Otoritas Masjid

15
Otoritas Masjid
Masjid Dian Al Mahri, Depok (Foto: idntimes)

Suaramuslim.net – Konferensi Masjid Indonesia (KMI) 2018 ditayangkan dalam liputan Kabar Islam di Damai Indonesiaku TV One. Terima kasih kepada rekan-rekan jurnalis yang telah bekerja keras mengamplifikasi narasi Masjid Berdaya.

Sang narator program sangat apik membawakan liputan. Narasi bahwa masjid tidak hanya diharapkan menjadi tempat ibadah ritual diangkat terbuka. Harapan bahwa masjid bisa membawa kesejahteraan bagi jemaah di sekitarnya juga dibahas.

-Advertisement-

Tidak tanggung-tanggung, kali ini TV One menghadirkan Ustaz Abdul Shomad sebagai pemateri yang mengangkat tema Masjid Berdaya. Secara lugas ustaz mendorong agar masjid bangkit bergerak. Bergetar hati menonton Damai Indonesia tersebut.

Kita sebagai aktivis masjid pun merasakan gejolak yang sama. Kapan masjid bisa berdaya. Kapan masjid bisa melayani jemaahnya secara maksimal. Kapan masjid bisa makmur dengan shaf salat Subuh yang penuh. Kapan masjid bisa menjawab tantangan kesejahteraan umat. Batin kita menyuarakan hal yang sama.

Tetapi pertanyaannya mulai dari mana?

Pertanyaan ini jugalah yang banyak tertuju pada diri saya. Dari mana memulainya? Masjidnya ada, pengurusnya ada, jemaahnya ada, bagaimana konsep membangunnya.

Baca Juga :  Masjid Terpapar Radikalisme, DPR RI: BIN Harus Jelaskan Parameternya

Mudah-mudahan jawaban teknis saya kali ini dapat membantu: mulailah dari membedah “otoritas masjid”.

Saya akan sampaikan kasus sederhana.

Masjid yang baik adalah yang mampu melayani jemaah dengan baik. Jika saldo kas masjid 80 juta rupiah, dan hampir semua mukena dibeli 5 tahun yang lalu, bisakah kita sebagai pengurus masjid mengajukan anggaran penggantian mukena?

Jika meminta penggantian mukena saja sulit?

Jika meminta anggaran perbaikan pompa sumur wudhu saja rumit?

Jika sekadar memutuskan gaji cleaning service masjid 2 juta sebulan saja berat?

Maka otoritas masjid sedang tidak berpihak ke visi masjid makmur, otoritas masjid sedang tidak berpihak pada pelayanan jemaah.

Maka bagaimana selanjutnya?

Di titik inilah kerja keras para mukhlisin pengurus masjid diuji kemantapan batinnya. Langkah pertama jelas adalah komunikasi. Siapa yang memiliki otoritas pada keputusan program masjid? Siapa yang punya otoritas pada pembelanjaan dan kas operasional masjid? Itulah pihak yang memiliki otoritas, dan saudara seiman kita itulah yang harus kita ajak bicara.

Mengajak bicara otoritas masjid.
Membangun komunikasi dua arah yang santun.
Menghadirkan narasi masjid berdaya dengan hujjah dan dalil yang sahih.
Bersilaturahmi tatap muka dengan penuh niat baik dan sangka baik.

Baca Juga :  Menghadirkan Gagasan Pemberdayaan Masjid

Insyaallah Otoritas Masjid akan berpihak ke pelayanan jemaah.

Jika langkah teknis ini terlalui, jika pihak otoritas masjid sepakat untuk melayani jamaah, jika otoritas masjid tidak lagi ketakutan akan habisnya dana kas masjid, insyaAllah program masjid akan makmur, dan cepat atau lambat, akan lahir masjid berdaya.

Jika salat Shubuh di hari Ahad dihadiri 100 jemaah, bangunlah kegiatan makan prasmanan gratis tiap Ahad Subuh. 100 jamaah x 20.000 hanya 2 juta rupiah. Tidak besar bagi masjid yang punya kas 80 juta rupiah.

Bayangkan saja, ada 100 jemaah Subuh yang akhirnya makan-makan di teras masjid. Yang gak pernah ngobrol akhirnya ngobrol. Yang gak pernah salat Subuh bisa jadi salat Subuh, agar dapat sarapan pagi gratis. Yang belum pernah kenalan akhirnya kenalan. Dan dapat dipastikan, ibu-ibu akan rebutan nyumbang makanan di Ahad berikutnya. Tugas masjid cuma 1: memulai program ini dengan kas sendiri. Setelah itu umat akan auto refill kas masjid. Insyaallah.

Itu hal sederhana dari konsep pelayanan masjid. Ada pembangunan masjid secara fisik, tetapi harus ada juga pembangunan masjid secara non-fisik. Dan langkah ini memerlukan dukungan dari otoritas masjid.

Baca Juga :  Hal-Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Iktikaf

Semoga tulisan ini bermanfaat. Silakan diteruskan ke grup-grup WA pengurus masjid dan para aktivis masjid. Mari bangun semangat masjid berdaya, masjid yang bisa berpijak mandiri, dan bergerak mensejahterakan anggotanya.

Risalah Masjid Cahaya
Senin, 31 Desember 2018

Penulis: Rendy Saputra*

*Ketua Jejaring Masjid Titik Cahaya
Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.