Puasa dan Ampunan Allah

Puasa dan Ampunan Allah

Puasa dan Ampunan Allah
Ilustrasi tangan berdoa.

Suaramuslim.net – Allah Ta’ala  menyediakan ampunan dan pahala yang besar berupa surga bagi hamba-hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki sepuluh karakteristik. Di antara kesepuluh karakteristik tersebut hanya tiga yang menjadi fokus pada kajian ini, yaitu  laki-laki dan perempuan Muslim, Mukmin dan yang berpuasa.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِينَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِينَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِينَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِينَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصّٰٓئِمِينَ وَالصّٰٓئِمٰتِ وَالْحٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذّٰكِرٰتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu`min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. Al-Ahzab  [33]: 35)

Karakteristik Muslim dan Mukmin disebutkan di awal ayat mengisyaratkan bahwa Islam dan iman merupakan hal yang mendasar dalam agama Islam, dan faktor penentu sah dan diterimanya amal. Keduanya merupakan hal yang mendasar karena merupakan rukun (dasar) dari bangunan agama Islam.

Selain itu keduanya merupakan faktor penentu sah dan diterimanya amal. Beragama Islam adalah syarat sah amal, sedangkan iman merupakan syarat diterimanya amal, dan selanjutnya pelakunya mendapatkan apa-apa yang telah dijanjikan dan disediakan Allah Ta’ala seperti ampunan dan surga.

Janji Allah berupa ampunan dan surga bagi mereka beriman dan beramal shalih juga bisa diketahui antara lain dari ayat-ayat berikut ini: QS. 3: 136, 5: 9, 8: 4, 74, 11: 11, 22: 50, 34: 4, 35: 7, 48: 29.

Iman sebagai syarat diterimanya amal dan memperoleh janji Allah berupa ampunan juga dinyatakan oleh Hadits di bawah ini tentang puasa dan Qiyamul lail.

Dari seluruh keterangan di atas dapatlah diketahui bahwa mereka yang Muslim dan Mukmin yang melakukan puasa (dan amal sholih lainnya) kapan pun di sepanjang waktu akan memperoleh ampunan Allah, dan masuk ke dalam surga.

Agar puasa dan Qiyamul lail yang dilakukan benar-benar efektif yakni mendapatkan ampunan Allah Ta’ala maka mereka yang mengamalkan kedua amalan ini mesti selalu memperhatikan dan memperbaiki kondisi iman dan niat mereka. Untuk itu mereka mesti selalu memperhatikan sabda Rasulullah saw “imanan wa ihtisaban”  yang bergandengan dengan sabda beliau tentang puasa dan Qiyamul lail.

Berikut ini amalan di agar diampuni Allah

  1. Puasa dengan imanan wa ihtisaban

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan dengan imanan (beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan meyakini kewajiban dan keutamaan puasa, janji Allah dan besarnya pahala dari Allah) wa ihtisaban (dan ikhlas mengharap ridho dan pahala Allah semata) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwa mereka yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan imanan wa ihtisaban maka maka Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

  1. Qiyamul lail dengan imanan wa ihtisaban

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

 “Barangsiapa yang melaksanakan Qiyamul lail di bulan Ramadhan dengan imanan  (beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan meyakini keutamaan Qiyamul lail, janji Allah dan besarnya pahala dari Allah) wa ihtisaban maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang melaksanakan Qiyamul lail pada Lailatul Qodr dengan imanan wa ihtisaban maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas menyebutkan bahwa mereka yang melaksanakan Qiyamul lail dengan melaksanakan sholat Tahajjud dengan imanan wa ihtisaban maka Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

  1. Banyak berdo’a

Disunahkan menghidupkan malam selain dengan sholat Tahajjud dan I’tikaf juga dengan memperbanyak do’a. Do’a terbaik adalah do’a memohon ampunan sebagaimana yang telah diamalkan dan diajarkan Rasulullah saw sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang memohon ampun, maka ampunilah aku.”  (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

  1. Istighfar

Rasulullah saw yang ma’shum telah memberi teladan memperbanyak istighfar sebagaimana disebutkan dalam Hadits berikut.

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Demi Allah, sungguh aku beristighfar dan bertaubat dalam sehari lebih dari 70 kali.” (Muttafaqun ’alaih)

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “… 100 kali“.

Istighfar yang dilakukan kapanpun di sepanjang hari dan khususnya di waktu Sahur – baik di dalam maupun di luar Ramadhan – adalah salah satu ciri  orang yang bertaqwa. (Lihat QS. 3: 15-17, 133-135, 51: 15-18)

Penghujung malam sebelum terbit fajar shodiq/Shubuh adalah waktu yang sangat istimewa karena Allah Ta’ala turun ke langit dunia untuk mengabulkan do’a dan memenuhi permintaan hamba-hamba-Nya yang memanjatkan do’a dan permintaan di waktu tersebut, dan mengampuni hamba-hamba-Nya yang memohon ampun di waktu tersebut. (HR. Bukhori dan Muslim)

Penutup

Melakukan amal shalih yang dilakukan dengan imanan wa ihtisaban insyaallah membuat diri kita tidak termasuk ke dalam kategori yang disebut Rasulullah saw sebagai orang yang hina sebab Allah Ta’ala telah mengampuni dosa-dosa kita.

َرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَه

“Sungguh hina seseorang yang datang kepadanya Ramadhan yang kemudian Ramadhan berlalu sebelum dia diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Semoga kita tidak termasuk di dalamnya. Aamiin. Wallahu a’lam.

Kontributor: Abdullah Al Mustofa*
Editor: Oki Aryono

*Anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Kediri

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment