak lagi alasan yang diberikan.

Tapi apakah semua itu lalu bisa dianggap benar? Saya kira tidak selalu. Nah orang tua lebih banyak memberikan alasan berdasarkan asumsi yang dibangun sendiri dan kemudian dipaksakan kepada putra-putrinya untuk mengikuti jalan pilihan orang tua.

Lalu akan menjadi baikkah anak-anak kita?

Belum tentu, tapi ada satu hal yang terjadi dari asumsi sebuah tempat pendidikan yang kita dibangun oleh orang tua, yaitu anak-anak tidak menjalankan apa yang menjadi pilihannya. Betapa bisa dibayangkan seseorang menjalankan suatu kewajiban yang bukan menjadi pilihannya.

Bisa jadi anak-anak akan terlihat baik di mata kita sebagai orang tua, belum tentu ketika berada tidak bersama kita sebagai orang tua. Ibaratnya anak-anak ini menaiki tangga orang lain, sehingga capaian yang didapatkan bukan karena kebanggan dirinya, tapi karena kebanggan orang lain.

Baca Juga :  Anak Suka Show Off

Kalau sudah begini kebanggan seperti apa yang dimiliki oleh seorang anak terhadap dirinya, kalau kemudian apa yang didapatkan bukan karena kemauannya, tapi karena kemauan orang tuanya.

Kekeliruan sering terjadi pada asumsi yang kita bangun, seolah bahwa sebuah kesuksesan akan didapatkan ketika kita bisa bersekolah di sekolah negeri. Padahal tidak selalu seperti itu. Dalam banyak hal kesuksesan tidak selalu ditentukan oleh mereka yang mempunyai nilai akademis yang tinggi dan berasal dari sekolah favorit.

Kesuksesan itu didapatkan karena kemampuan kita membangun jaringan dan yang terpenting adalah kemampuan kita bekerja sama dan saling menghormati dan bisa bersinergi. Pendidikan yang dibangun semangat kompetisi yang sering terjadi pada sekolah-sekolah yang dianggap favorit tadi, justru akan menjauhkan kita dari relasi. Pendidikan sudah bergeser dari kompetisi, menjadi sinergi dan selanjutnya bukan lagi hanya mutu tapi juga relevansi.

Pengalaman saya sebagai pelajar dan sebagai guru, justru berbanding terbalik dengan asumsi yang dibangun oleh masyarakat tentang sekolah negeri kebanyakan apalagi yang dianggap sebagai sekolah negeri favorit.

Pengalaman saya sebagai pelajar yang pernah diberi kesempatan belajar disebuah lingkungan sekolah negeri yang dianggap favorit tidak selalu mendapatkan sesuatu yang “favorit” dalam proses pembelajaran. Apanya yang disebut favorit, kalau ukurannya nilai akademis, mereka yang diterima disekolah itu nilainya sudah baik. Kalau ukurannya anak-anak itu bisa unggul dibanding dengan sekolah lain, ya tentu sangat mungkin terjadi, karena selain belajar di kelas, mereka juga mengikuti berbagai les di lembaga bimbingan diluar sekolah.

Baca Juga :  Menghadapi UNAS dengan Dimensi Isra - Mi’raj

Kalau itu semua yang terjadi, tentu saja sekolah itu akan menjadi “baik” karena yang diterina di sana anak-anak yang nilainya sudah baik, apakah itu karena sekolah? Belum tentu, karena mereka ternyata juga belajar di bimbingan belajar. Fakta-fakta di atas sejatinya menjadi pengingat bagi kita semua, ternyata sekolah-sekolah yang dianggap favorit itu tidak banyak berbuat bagi kepandaian yang dimiliki oleh anak-anak, karena anak-anak sudah pandai dari sananya.

Lalu apa yang saya anggap favorit?

Bagi saya sebuah sekolah atau lembaga pendidikan apapaun boleh dianggap favorit kalau mereka bisa memberikan layanan bagi kebutuhan perubahan melalui pendidikan. Tidak perlu nilai akademis harus 9 atau 10 semua, apalagi kalau ketika mereka memasuki sekolah itu nilai mereka kisaran 9 – 10. Itu artinya disekolah itu tidak terjadi peningkatan proses apalagi yang disebut dengan berkualitas.

Sebuah sekolah dianggap favorit tidak harus berasal dari sekolah negeri dan dikenal menjadi jujukan bagi kalangan masyarakat tertentu, sekolah favorit dan berkualitas itu apabila sebuah sekolah bisa menjanjikan perubahan dan mutu layanan. Misalkan ketika masuk disekolah, anak-anak ini nilainya rata-rata katakanlah 6, setelah menjalani proses maka dia mendapatkan peningkatan akademis menjadi 7, ada perubahan nilai akademis yang didapat.

Baca Juga :  Karakter Anak Usia Dini yang Harus Dipahami Orangtua

Atau hal lain yang disebut dengan sekolah favorit atau berkualitas itu apabila anak-anak itu mampu menjalani perubahan perilaku, misalnya kalau biasanya anak-anak ini disuruh sholat masih malas-malasan, maka ketika sekolah dan berada dirumah berubah menjadi rajin menjalankan sholat. Atau hal lain yang menunjukkan adanya perubahan yang lebih baik, meski hanya sedikit.

Hal yang penting ingin saya sampaikan janganlah kita memaksakan kehendak kita pada anak, karena anak-anak akan merasa nyaman dengan pilihan orang tuanya. Ajarilah anak-anak untuk bisa percaya diri dengan meniti tangga yang dia bikin sendiri, bukan tangga yang dibuat oleh orang tuanya apalagi oleh orang lain.

Sekolah negeri dan sekolah sekolah lain yang difavoritkan itu akan menentukan masa depan anak-anak kita, tidak selalu benar, karena memang itu lebih banyak dibangun oleh asumsi orang lain, sehingga seringkali menjalankan sesuatu atas dasar asumsi orang lain.

Percayalah bahwa nasib anak-anak kita tidak ditentukan oleh darimana anak-anak kita bersekolah, tapi akan lebih banyak ditentukan oleh kebaikan kita hidup bersama orang lain serta bisa saling menghormati.

Semoga Allah selalu memberi kita kejernihan dalam bersikap

*Ditulis di Surabaya, 12 Juli 2018
*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

M. Isa Ansori
Pegiat pelestarian cagar budaya, Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS), Pengajar Psikologi Komunikasi Untag 1945 Surabaya dan STT Malang, Anggota Dewan Pendidikan Jatim, Sekretaris LPA Jatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.