Suaramuslim.net – ICMI punya sejarah panjang, dan sejarah itu terlalu berharga kalau hanya berhenti sebagai kenangan. Ia perlu dirawat, diperbaiki, dibaca lewat data, lalu diteruskan menjadi gerakan strategis yang benar-benar terasa manfaatnya.
Setiap organisasi besar punya masa untuk membaca ulang dirinya. Bukan karena kehilangan arah, tetapi karena zaman terus bergerak. Kebutuhan umat berubah. Cara orang berkomunikasi juga berubah. Maka cara organisasi bekerja pun perlu ikut diperbaiki, pelan-pelan, tanpa kehilangan akar.
ICMI lahir dari semangat besar para cendekiawan muslim. Semangat itu tidak kecil. Ia pernah menjadi ruang bertemu banyak gagasan, jejaring, dan harapan. Tetapi sejarah yang besar tetap membutuhkan cara kerja yang terus diperbarui agar tidak hanya dikenang, melainkan diteruskan.
Dulu ICMI memiliki dukungan besar dan jaringan yang luas. Itu modal penting. Namun modal yang paling tahan lama tetaplah kemampuan organisasi untuk belajar dari pengalaman, menyimpan pengetahuan, lalu membagikannya kepada generasi berikutnya.
Banyak pengalaman baik sebenarnya sudah ada. Hanya saja, tidak semuanya sempat dicatat atau diwariskan. Lama-kelamaan, hal yang dulu pernah dikerjakan dengan baik harus dipelajari lagi dari awal.
Ini sayang sekali, karena energi organisasi bisa habis hanya untuk mengulang hal yang sama.
Di sinilah gagasan Knowledge Management menjadi relevan. Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi dalam The Knowledge-Creating Company (1995) menjelaskan bahwa pengetahuan perlu diciptakan, dibagikan, dan dihidupkan dalam tindakan organisasi. Pengetahuan tidak cukup hanya tinggal di kepala orang per orang. Ia perlu mengalir menjadi ingatan bersama.
Bagi ICMI, ini penting. Pengalaman daerah, catatan kegiatan, jejaring tokoh, dan pelajaran kecil dari setiap program bisa menjadi bahan belajar bersama. Tidak harus rumit. Yang penting ada kebiasaan mencatat, menyimpan, dan membagikan.
Ricky W. Griffin dalam Fundamentals of Management (2022) menjelaskan bahwa organisasi adalah sistem terbuka. Ia hidup dari informasi, umpan balik, dan pembelajaran. Mungkin karena itu, organisasi yang sehat biasanya senang mendengar cerita dari banyak arah.
ICMI juga begitu. Pengetahuan dari pusat penting untuk memberi arah. Tetapi pengalaman daerah juga tidak kalah penting untuk membaca kenyataan. Banyak hal justru tampak lebih jelas dari lapangan: kebutuhan anggota, tantangan masyarakat, peluang kolaborasi, dan cara paling tepat menghadirkan manfaat.
Organisasi sebagai sistem tidak akan berjalan optimal tanpa keberanian membaca realitas. Dalam banyak pertemuan, kita kadang lebih mengandalkan kesan umum daripada data yang benar-benar terbaca. Program bisa terasa baik, tetapi tetap perlu ditanya kembali: apakah sudah sesuai kebutuhan, apakah dampaknya terasa, dan apakah pelajarannya dicatat?
Di sinilah pentingnya evidence-based management. Griffin menekankan bahwa keputusan yang baik perlu bertumpu pada bukti, data, dan pembelajaran. Tentu intuisi tetap penting, apalagi dalam organisasi sosial. Tetapi intuisi akan lebih kuat kalau ditemani data yang jernih.
Pesan serupa pernah disampaikan Wapres Jusuf Kalla dalam penutupan Silaknas dan Milad ke-28 ICMI di Bandar Lampung, 8 Desember 2018. Menurut beliau, ICMI perlu memperkuat kelompok-kelompok keilmuan di bidang teknologi, ekonomi, sosial, dan kewirausahaan agar kontribusinya terhadap kemakmuran bangsa semakin nyata, bukan hanya berhenti pada konferensi.
Pesan ini terasa dekat dengan kebutuhan ICMI hari ini: bergerak dari gagasan menuju karya.
Maka sistem yang dibutuhkan ICMI bukan hanya perangkat digital atau laporan kegiatan. Itu penting, tetapi belum cukup. Sistem yang hidup adalah cara berpikir bersama yang mau mendengar data, membaca kebutuhan, mencatat pengalaman, dan memperbaiki langkah berikutnya.
Kalau bicara data, tentu bukan hanya angka kehadiran atau jumlah kegiatan. Yang lebih penting adalah dampaknya: siapa yang terbantu, apa yang berubah, dan pelajaran apa yang bisa dibawa pulang. Data semacam ini bukan hanya bahan evaluasi. Ia juga jendela empati.
