Rektor ITS Prof Joni saat berpidato di wisuda ITS, foto: ITS

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Pengabdian Prof Joni Hermana sebagai Rektor Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya akan berakhir pada Jumat (12/4/19). Dia pun mengisi Closing Lecture yang diselenggarakan di Auditorium Menara Sains ITS, Rabu (10/4/19).

Pada kesempatan itu, Joni terlihat menghapus air matanya saat menjawab pertanyaan audience.

-Advertisement-

Tak heran memang, Rektor yang sering melakukan gebrakan dan viral ini kerap menangis saat harus mengingat perjalanan pengabdiannya di kampus teknik terbesar di Indonesia Timur.

Kali ini, tangisnya pecah ketika mengingat masa-masa memimpin ITS dan menjawab pertanyaan terkait kiatnya sebagai rektor selama empat tahun saat menghadapi masalah di kampusnya.

Cukup mengejutkan, ia malu-malu mengakui saat terlalu lelah dengan masalah kampus, lalu biasanya tidur dan berdoa.

“Malu karena dalam memecahkan masalah sulit, saya justru melakoninya dengan tidur dan dengan berdoa menyerahkan semuanya kepada Allah SWT untuk memberi saya solusinya. Malu, karena bagi sebagian orang mungkin apa yang saya lakukan aneh sebab saya seorang teknolog tapi justru menyelesaikan masalah dengan seperti itu,” ceritanya.

Namun di sisi lain, lanjutnya, ia juga mempunyai keyakinan bahwa semua masalah yang terjadi pada diri kita adalah karena kersaning Gusti Allah.

Baca Juga :  Rektor ITS: Jangan Karena Terorisme Mahasiswa Takut Belajar Agama

“Jadi ya saya kembalikan kepada-Nya, karena DIA lah yang tahu bagaimana menyelesaikannya. Biasanya Allah memberi solusi dengan cara-Nya sendiri dan kadang tampak begitu sederhana tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya,” ucapnya.

Ia juga sangat bersyukur dengan ritme kerja semua komponen di ITS yang membuatnya tak pernah lelah.

“Masalah kayak gitu biasanya berkaitan dengan manusia lain atau menyakiti orang lain. Buktinya semua terpecahkan semua selama ini,” ujar alumni University of Newcastle Upon Tyne, Inggris ini.

Guru besar Teknik Lingkungan ini mengungkapkan bisa merasakan begitu luar biasanya pengaruh jabatan dalam organisasi. Sehingga ia menekankan kepemimpinan dengan hati, yang mengutamakan nurani dalam setiap mengambil keputusan.

“Waktu pertama kali jadi rektor, saya instruksikan semua mahasiswa baru bisa salat Subuh berjamaah di masjid kampus. Dan ternyata dampaknya besar, mulai dari masalah keimanan,” ucap Joni Hermana.

“Ada yang berpraduga kok ITS seperti sekolah agama. Ini membuat saya tertantang, tapi saya ingin menanamkan nilai moral yang baik,” urainya.

Meskipun sempat mengalami pro dan kontra, menurut Joni, gagasannya tersebut mampu menginspirasi kampus lain hingga serempak 25 universitas juga ikut melakukan hal yang sama.

Baca Juga :  Terpilih Menjadi Rektor ITS, Ini Rencana Prof Mochamad Ashari

“Bahkan ada universitas di Jombang yang menyampaikan harusnya mereka yang mulai karena basisnya pesantren,” lanjutnya.

Keputusan menggelar salat Subuh berjamaah untuk mahasiswa baru ini merupakan salah satu keputusan yang ia ambil dengan hati nurani. Hal inilah yang ia tekankan selama memimpin ITS.

“Memimpin dengan hati karena saya menyadari kasus keseharian secara hukum hadir tapi bertentangan dengan nurani. Kembalikan ke nurani dalam membuat kebijakan dan memimpin. Jadi berani membuat sikap selama benar,” lanjutnya.

Baginya tak harus menjadi baik terlebih dahulu untuk memimpin. Karena setiap orang punya kelemahan dan selama memimpin ia juga belajar atau tepo seliro.

“Yang saya lakukan biasa, tapi saya membangun nuraninya. Seperti prestasi saat ini dengan lahan terbatas saja prestasi bisa meningkat tiga kali lipat,” paparnya.

Menurutnya, saat membangun memakai nurani dan kemanusiaan, menyentuh bagian dasar. Maka yang dipimpin akan memberikan respons luar biasa dalam mengikuti arahan karena tumbuh rasa memiliki.

Ia pun mengungkapkan masih banyak keinginan yang belum tercapai baik dalam hal sarana prasarana hingga sumber daya manusia. Mulai dari membangun sarana untuk kawasan konvensional hingga dormitori dosen.

Baca Juga :  Raih Gelar Doktor Termuda di Usia 24 Tahun, Begini Cerita Rendra

“Masalah SDM terkait kaderisasi juga belum utuh, saat mau turun (jabatan) baru terbentuk kaderisasi yang saya inginkan. Setidaknya saya sudah memulai, hasilnya bisa dipanen siapa pun,” ujarnya.

Terakhir, ia berharap rektor baru ITS dapat mempertahankan ritme sistem manajemen di ITS. Pasalnya sistem yang ada saat ini telah membawa suasana saling memiliki dan keguyuban.

“Rektor baru ini sebelumnya pernah jadi rektor. Saya yakin bisa lah memimpin ITS, cuma mungkin kalau beda soal pendekatannya saja,” pungkasnya.

Selama menjabat, Joni Hermana mengubah status ITS menjadi PTN-BH yang ideal, kemudian membawa ITS lebih banyak berkontribusi secara nasional dalam bidang science dan teknologi, serta membawa ITS mampu berkontribusi di dunia internasional.

Pada tahun 2017, ITS terpilih sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang paling tinggi capaian inovasinya dalam hal saintek oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.