Mewujudkan Masjid Sebagai Pusat Pengembangan Masyarakat
Simposium Nasional Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia di Auditorium Kahar Muzakkir, Kampus UII Yogyakarta, Senin (6/1).

YOGYAKARTA (Suaramuslim.net) – Masjid sebaiknya memasang wifi sehingga membuat anak muda lebih betah di masjid. Masjid yang tidak ada wifi-nya berarti masjid itu untuk orang tua. Demikian penjelasan Ustaz M. Jazir, Pengurus Masjid Jogokariyan dalam simposium nasional optimalisasi tiga pilar dakwah (masjid, pesantren dan kampus) di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Senin (6/1).

Ungkapan Ustaz Jazir disambut geeerr tawa peserta simposium nasional yang mayoritas peserta rakornas dewan dakwah, seolah terkena sindirian Ustaz Jazir yang bicara lugas dan ceplas ceplos.

Ustaz Jazir menjelaskan, saat ini Masjid Jogokariyan dipercaya mengelola tanah beberapa hektar di Bekasi dan sekitar Jakarta untuk dikembangkan menjadi kawasan muslim terpadu dengan masjid sebagai sentra aktivitas dakwah dan sinergi usaha seperti halnya masjid Jogokariyan.

Kedepan ia punya obsesi umat Islam memiliki kawasan hunian bergengsi yang tidak kalah dengan pengembang-pengembang besar seperti Podomoro, Agung Sedayu, dan lain-lain.

Sementara itu Ustaz Irwitono selaku Ketua Dewan Pembina Masjid Al Falah Surabaya dalam simposium nasional itu menyampaikan gagasannya tentang ”Road to Al Falah 2030″ yang akan menjadikan Masjid Al Falah Surabaya sebagai community development center dengan dakwah sebagai pilar utama.

“Masjid harus dikelola profesional, informatif, transparan dan akuntabel untuk mendapatkan kepercayaan umat,” ujarnya.

Prosesnya tidak instan dan semudah yang dibayangkan. Diperlukan sinergi pembina, pengurus dan takmir untuk mewujudkan target dan capaian yang terukur sehingga masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari masjid melalui program-programnya seperti fasilitas pendidikan unggul dan pengelolaan ziswaf berbasis pemberdayaan dan kewirausahaan.

Simposium ini merupakan acara dari Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang mengumpulkan para pakar dakwah dengan tema “Optimalisasi Tiga Pilar Dakwah (Masjid, Pesantren dan Kampus) Guna Memperkokoh NKRI Menuju Indonesia Maju yang Diridhoi oleh Allah SWT.”

Kegiatan ini membahas strategi dakwah untuk segmen masjid, pesantren dan kampus. Ketiga segmen ini sering disebut “Tiga Pilar Dakwah” oleh Allahyarham Mohammad Natsir sebagai pendiri DDII pada setengah abad yang lalu.

Simposium dilaksanakan bekerja sama dengan Universitas Islam Indonesia (UII), yang dahulunya pernah dirintis oleh Mohammad Natsir, pada tanggal 6 Januari 2020 di Auditorium Kahar Muzakkir, Kampus UII Yogyakarta.

Kontributor: Fajar Arifianto
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.