papua
Massa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Papua Sejawa-Bali melakukan aksi unjukrasa damai di Depan Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Senin (19/8/2019). Aksi tersebut merupakan aksi solidaritas dan bentuk protes terhadap kekerasan serta diskriminasi rasial terhadap warga Papua yang terjadi di sejumlah kota yakni Surabaya, Malang dan Makassar. (Foto: Gatra.com)

Suaramuslim.net – Baru seminggu lebih Iduladha berlalu, kita disibukkan oleh Papua. Pada saat jemaah haji sedang berkemas balik ke tanah air, kerusuhan bernuansa SARA justru terjadi di negeri yg sedang sibuk merayakan kemerdekaannya.

Segera perlu diingat bahwa haji adalah sebuah perayaan atas kesatuan manusia tidak peduli suku, pangkat dan jabatan bahkan bangsanya. Mestinya makin jelas bagi manusia yang berpikir bahwa mempersatukan ratusan keunikan primordial tidak bisa diselesaikan dengan primordialitas atau adat-adat istiadat suku-suku itu.

Persatuan itu hanya mungkin dilakukan oleh pencipta manusia dengan semua kemajemukannya. Harus dipertegas bahwa Tuhan tidak saja Esa tapi juga Pemersatu. Jika ada Tuhan yang memecah belah pastilah Tuhan palsu.

Hiruk pikuk Papua diawali oleh cara pandang keliru dari Jakarta: Sekuler Kapitalistik yang haus pertumbuhan, abai pemerataan. Akibatnya adalah tanah Papua dilihat sebagai aset, tapi Papuan dilihat sebagai liability. Ini pokok persoalannya. Saling memaafkan yang diminta Presiden harus diartikan sebagai berhenti melakukan kekeliruan itu. Bukan basa-basi lalu kembali ke bisnis seperti biasa.

Baca Juga :  Wiranto Tegaskan Akan Tindak Pengibar Bintang Kejora

Ada acara memeratakan pembangunan yang lebih murah daripada memindahkan ibu kota. Pertama, membangun sektor maritim dengan lebih sungguh-sungguh. Hadir di laut dengan lebih efektif dengan berbagai jenis dan ukuran armada kapal. Memerintah di laut berbeda sekali dengan memerintah di darat. Saat ini kita belum memiliki pemerintahan di laut yang efektif. Mempersatukan Indonesia dengan menelantarkan kemaritiman adalah omong kosong belaka.

Kedua mengakhiri 3 zona waktu dan menggantinya dengan satu zona waktu. Sebut saja Waktu Persatuan Indonesia dengan mengacu Waktu Indonesia Tengah. Ini akan mengintegrasikan Indonesia ke pasar ASEAN dan mengurangi kesenjangan waktu produktif Indonesia Bagian Timur (terutama Papua) yang kehilangan 4 jam sehari karena zonasi waktu yang keliru ini.*

Gunung Anyar 20/8/2019
Daniel Mohammad Rosyid
Direktur Rosyid College of Arts and Maritime Studies

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.