Mukmin Itu Qonaah, Bukan Bermewah-mewah

Mukmin Itu Qonaah, Bukan Bermewah-mewah

Mukmin Itu Qonaah, Bukan Bermewah-mewah
Ilustrasi pemuda bersepeda

Suaramuslim.net – Jiwa tak akan kenyang jika tak tersentuh qonaah

Walau beribu purnama dimilikinya

Dunia hanya tipuan bagai kilatan mutiara di tanah gersang

Wahai hamba Allah, segalanya akan berakhir

Kita telah tertuang, pada takdir yang bersanding menunggu

(Abu Al-Atahiyah)

Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dibandingkan mukmin yang lemah. Kuat di sini bisa meliputi kuat secara jasadiah, fikriah maupun maaliah. Mungkin ketika Allah memberikan anugerah berupa kekuatan jasadiah atau fikriah, banyak orang yang masih bisa berpegang teguh kepada komitmen agamanya. Namun ketika Allah memberi anugerah berupa kekuatan maaliah, banyak orang yang mulai tergelincir menjadi hamba harta.

Ibarat meminum air lautan mereka akan semakin haus dan haus sehingga saling berlomba untuk mengumpulkan harta. Bila tak tersentuh jiwa qonaah orang akan semakin tergelincir dalam tipu daya dunia. Rasulullah sendiri pun termasuk orang yang kaya, yang juga memiliki beberapa kemewahan. Namun beliau juga hidup dalam keqonaahan. Lalu bagaimana Rasulullah menyeimbangkan antara hidup mewah dan qonaah tersebut?

Untuk sesuatu yang tidak begitu esensial, Rasulullah menggunakan sesuatu yang sangat sederhana. Pakaian Rasulullah biasa-biasa saja, tidak istimewa, memprihatinkan bahkan. Sandal beliau begitu juga. suatu ketika rusak atau sobek, maka beliau menjahitnya sendiri. Makanan beliau sederhana juga, tapi gizinya sangat terjaga. Rumah beserta perkakasnya semuanya sangat sederhana.

Tapi coba periksa fasilitas yang beliau pakai untuk memudahkan dakwah dan jihadnya. Kendaraan misalnya. Al-Qashwa, unta putih beliau adalah unta yang sangat tangkas, berkualitas tinggi, gesit, kecepatannya mengagumkan dan sangat sehat. Duldul, keledai beliau hadiah dari Muqaiqus, sangat kuat dan kukuh jalannya. Bahkan berumur panjang hingga masa kepemimpinan Muawiyah rhadiyallahu ‘anhu, kuda beliau adalah yang tertangkas, tergesit serta tercepat.

Allah dan Rasul-Nya ingin agar kita mendayagunakan setiap kekayaan dunia untuk meningkatkan kualitas diri, yang meliputi ruh, fikr, jasad. Jangan jadi hamba harta, jangan mempertuhankan dunia, begitu nasihat para ulama. Dan satu-satunya jalan untuk menujunya adalah memperhamba harta. Ya, memperhamba harta untuk peningkatan kualitas diri, secara ruh (spriritual), fikr (intelektual) dan jasad (fisikal).

Intinya bagaimana kita memanfaatkan harta yang kita miliki di dunia ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi penyelamat kelak di kehidupan akhirat. Tak salah memiliki barang-barang mewah selama itu untuk kepentingan dan tujuan dakwah. Namun bila hanya untuk kebanggaan pribadi, semoga kita lebih memilih jalan qonaah yang insyaallah lebih menyelamatkan dan menentramkan.

”Ya Allah jadikan dunia di tanganku, dan jadikan akhirat di hatiku.” Rasulullah hidup sederhana untuk masalah-masalah yang tidak berkaitan dengan tugasnya sebagai hamba dan utusan Allah. Tapi beliau sangat tidak sederhana untuk sebuah pengembangan kualitas diri dan pemudahan jalan ibadah kepada Allah. Wallahu a’lam bishawab.

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment