Pesan dari Tidore: People Power Itu Nyata
Massa pendukung capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandi menghadiri kampaye terbuka terakhir di Alun- Alun Kota Tangerang, Banten, Sabtu (13/4/2019). (Foto: Alinea.id)

Suaramuslim.net – Ba’da Jumat kemarin (19/4) dunia medsos dihebohkan oleh sebuah video viral yang segera tersebar. Video itu akhirnya sampai juga di WA saya. Langsung saya tonton sampai abis video itu.

Video yang direkam di Tomalou sebuah kecamatan di Tidore Maluku Utara itu membuktikan kekecewaan umat yang habis salat Jumat dan mengusir paksa seorang caleg Nasdem untuk DPR RI.

Sang caleg tersebut seperti yang disebutkan adalah Sdr. Ahmad Hatari. Konon Ahmad Hatari sudah menyumbangkan karpet dan podium untuk masjid di Tomalou tapi dia hanya mendapatkan 700 suara.

Ba’da Jumat itu Hatari tidak puas dengan perolehan suara setelah pileg dan pilpres 17 April lalu menyampaikan uneg-uneg di Masjid Tomalou.

Tapi apa yang terjadi setelah Ahmad Hatari menyampaikan uneg-unegnya? Jemaah masjid tersinggung. Lalu marah sehingga semua karpet masjid berwarna hijau itu pun diseret keluar. Setelahnya Ahmad Hatari disuruh bergegas meninggalkan Masjid.

Mengapa umat bereaksi penuh emosi seperti yang terekam di video viral itu? Ada beberapa hal yang patut dicermati.

1. Umat memang tidak mau lagi ada pemberian dalam bentuk apapun untuk mendapatkan suara saat pileg dan pilpres. Termasuk karpet masjid dan podium tempat khatib sampaikan khotbah.

2. Sudah muncul kesadaran kritis di masyarakat untuk inginkan perubahan. Masyarakat Tomalou pilih nomor 02. Bukan 01 dari partai Ahmad Hatari berasal termasuk capresnya 01.

3. Masyarakat secara spontan dan mendadak berikan reaksi dengan menolak Ahmad Hatari sebagai ekpresi menolak politik uang (rayuan) dengan karpet dan podium.

4. Sikap masyarakat Tomaluo Tidore itu ekspresi akal sehat dan keyakinan yang kuat agar pileg dan pilpres berjalan jujur, adil dan penuh amanah. Karena suara mereka bukan karena money politics dsb.

Ekspresi spontan umat/masyarakat Tomalou Tidore Maluku Utara itu mewakili hampir rata-rata suara masyarakat mayoritas yang menginginkan perubahan. Perubahan ke arah perbaikan nasib negeri ini lima tahun ke depan. Baik di legislatif maupun eksekutif.

Ekspresi masyarakat Tomalou itu adalah murni gerakan spontanitas masyarakat. Itu lah people power sebenarnya yang menginginkan perubahan. People power itu nyata dan fakta dan bukan mobilisasi.

People power itu menghendaki perubahan besar atas negeri ini. Dan itu tidak dapat dibendung lagi.

Peristiwa di Masjid Tomalou Tidore itu memberi pesan tentang people power dan pesan kepada KPU dan Bawaslu termasuk kepada TNI dan Polri termasuk petahana Jokowi agar berpihak pada kebenaran dan keadilan. Berpihak kepada rakyat yang damba akan perubahan dan perbaikan.

Pesan dari Tomalou Tidore itu adalah pesan bagi semua. Jangan bendung kebenaran dan keadilan. Karena kebenaran dan keadilan akan mencari muara. Muaranya akan membentuk people power yang tak dapat dibendung. Wallahu A’lam.*

Penulis: Muslim Arbi (Koordinator Gerakan Perubahan (Garpu))

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.