Suaramuslim.net – Momentum Tahun Baru Hijriah senantiasa menghadirkan dua hal sekaligus: muhasabah atas perjalanan yang telah dilalui dan optimisme untuk menyongsong masa depan yang lebih baik.
Jika dalam kehidupan modern banyak orang mengenalnya sebagai resolusi tahunan, maka dalam tradisi Islam, Muharram menjadi saat yang tepat untuk memperbarui komitmen ketakwaan dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Semangat tersebut tampak dalam Kajian Spesial Muharram yang diselenggarakan oleh DKM Masjid Baitun Nur, Kompleks PLN Nusantara Power Ketintang Surabaya, bekerja sama dengan Program KIBLAT (Kajian Islam Buat Talenta Hebat) Griya Al Qur’an.
Kajian yang berlangsung selepas Shalat Dzuhur berjamaah ini menghadirkan Ustadz Heru Kusumahadi Lc., M.Pd.I sebagai narasumber.
Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, Ustadz Heru membuka kajian dengan pertanyaan sederhana kepada jamaah.
“Sekarang bulan apa?”
Serentak jamaah menjawab, “Muharram.”
Beliau kemudian berkelakar bahwa ketika ditanya bulan apa, kebanyakan orang akan menjawab berdasarkan kalender Masehi. Namun suasana berbeda terasa di Masjid Baitun Nur, di mana kesadaran terhadap kalender Hijriah tetap terjaga dan hidup di tengah lingkungan kerja.
Perspekti bahasa & hasanah linguistik
Memasuki materi inti, Ustadz Heru mengajak jamaah melalukan pendekatan bahasa melalui konsep polisemi atau dalam istilah bahasa Arab Ta’addud al-Ma’na yakni satu kata yang memiliki lebih dari satu makna yang saling berkaitan.
Dalam memahami Al-Qur’an dan bahasa Arab tidak cukup hanya menerjemahkan kata secara harfiah, tetapi juga perlu memahami akar makna yang melahirkan berbagai cabang pengertian.
Contoh pertama adalah kataa’udzu (أعوذ) yang biasa dibaca dalam kalimat ta’awudz. Kata ini berasal dari akar kata عاذ – يعوذ yang memiliki makna dasar perlindungan, penjagaan, dan kedekatan untuk memperoleh keselamatan.
Dari satu akar makna tersebut lahir beberapa pengertian yang saling berkaitan, di antaranya:
- Berlindung (الالتجاء), yaitu tindakan seseorang yang mencari perlindungan kepada Allah SWT.
- Tameng atau perisai (العِوَاذ), yaitu sarana atau benteng yang digunakan untuk melindungi diri dari bahaya.
Kedua makna tersebut merupakan contoh polisemi karena memiliki hubungan logis yang kuat. Seseorang yang berlindung tentu membutuhkan tameng atau benteng perlindungan, sementara tameng ada karena fungsinya sebagai tempat berlindung.
Contoh keduayang menjadi pembahasan utama adalah kata Muharram (مُحَرَّم) yang berasal dari akar kata ح-ر-م (H-R-M).
Dalam literatur bahasa Arab klasik, akar kata ini memiliki makna dasar sesuatu yang dijaga, dimuliakan, dan memiliki batas yang tidak boleh dilanggar.
Dari akar makna tersebut lahir dua cabang pengertian yang tampak berbeda namun sebenarnya saling terhubung.
- Pertama, makna suci, mulia, dan terhormat.
Karena kemuliaannya, sesuatu harus dijaga dan dihormati. Oleh sebab itu terdapat istilah Tanah Haram di Makkah dan Madinah serta Bulan Muharram yang termasuk dalam Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT).
- Kedua, makna dilarang atau terlarang.
Karena sesuatu itu suci dan mulia, maka muncul berbagai larangan untuk menjaga kehormatan dan kesuciannya. Sebagaimana pada masa Arab dahulu peperangan dilarang pada bulan Muharram sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian bulan tersebut.
