Peran Ali bin Abi Thalib Sebagai Menantu Nabi dan Khalifah
Ilustrasi rumah di tengah padang pasir. (Foto: Microsoft.com)

Suaramuslim.net – Alkisah, ada anak menghadap bapaknya dan berkata: “Wahai ayahku, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempercayai ajaran yang dibawanya dan mengikutinya.”

Sang ayah menjawab: “Sungguh ia mengajakmu kepada kebaikan, maka ikutilah dia”.

Khalid muhammad Khalid dalam Kehidupan para Khalifah Teladan (Pustaka Amani, 1995) menulis, Ini adalah untuk pertama kalinya Abu Thalib mengetahui bahwa putranya di masa kecil telah mengikuti risalah Muhammad SAW.

Pada usia berapakah Ali memeluk Islam? Disebutkan dalam Leksikon Islam Jilid 1, (Pustaka Azet, 1988), Ali memeluk Islam di usia 6 tahun. Oleh karena itu, Ali tercatat sebagai pemeluk Islam termuda sepanjang sejarah. Sebelum menjadi menantu Rasul, Ali tercatat berperan menggantikan Rasulullah di tempat tidur saat rumahnya dikepung para pembunuh bayaran.

Saat beranjak dewasa, Ali ditakdirkan menikahi Fatimah Az-Zahra. H.M. Al-Hamid Al-husain dalam Sejarah Hidup Imam Ali (Lembaga Penyelidikan Islam, 1981), menyebut kala itu, Ali hanya punya 3 perbendaharaan: baju perang, sebilah pedang dan seekor unta. Rasulullah rida dengan maskawin yang diberikan Ali yakni baju perang. Disaksikan para sahabatnya, Rasulullah mengucapkan ijab qabul pernikahan Ali dan Fatimah az-Zahra.

Bahwasanya Allah memerintahkan aku supaya menikahkan engkau dengan Fatimah atas dasar maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah mudahan engkau dapat menerima hal itu.

Ya Rasul Allah, kuterima itu dengan baik,” jawab Ali bin Abi Thalib. Dari pernikahan Ali dan Fatimah lahirlah Hasan dan Husein.

Sebagai menantu Rasulullah, Ali termasuk menantu yang transparan dan jujur. Terutama dalam urusan poligami. Kalau zaman sekarang, sebagian pria yang menambah istri lagi biasanya diam-diam alias berkedok kawin sirri. Diusahakan agar istri maupun mertua tidak akan mengetahui niat busuknya.

Singkat cerita, Rasulullah menolak poligami yang akan dilakukan Ali bin Abi Thalib.

Sesungguhnya Hisyam bin Al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan anak perempuan mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Namun aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya, aku tidak mengizinkannya. Kecuali jika ia menginginkan Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku baru menikahi putri mereka. Karena putriku adalah bagian dariku. Apa yang meragukannya, itu membuatku ragu. Apa yang mengganggunya, itu membuatku terganggu.” (Al-Bukhari dan Muslim).

Menantu yang baik adalah menantu yang bisa diandalkan. Keberadaannya akan membuat hati seorang mertua tentram. Jangan meragukan peran Ali sebagai menantu Rasulullah. Menurut Sirah Nabawiyah karangan Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri, ketika terjadi adu tanding dalam Perang Badar, Ali berhasil mengalahkan tokoh suku Quraisy yaitu Walid bin Utbah. Dalam Perang Uhud, Ali mampu membunuh pembawa bendera pasukan Quraisy yaitu Al-Julas bin Thalhah bin Abu Thalhah.

Ketika Rasulullah saw wafat di pangkuan Aisyah, M. Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad saw (Lentera Hati, 2011) menyebut, Ali bersama al-Fadhl (putranya Abbas) dan Usamah bin Zaid, memandikan dan memberi wewangian kepada jasad Rasulullah. Kemudian dikafani. Digalilah liang lahat untuk jasad Rasulullah. Yang menggali ialah Thalhah Zaid bin Sahal. Setelah itu dimakamkan persis di kamar tempat pembaringan beliau, di kamar Aisyah, yang kala itu masih berada di luar area Masjid Nabawi.

