Belajar Dari Tongkat Ajaib Nabi Musa
Ilustrasi penggembala kambing di perbukitan.

Suaramuslim.net – Islam agama sempurna. Bentuk kesempurnaan Islam tercerminkan pada lingkungan yang tak luput mendapat perhatian. Alam termasuk ciptaan Allah yang patut dipelihara. Tidak dirusak atau dibiarkan rusak.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al Hijr: 19)

Allah menumbuhkan apa yang terhampar di bumi dalam bentuk ukuran yang jelas. Jelas dalam pemakaian dan perawatan , sehingga tetap terjaga keseimbangan di alam. Kemudian kerusakan bisa dimiminalisir kala pemanfaatan.

Orang beriman selalu mengingat Allah tatkala melihat ciptaan yang luas. Bisa sambil berdiri maupun duduk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (serasa berkata),”Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran: 191)

Tidak boleh yang mengaku sebagai muslim menyebar kerusakan alam. Menebang pohon tanpa menyiapkan benih. Tidak membuang sampah sekadar buang sampah. Namun juga harus berpikir untuk mendaur ulangnya.

Baca Juga :  Politik dalam Siyasah

Syariat Islam begitu memperhatikan kelestarian alam, bahkan dalam kondisi jihad (perang fisabilillah). Tidak boleh membakar dan menebangi pohon. Jika terpaksa harus ada alasan yang jelas.

Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang ada sekarang, seperti pembalakan liar dan penebangan pohon, merupakan buah dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Rum: 41)

Mujahid mengatakan, ”Apabila orang zalim berkuasa lalu ia berbuat zalim dan kerusakan, maka Allah akan menahan hujan karenanya, hingga hancurlah persawahan dan anak keturunan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan.” Kemudian beliau membacakan ayat di atas.

Pusat kerusakan dimulai dari pemimpin yang rusak. Pemimpin yang tidak peduli dengan rakyat dan lingkungan. Kebijakan yang diambil hanya membangun tanpa peduli menghijaukan lingkungan. Pembangunan hotel dengan pengambilan air tanah besar-besaran. Pemberian izin kepada pengusaha properti untuk merambah tanah sawah untuk dibangun perumahan.

Baca Juga :  Beginilah Pemberdayaan Masjid Saat Nabi di Makkah

Secara khusus Ibnu Katsir menambahkan dalam menjelaskan ayat di atas, ”Zaid bin Rafi’ berkata, ”Telah nampak kerusakan maksudnya hujan tidak turun di daratan yang mengakibatkan paceklik dan di lautan yang menimpa binatang-binatangnya.”

Kerusakan lingkungan bisa fatal bagi kelangsungan kesehatan manusia. Paru-paru kotor, mudah letih, suhu menjadi lebih panas dan terjadi gagal panen. Hal-hal itu diakibatkan oleh cuaca yang tidak menentu. Bahkan muncul cuaca ekstrem.

Untuk memotivasi umat merawat lingkungan, Rasulullah memotivasi umat untuk rajin menanam pohon, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah.” (HR Bukhari)

Dengan menanam pohon berarti sudah ada andil dalam merawat lingkungan. Hasil dari pohon tersebut bisa bernilai sedekah kepada binatang (burung) dan manusia dengan buahnya. Akarnya bisa membuat tanah terikat dengan baik. Nikmat mana lagi yang engkau dustakan?

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.