“Dari sinilah kita memahami bahwa sesuatu itu dilarang justru untuk menjaga sesuatu yang suci,” terang beliau.
Manusia lebih sering diuji melalui larangan
Berangkat dari pemahaman tersebut, Ustadz Heru kemudian menjelaskan bahwa hakikat ketakwaan bukan hanya menjalankan perintah Allah SWT, tetapi juga kemampuan menjaga diri dari berbagai larangan-Nya.
Menurut beliau, justru bagian yang paling berat dalam kehidupan seorang mukmin adalah menjauhi larangan.
Sebagai ilustrasi, beliau mencontohkan pelaksanaan salat Jumat. Datang ke masjid merupakan perintah yang relatif mudah dilakukan. Namun setelah berada di dalam masjid, seseorang diuji dengan berbagai larangan; tidak berbicara saat khutbah berlangsung, tidak bermain dengan hal-hal yang melalaikan, serta menjaga kekhusyukan hingga khutbah selesai.
“Setiap perintah belum tentu merupakan larangan. Tetapi setiap larangan pasti mengandung perintah untuk menjaga sesuatu yang lebih baik,” jelasnya.
Beliau kemudian mengutip pelajaran dari kisah para makhluk Allah SWT. Malaikat diuji dengan sebuah perintah, yakni bersujud kepada Nabi Adam AS. Sementara Nabi Adam AS justru diuji melalui sebuah larangan, yaitu agar tidak mendekati pohon tertentu di dalam surga.
Dari kisah tersebut, Ustadz Heru mengingatkan bahwa manusia sering kali tergelincir bukan karena tidak mengetahui perintah, melainkan karena tidak mampu menjaga diri dari sesuatu yang telah dilarang.
Karena itulah, bulan Muharram menjadi momentum yang tepat untuk melatih diri menahan hawa nafsu, menjaga batas-batas yang telah Allah tetapkan, dan memperkuat komitmen ketakwaan. Sebab ketika seseorang mampu meninggalkan yang haram, ia akan terjaga dari dosa. Dan ketika dosa-dosa dapat dijauhi, ia akan menjadi pribadi yang lebih bersih, mulia, terhormat, dan selamat di hadapan Allah SWT.
Ketua DKM Masjid Baitun Nur, Bapak Jazwadi, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kajian tersebut.
Menurutnya, tema Muharram yang diangkat sangat relevan dengan semangat evaluasi diri di awal tahun Hijriah.
“Kami sudah cukup lama tidak berkesempatan mengikuti kajian bersama Ustadz Heru. Meskipun pelaksanaannya sempat mengalami penyesuaian waktu, Alhamdulillah kajian ini dapat terlaksana dan menjadi penyejuk di tengah momentum pergantian tahun serta penyusunan berbagai rencana kerja,” tuturnya.
Jazwadi yang juga menjabat sebagai Spesialis Manajemen Lingkungan 1 Divisi HSSE PLN Nusantara Power tersebut berharap kajian-kajian serupa dapat terus menghadirkan nilai spiritual yang memperkuat budaya kerja dan ukhuwah di lingkungan perusahaan.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah pegawai dari beberapa unit PLN Nusantara Power, termasuk perwakilan dari Paiton yang sedang melaksanakan kunjungan kerja di Surabaya. Para peserta tampak antusias mengikuti kajian hingga akhir sesi.
Melalui kajian ini, jamaah tidak hanya memperoleh pemahaman linguistik yang menarik tentang makna Muharram, tetapi juga mendapatkan pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya ditentukan oleh banyaknya amal yang dilakukan, melainkan juga oleh kemampuannya menjaga diri dari berbagai larangan Allah SWT.
Sebuah pelajaran berharga untuk mengawali tahun baru Hijriah dengan hati yang lebih bersih, langkah yang lebih terarah, dan semangat ketakwaan yang semakin kuat.
Intisari Kajian Islam buat Talenta Hebat (KIBLAT) Griya Al Qur’an di Masjid Baitun Nur PLN Nusantara Power Surabaya, 25 Juni 2026.