Dari data, ICMI bisa memahami irama tiap daerah. Ada daerah yang kuat jejaringnya, ada yang kuat gagasannya, ada yang butuh pendampingan, ada pula yang sebenarnya punya praktik baik tetapi belum sempat terdengar.
Data membantu semua itu terbaca lebih adil.
Karena itulah, data tidak terasa dingin. Ia menjadi cara untuk mendengar. Ia membantu organisasi mengenali suara yang belum muncul dalam rapat, membaca kebutuhan yang belum tertulis dalam proposal, dan menemukan ruang manfaat yang selama ini mungkin belum tersentuh.
Tantangan lain yang perlu dirawat adalah hubungan lintas generasi. ICMI memiliki kekayaan pengalaman yang besar. Di sisi lain, generasi muda membawa cara pandang baru, teknologi baru, dan energi baru. Dua kekuatan ini sebaiknya tidak saling menunggu terlalu lama.
Generasi muda ICMI siap membawa cara baru. Tinggal bagaimana ruang dialognya dibuat nyaman, agar ide segar tidak berhenti di tahap loading. Istilahnya sederhana: Wi-Fi organisasi harus sama-sama kuat. Ini humor kecil, tetapi pesannya serius.
Sebaliknya, generasi muda juga perlu belajar dari pengalaman panjang para senior. Tidak semua hal lama harus ditinggalkan. Ada nilai, adab, jejaring, dan kebijaksanaan yang justru menjadi akar. Yang perlu diperbaiki bukan semangatnya, melainkan cara menyambungkan pengalaman lama dengan kebutuhan baru.
ICMI memiliki banyak orang berilmu. Yang perlu terus dirawat adalah cara menyambungkan ilmu itu menjadi sinergi. Bukan soal siapa yang paling hebat. Yang lebih penting, bagaimana gagasan, pengalaman, dan jejaring bisa saling bertemu lalu bergerak bersama.
Ilmu yang berhenti di meja rapat akan menjadi catatan. Ilmu yang dibagikan akan menjadi pembelajaran. Ilmu yang digerakkan bersama akan menjadi manfaat. Di sini ICMI punya ruang besar untuk terus tumbuh.
Karena itu, budaya dokumentasi dan berbagi perlu diperkuat. Kegiatan yang sudah berjalan sebaiknya meninggalkan jejak belajar. Rapat yang sudah dilakukan sebaiknya menyisakan catatan yang mudah ditemukan. Pengalaman daerah yang baik sebaiknya dihimpun, dibaca, dan dibagikan.
ICMI punya banyak ruang silaturahim cendekia. Mungkin sudah saatnya juga ada “silaturahim data”, karena data pun perlu dipanggil ke meja kopi. Maksudnya sederhana: angka, laporan, cerita lapangan, dan pengalaman kegiatan perlu dibicarakan dengan suasana yang hangat. Data tidak harus membuat organisasi menjadi kaku.
Kompas baru ICMI bukan hanya strategi besar di atas kertas. Ia bisa dimulai dari hal yang sederhana: data yang dirapikan, pengalaman yang dicatat, komunikasi yang dibuat lebih hangat, dan ruang belajar yang dibuka lebih luas. Tidak perlu semuanya sempurna dulu. Yang penting mulai, lalu dijaga.
Mungkin inilah inti dari artikel ini. ICMI tidak sedang diminta meninggalkan masa lalunya. Justru masa lalu itu perlu dihormati dengan cara terbaik: melanjutkannya dalam bentuk kerja yang lebih relevan, lebih terukur, dan lebih terasa manfaatnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Terjemah Q.S. Ar-Ra’d [13]: 11).
Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan tidak datang begitu saja. Ia tumbuh dari kesediaan untuk memperbaiki diri, menata cara kerja, dan menjaga niat agar tetap lurus.
Maka merawat arah bersama bukan hanya urusan manajemen. Ia juga bagian dari amanah moral. ICMI perlu terus menyalakan semangat belajar, memperbaiki cara bergerak, dan menghadirkan manfaat yang lebih nyata bagi umat dan bangsa.
Selama semangat belajar itu tetap ada, ICMI akan selalu punya alasan untuk bergerak. Mungkin langkahnya tidak selalu cepat. Tetapi selama orang-orangnya mau saling mendengar, saling menguatkan, dan tetap percaya bahwa ilmu harus memberi manfaat, harapan itu akan tetap menyala.
Dan dari sanalah masa depan ICMI bisa dirawat. Tidak dengan tergesa-gesa. Tidak juga dengan sekadar mengenang. Tetapi dengan kerja yang lebih sadar, data yang lebih terbaca, empati yang lebih terasa, dan niat baik yang terus dijaga.
Bagus Suminar
Wakil Ketua ICMI Jawa Timur

