Menjadi Dahsyat dengan Niat

Suaramuslim.net – Niat bagi mukmin merupakan sesuatu hal yang sangat dahsyat. Kehadiran yang diterima atau tidaknya suatu amalan mukmin ialah begitu signifikan. Bahkan, dalam suatu riwayat –sebagaimana yang dimaksud dalam Kitab Umdatu al-Qāri – disebutkan bahwa niat orang mukmin itu lebih baik dari amalnya (HR Thabrani). Maksudnya, amal yang disertai niat adalah lebih baik daripada tidak.

Abu Bakar Ad-Dainuri dalam Kitab Al-Mujālasah wa Jawāhir al-‘Ilm (1419: 4/202) menyampaikan penjelasan lain terkait hadits tersebut. “Tuturnya, Allah akan mengekalkan orang mukmin di surga itu dengan niat baiknya, bukan semata amalnya.  Kalau sekiranya ia diberi balasan karena amalnya saja, maka dia tidak akan bisa kekal. Karena amal-amal itu sudah lama berlalu, sementara ganjaran dan pahala yang didapatkan seseorang kadang sebanding ataupun melebihinya”.

Dalam hadits yang lain, orang yang berniat baik melakukan sesuatu, namun belum sempat mengerjakannya, maka akan dicatat satu pahala untuknya. Lebih dari itu, ketika niat sudah disertai dengan amal, maka ia akan mendapatkan sepuluh pahala kebaikan (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari kaca mata normatif ini saja, sudah terbaca dengan jelas bahwa bagaimana dahsyatnya niat. Orang akan bisa menjadi dahsyat dengan niat sebab karena niat tersebut mendahului amal. Maka dengan adanya sebuah niat, orang mukmin akan dikekalkan di surga dan dengan itu pula orang – orang mukmin mendapatkan ganjaran walau tak sempat mengerjakannya.

Baca Juga :  Niat Puasa Ramadhan; Lafadz Ramadhana atau Ramadhani

Dari sisi bahasa, kata niat juga mengandung makna dan analogi yang dahsyat. Kata niat secara bahasa bukan saja berarti menyengaja atau berkehendak. Di sisi lain, ada kata-kata yang seakar dengan niat seperti kata “nawāt” yang berarti biji, benih, inti dan nukleus. Ada juga kata lain dalam Al Quran seperti “An-Nawā” yang berarti biji kurma. Bahkan nuklir yang bisa meledak dengan dahsyat itu, bahasa Arab nya adalah “nawawy”.

Berdasarkan pendekatan secara bahasa, niat bisa dianalogikan sebagai laksana biji atau benih. Selain memilih lahan yang bagus, seorang petani yang menginginkan hasil panen maksimal, maka dia harus memilih benih yang pas dan sesuai yang diinginkan.

Jika yang ditanam adalah benih jagung, maka petani bisa panen dalam beberapa bulan berikutnya. Tetapi jika yang ingin ditanam adalah pohon jati misalnya, maka panennya menunggu bertahun-tahun. Namun jelas, hasil dari keduanya sangat berbeda tajam. Lebih penting dari itu, petani mukmin tidak menggantungkan hasil pada usaha kerasnya. Setelah ia berusaha dengan niat amal terbaik, maka hasilnya diserahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Ia tidak bertumpu kepada kehebatan diri, tetapi kepada Allah Yang Maha Pemberi.

Baca Juga :  Apakah Zakat Fitrah Perlu Didasari dengan Niat?

Biji tak mesti terkait tanaman, biji atom pun juga bisa dijadikan analogi. Ledakan nuklir yang dahsyat yang dalam bahasa Arabnya adalah “an-nawawy”, jikalau diuraikan isinya adalah kumpulan dari biji atom. Yang membelah dan bertubrukan dengan atom lainnya sehingga melahirkan energi dahsyat. Berangkat dari sini, pembaca bisa memahami sabda nabi mengenai niat. “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”(HR Bukhari dan Muslim)

Amalan yang tadi dianalogikan sebagai ladang, bergantung pada niat atau bijinya. Niat baik akan mengantar pada kebaikan dan niat jelek akan mengantar pada kejelekan. Dalam kasus sahabat nabi misalnya, ada yang berniat hijrah untuk dunia (mengawini wanita cantik), maka dia hanya akan mendapatkan itu. Tapi, jika niatnya untuk kebaikan jangka panjang hingga akhirat, maka dirinya akan mendapat keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Dan bisa dipastikan bahwa yang mendapat ridha-Nya maka akan mendapatkan surga-Nya.

Baca Juga :  Inilah Dalil Niat Berhaji untuk Orang Lain

Bagaikan biji kurma yang tak terlepas dari pengawasan Allah yang Maha Menumbuhkan, yang disebut Al Quran sebagai “Fāliqu al-Habbi wa an-Nawā” (QS Al-An’am [6]: 95), maka orang mukmin selain mematrikan niat yang bagus kemudian disertai dengan amal baik. Namun ujungnya dia serahkan kepada Allah yang Maha Mengawasi dan Membolak-balikkan niat hamba-Nya.

Dengan demikian, menjadi dahsyat dengan niat adalah dengan memancangkan niat yang bagus dalam benak (yang di dalamnya mengandung perencanaan dan peta visi-misi yang jelas). Kemudian berupaya mengamalkannya dengan baik. Lalu diiringi kepasrahan penuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Niat semacam ini, insyaallah layaknya nuklir (An-nawawy) akan menimbulkan ledakan kesuksesan yang dahsyat di dunia dan akhirat.

Kontributor: Mahmud Budi Setiawan
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.