Sampailah episode kehidupan Ali ke tahap beliau menjadi Khalifah pengganti Usman bin Affan. Menurut Muhammad Ridha dalam buku Ali bin Abi Thalib (Al-Qowam, 2013), awalnya Ali menolak ditunjuk penduduk Madinah sebagai pengganti Usman. Ali lebih suka menjadi wazir bagi umat Islam. Bahkan Ali mengusulkan dua nama alternatif yaitu Thalhah bin Ubaidillah atau Zubair bin Awwam.

Thalhah ini seorang sahabat yang punya julukan “Assyahidul hayyi” atau syahid yang hidup sendiri. Julukan tersebut diberikan Rasulullah saat perang Uhud. Sementara Zubair adalah keponakannya Khadijah.

Singkat cerita, Ali bersedia dibaiat sebagai khalifah keempat. Di era kepemimpinannya Ali berniat mengembalikan pemerintahan Islam seperti era Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Kemudian semua tanah yang diambil keluarga Umayyah pada masa Usman, dikembalikan lagi menjadi milik negara. Ali juga tak ragu mengganti gubernur yang sewenang-wenang salah satunya Muawiyyah di Syam.

Karena perang saudara, Ali memindahkan ibu kota dari Madinah ke Kuffah,” tulis Dr. M. Abdul karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Pustaka book, 2007).

Tatkala Ali memecat beberapa gubernur, Muawiyyah makin gencar bermanuver politik.

Manuver Muawiyyah tak dapat dibendung, sehingga terjadilah Perang Shiffin. Saat terpojok, atas usulan Amr bin Ash, Muawiyyah menawarkan gencatan senjata dengan mengangkat Al-Qur’an. Usai gencatan senjata atau arbitrase dalam Perang Shiffin, muncul kelompok Khawarij, mereka ini awalnya di pihak Ali, lalu mengutuk Ali karena memilih langkah arbitrase padahal pihaknya telah unggul.

Khawarij ini bisa disebut kelompok garis keras. Mereka punya pandangan bahwa jihad masuk rukun Islam yang keenam. Mereka mendukung pembunuhan tanpa pandang bulu terhadap semua lawan mereka dengan alasan bahwa mereka kaum musyrik dan karenanya tidak memiliki hak dan tidak boleh hidup,” Tulis Antony Black dalam Pemikiran Politik Islam (Serambi, 2006).

Di bidang politik, menurut Dr. M. Abdul Karim, Khawarij punya pandangan khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat, baik Arab atau non Arab. Bahkan perempuan boleh jadi pemimpin bila memang mampu dan memenuhi kriteria sebagai kepala negara. Selain khawarij, ada kelompok Syiah dan Murjiah.

Setelah tidak berhasil mengalahkan Ali dalam perang Shiffin, dalam buku Sejarah Umat Islam karangan Buya Hamka, Muawiyyah menuju Mesir, karena negeri itu kaya akan hasil alamnya. Usai mesir dikuasainya, Muawiyyah menyusun kekuatan untuk menaklukkan Hijaz, Yaman dan Bashrah. Orang yang sakit hati atas dibunuhnya Khalifah Usman, ia kumpulkan dan jadi pengikutnya.

Peran Ali sebagai khalifah keempat harus berakhir karena seorang Khawarij bernama Abdurrahman ibn Muljam. Sejarah mencatat pada 21 Ramadan, Ali bin Abi Thalib dibunuh saat memasuki masjid untuk menunaikan salat Subuh. Setelah wafatnya Ali, kepemimpinan umat diserahkan kepada Hasan bin Ali. Bila Ali dizalimi oleh Khawarij, maka dikemudian hari, dua putranya dikhianati kelompok Syiah Rafidah. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.