Menjadi Pribadi yang Sabar
Ilustrasi seorang laki-laki. (Ils: Jerzy Wierzy /Dribbble)

Suaramuslim.net – Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada suatu problematika yang selalu berkesinambungan silih berganti. Di situ akan menimbulkan suatu sikap atau perilaku yang ditujukan pada suatu masalah tersebut. Terkadang masalah bisa disikapi secara negatif atau pun positif tergantung pada setiap individu. Bisa saja dengan kepala dingin, marah-marah atau gegabah, tergantung kita bagaimana mengelolanya. Kunci pertama yang dipakai untuk mengendalikan sikap yang kurang baik itu adalah sabar.

Definisi Sabar

Menurut ulama, kesabaran adalah suatu akhlak mulia yang dimiliki oleh seseorang, yang dengannya dia mampu menahan diri dari perbuatan yang tidak baik dan tidak patut. Imam Al-Junaid ibnu Muhammad pernah ditanya tentang kesabaran, lalu beliau menjawab, ”Sabar itu seperti meneguk minuman pahit tanpa bermuka masam”. Menurut Ilmu tasawuf, sabar adalah keadaan jiwa yang kokoh, stabil dan konsekuen dalam pendirian. Jiwanya tidak tergoyahkan, pendiriannya tidak berubah bagaimana pun berat tantangan yang dihadapi.

Dari pendapat tersebut, kita bisa tarik sebuah definisi bahwa sabar adalah suatu pengendalian diri  untuk menerima keadaan tetapi berusaha untuk menjadi insan yang sejati. Sabar memiliki pembagian, yaitu sabar dalam dalam beribadah kapada Allah, sabar dalam menahan maksiat, dan sabar dalam menghadapi cobaan.

Baca Juga :  Menghadapi UNAS dengan Dimensi Isra - Mi’raj

Sabar dalam beribadah kepada Allah

Saat beribadah, terkadang timbul perasaan berat dikarenakan itu adalah kewajiban. Saat beginilah membutuhkan sifat atau perlakuan yang namanya sabar. Biasanya ini dikendalikan dengan memaksa tubuh untuk melakukan ibadah.

Mengapa demikian? Dikarenakan tubuh ini yang diinginkan adalah kenikmatan secara lahiriyah seperti tidur, makan dan minum, dan batin. Contohnya zikir atau salat adalah kenikmatan secara batiniyah.

Apabila rasa berat atau kemalasan itu hilang, akan naik tingkat yaitu menjalankan ibadah bukan karena kewajiban, dikarenakan menjadi suatu bagian dari diri kita. Ketika kita tidak segera menjalankan ibadah tersebut akan merasa gelisah atau ada sesuatu yang kurang dari diri kita. Selanjutnya, sabar juga akan naik tingkat lagi menjadi cinta, seseorang yang dilanda cinta menjalankan sesuatu tidak akan merasa berat dikarenakan Allah selalu dekat dengan dirinya.

Sabar terhadap maksiat

Sabar dalam menahan maksiat merupakan penahanan nafsu untuk melakukan sesuatu hal yang negatif. Sebenarnya maksiat itu adalah sesuatu hal yang kita sukai, tetapi dilarang dalam syariat agama Islam dikarenakan memiliki sifat yang merusak fisik maupun psikis kita. Maksiat cenderung yang mengendalikan adalah nafsu rasa ingin merasakan kenikmatan.

Baca Juga :  Tawakal dalam Persepektif Al Quran dan Hadits

Nafsu adalah fitrah dari Allah, namun untuk dipergunakan pada tempatnya. Biasanya maksiat itu berhubungan dengan panca indera kita yang harus dijaga dari perbuatan yang tidak baik. Kebanyakan penyakit juga bisa timbul dari panca indera ini.

Contoh saja dari mata yang sering melihat pornografi kemungkinan akan ada kerusakan saraf di bagian sekitar mata dan bisa saja kemandulan. Misalkan lagi, kita dihadapkan pada suatu perkara yang memancing emosi, akan terjadi gumpalan energi atau tegangan saraf bagian dada ini disertai kejengkelan yang belum diluapkan pada aktuator seperti mulut, tangan dan seterusnya. Apabila ini diluapkan tegangan otot atau energi ini akan naik ke kepala. Dari sinilah biasanya akan timbul penyakit apapun itu.

Solusi dari ini adalah istigfar dan menghirup udara dari hidung dalam-dalam, lalu dihembuskan lewat mulut. Dan untuk menahan mata dari maksiat adalah menundukkan pandangan, tetapi tidak menyinggung perasaan orang lain. Dan cara untuk menanggulangi secara menyeluruh yaitu dengan puasa dari dhohir maupun batin, dengan melatihnya sedikit demi sedikit.

Baca Juga :  Strategi Nabi Ya'qub dalam Mengelola Konflik Anak

Sabar terhadap cobaan

Selanjutnya, sabar dari cobaan Allah merupakan perilaku yang dilaksanakan olej seseorang yang akan naik derajat. Seperti anak sekolah, apabila ingin naik kelas harus mengikuti ujian yang menentukan lulus atau tidak lulus. Biasanya kebanyakan orang spiritualis menghadapi ini dengan tidak banyak mengeluh dan menjalani apa adanya. Dikarenakan yang menghambat insan tersebut berkembang yaitu banyak mengeluh dan berat hati dalam menghadapinya. Mungkin memang berat hati atau banyak mengeluh, tetapi harus tetap dijalani agar perkara tersebut cepat berlalu atau selesai.

Dari uraian di atas sebenarnya kuncinya adalah ikhlas. Ikhlas memang berat, tetapi tetap ada sebuah tahapan agar mencapai puncak keikhlasan yang sejati. Hadapi secara dhohir dengan tersenyum dan batin tetap berzikir kepada Allah SWT, dengan melatih sedikit demi sedikit. Dan mempertegas diri, misalkan suatu perbuatan ditelaah dari akal dan hati yang nantinya memiliki output yang tidak baik, maka jangan dilakukan. Dan apabila perbuatan itu baik secara akal dan hati, maka lakukanlah selama perbuatan itu tidak merugikan orang lain.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Kontributor: Nilo Suwarno
Editor: Oki Aryono

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.