Psychological Pressure
Ilustrasi judgment pada lawan. (Foto: Niandson Leocádio/Dribbble)

Suaramuslim.net – Seorang peneliti senior LIPI pernah merilis temuan begini: konservatisme Islam yang berkembang belakangan ini di tanah air terjadi tidak hanya di dunia kampus, tetapi juga di masyarakat luas. Penyebabnya adalah “psychological pressure“. Ketika ruang-ruang publik keagamaan dikuasai oleh kalangan konservatif, maka individu-individu di dalamnya terpaksa mengikuti arus konservatisme, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Benarkah temuan sang peneliti tersebut? Dalam beberapa kejadian, harus diakui bahwa kemungkinan temuan itu faktual, alias memang benar terjadi. Hanya saja, mengandaikan psychological pressure (termasuk kategori ini semisal orang tua yang jadi “nyalaf” karena “terpengaruh” anak cucunya menjadi pengikut manhaj dakwah kalangan salafi Saudi atau Yamani; dan bukan hasil paksaan) jelaslah keliru.

Konsep psychological pressure sendiri harus dijelaskan dalam pandangan sarwa (worldview) seperti bagaimana? Ini poin pertama dan utama. Sebab, bila digeledah, ada tendensi untuk menyeragamkan faktor perubahan di hati manusia. Padahal, hati manusia itu bak samudra. Dan di situlah hadirnya hikmah, juga hidayah, dalam diri Muslimin amat sumir bila dipengaruhi semata “tekanan psikis”, apa pun bentuknya.

Baca Juga :  Sang Pemimpin dan Sang Pemimpi

Dalam keseharian contoh yang diungkap peneliti tadi dan para pendukungnya, sering kontradiksi dengan kasus yang lain. Yakni ketika para orang-orang tua hadir di pengajian kalangan konservatif justru bertolak dari kebencian pada anaknya yang kian bengal dan jauh dari agama.

Nah, lantas siapa lingkungan eksternal yang berhak disalahkan ketika demikian kondisinya? Lebih repot lagi, oleh seorang doktor, dengan mengutip temuan peneliti LIPI tadi, konservatisme didekatkan dengan terorisme. Bahkan, Aksi Bela Islam beberapa tahun terakhir ini pun dipandang dalam kontestasi umat Islam, lewat tokoh-tokoh, sedang cemas kalah dalam persaingan. Nah!

Padahal, kecemasan itu justru, lamat-lamat, manifestasi isi di dada mereka. Bisa jadi demikian. Terlebih ketika musim politik kian memanaskan rasa berbaik sangka. Yang ada hanya umbaran kecemasan atas menaiknya pihak lain. Ujaran bahwa ada pihak yang menunggangi kalangan ini dan itu dalam kontestasi politik bisa dibaca dari fenomena seperti ini. Sebutan-sebutan bernada mengejek segera dan masif dilontarkan. Bahwa pihak di sana sekumpulan pihak yang menakutkan dan mengancam negeri ini. Sementara kita adalah kebalikannya. Padahal, yang terjadi sebenarnya, bisa jadi itu artikulasi tertekannya kita dari kekuasaan yang bakal lepas.

Baca Juga :  Kisah Umar ra. dan Ibu yang Menyapih Anaknya

Hari ini, temuan bernada ilmiah sekalipun mesti dikritisi dengan objektif. Tidak boleh serta-merta memercayai pada integritas lembaga. Terlebih lembaga pengetahuan tersebut ditengarai diboncengi kepentingan untuk mendiseminasi informasi yang politis. Dalam kasus memukul sekumpulan warga negara dengan label buruk padahal senyatanya tidak demikian, sebagai contoh.

Tema seperti psychological pressure sebenarnya dendang indah tapi ditujukan untuk menghantam kepentingan kekuasaan. Kekuasaan dalam makna apa pun. Rasanya kebergegasan menilai fakta di lapangan dengan mudah menilai harus dibenahi.*

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.