Perjuangan pemulung naik haji

Perjuangan pemulung naik haji

Khumaidi Katijan (49 tahun) Pria asal Kabupaten Mojokerto yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung barang bekas di TPA Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo.

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Khumaidi Katijan (49 tahun) hingga detik ini masih tidak menyangka jika ia dan istri tercintanya, Siti Fatimah (45 tahun), tahun 2024 ini dapat berangkat ke tanah suci untuk memenuhi kewajiban rukun Islam kelima.

Pria asal Kabupaten Mojokerto Jawa Timur yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung barang bekas di TPA Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo ini merasa bahagia karena dapat berangkat berhaji setelah sempat tertunda selama tiga tahun karena pandemi.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur tahun ini dipanggil untuk berhaji ke Baitullah,” tutur bapak dua anak ini.

Khumaidi dan istri semestinya berangkat haji pada tahun 2021 namun saat itu penyelenggaraan ibadah haji ditiadakan karena pandemi Covid-19.

Khumaidi menceritakan keinginan untuk pertama kali mendaftar haji datang dari sang istri.

Awalnya dia sempat pesimis karena merasa hanya seorang pemulung.

“Saya ini cuma pemulung barang bekas, biaya haji kan mahal apalagi kalau berdua,” ujarnya.

Rupanya keinginan sang istri tersebut tak dianggap sebelah mata oleh Khumaidi meski baginya itu bukan hal mudah.

“Pada tahun 2011 itu kebetulan tabungan kami sudah terkumpul 10 juta. Awalnya ingin saya belikan tanah kecil-kecilan tetapi saya ingat kalau istri ingin berangkat haji. Dibantu dana talangan, akhirnya saya bisa mendaftar haji,” terang Khumaidi.

Setelah mendaftar haji, Khumaidi berusaha menabungkan sebagian besar pendapatannya untuk persiapan dana pelunasan.

“Dari memulung, saya bisa memperoleh uang penghasilan seratus ribu atau kalau sedang sepi ya kurang dari seratus ribu perhari,” kenangnya.

Lanjut Khumaidi, dari penghasilan tersebut, ia pergunakan 25 ribu untuk keperluan sehari-hari sedangkan sisanya ia sisihkan sebagai tabungan haji.

Untuk menambah penghasilannya, Khumaidi dan istrinya sempat mempunyai usaha membuat batu merah. Meski cukup membantu perekonomiannya, usaha ini sudah berhenti semenjak 4 tahun lalu karena tanahnya sudah habis.

Kini, Khumaidi dan istrinya tergabung dengan kloter 65. Mereka telah terbang ke tanah suci pada Rabu (29/05/2024) pukul 14.10 WIB.

Reporter: Dani Rohmati
Editor: Muhammad Nashir

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment