Menjelang Muswil ICMI Jatim: Cendekiawan yang Kehilangan Jalan Pulang

M Isa Ansori (2)

Suaramuslim.net – Menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) ICMI Jawa Timur 4 Juli 2026, ada kegelisahan yang layak direnungkan bersama: masihkah ICMI hadir sebagai kekuatan yang benar-benar dirasakan umat?

Pertanyaan ini penting diajukan bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan sebagai bentuk cinta terhadap organisasi cendekiawan Muslim yang pernah menjadi simbol kebangkitan intelektual umat Islam Indonesia.

Sebab ICMI lahir bukan sekadar sebagai ruang diskusi para intelektual, tetapi sebagai gerakan pemikiran yang diharapkan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ketika Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia berdiri pada tahun 1990, ia membawa harapan besar. ICMI menjadi titik temu antara ilmu pengetahuan, keislaman, dan keberpihakan sosial.

Di masa itu, ICMI tidak hanya bertengkar dalam ruang gagasan, tetapi juga berani mengeksekusi gagasan menjadi solusi.

Lahirnya Bank Muamalat Indonesia adalah contoh nyata bagaimana gagasan keislaman diterjemahkan menjadi instrumen ekonomi umat. Kehadirannya memberi jalan bagi masyarakat Muslim untuk membangun sistem keuangan yang lebih etis dan terbebas dari praktik riba.

Demikian pula dengan Republika yang pernah menjadi simbol hadirnya media pencerahan di tengah kebutuhan umat terhadap informasi yang sehat, mencerahkan, dan berpihak pada nilai.

ICMI pernah membuktikan bahwa cendekiawan tidak cukup hanya berpikir. Cendekiawan harus mampu menghadirkan jalan keluar.

Namun waktu berubah. Reformasi membuka banyak ruang baru. Politik berubah arah. Organisasi-organisasi tumbuh dengan dinamika masing-masing. Di tengah perubahan itu, perlahan ICMI seperti mengalami pergeseran orientasi. Energi besar yang dahulu terasa hidup di tengah masyarakat mulai menjauh dari denyut persoalan rakyat.

Hari ini, ICMI tetap dipenuhi sumber daya manusia luar biasa: profesor, doktor, akademisi, birokrat, profesional, dan tokoh pemikiran. Tetapi dalam banyak hal, kekuatan itu sering kali berhenti pada seminar, jurnal, forum diskusi, dan opini media.

Gagasan terus diproduksi, tetapi masyarakat kecil tidak selalu merasakan dampaknya secara nyata. Padahal persoalan rakyat semakin kompleks. Kemiskinan tidak selesai hanya dengan seminar.

Anak-anak yang kehilangan masa depan tidak cukup diselamatkan oleh pidato intelektual. Generasi muda yang gelisah membutuhkan pendampingan nyata, bukan sekadar wacana. Masyarakat yang terjebak dalam lilitan ekonomi membutuhkan solusi konkret, bukan hanya narasi keummatan.

Di titik inilah kegelisahan itu muncul: jangan-jangan cendekiawan kita sedang kehilangan jalan pulang. Jalan pulang kepada umat. Jalan pulang kepada pengabdian. Jalan pulang kepada kebermanfaatan sosial. Jalan pulang kepada cita-cita awal bahwa ilmu harus menjadi rahmat bagi kehidupan.

Bukankah Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin? Maka organisasi cendekiawan Muslim semestinya juga hadir membawa rahmat yang dapat dirasakan masyarakat secara nyata.

Karena itu, Muswil ICMI Jawa Timur 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai agenda rutin organisasi atau sekadar pergantian kepemimpinan.

Muswil harus menjadi momentum refleksi besar: ke mana arah perjuangan ICMI akan dibawa?

ICMI tidak boleh terus hidup di menara gading intelektual. Ilmu yang terlalu lama terkurung dalam ruang seminar akan kehilangan makna sosialnya.

Cendekiawan tidak cukup hanya menjadi penonton penderitaan rakyat sambil memproduksi analisis dan rekomendasi.

ICMI harus turun ke bumi. Turun menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat. Turun mendengar kegelisahan anak muda. Turun membersamai petani, nelayan, buruh, guru, dan masyarakat kecil. Turun menjadi solusi atas problem pendidikan, ekonomi, media, dan krisis moral masyarakat.

ICMI Jawa Timur memiliki modal besar untuk itu. Tradisi pesantren yang kuat, jaringan akademik yang luas, kultur gotong royong masyarakat, serta kekayaan sumber daya intelektual adalah kekuatan besar yang seharusnya mampu diubah menjadi gerakan sosial yang nyata.

Sudah saatnya ICMI tidak hanya menjadi produsen gagasan, tetapi juga eksekutor gagasan. ICMI harus mulai membangun gerakan pemberdayaan ekonomi umat, sekolah-sekolah yang membahagiakan, pusat literasi digital, inkubasi anak muda kreatif, klinik sosial untuk masyarakat kecil, hingga gerakan media yang sehat dan mencerdaskan.

Sebab masyarakat hari ini tidak membutuhkan organisasi yang hanya pandai menjelaskan masalah. Masyarakat membutuhkan organisasi yang hadir membersamai mereka menghadapi kehidupan.

ICMI tidak bisa terus bergantung pada kekuatan luar. ICMI harus menjadi dirinya sendiri. Berdiri dengan identitas gerakannya sendiri. Menjadi organisasi cendekiawan yang independen, membumi, dan memiliki keberanian untuk hadir langsung di tengah persoalan umat.

Muswil 2026 harus menjadi titik balik. Bukan hanya memilih ketua, tetapi memilih jalan sejarah. ICMI dan organisasi organisasi sayapnya harus terjahit, menjadi satu barisan, barisan yang mampu menemukan jalan pulang. Jalan menciptakan gerakan sosial untuk kemaslahatan ummat.

Apakah ICMI akan tetap menjadi ruang elite intelektual yang nyaman dengan diskusi dan pertemuan-pertemuan gagasan? Ataukah ICMI akan kembali menemukan jalan pulangnya; jalan pulang menuju umat, pengabdian, dan kebermanfaatan sosial?

Karena pada akhirnya, ilmu yang paling mulia bukanlah ilmu yang hanya memenuhi ruang percakapan, melainkan ilmu yang mampu menjelma menjadi rahmat bagi umat dan kehidupan.

Surabaya, 24 Mei 2026

M. Isa Ansori
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.