Liputan yang Mengabaikan

Liputan yang Mengabaikan

Liputan yang Mengabaikan

Penulis: Yusuf Maulana*

Suaramuslim.net – Kekerasan dan persekusi pada kalangan etnis “pendatang” di Kalimantan Barat selepas pemilihan gubernur itu benar adanya. Dengan reputasi, profesionalisme, dan komitmen yang acap dikemukakan di banyak halaman medianya, mustahil rasanya koran Palmerah Selatan ini tak mengetahui kejadian tersebut.

Berbeda ketika ada insiden yang mengusik kalangan tertentu dengan indikasi dan bukti awal disangkakan pelakunya beridentitas pemeluk Islam politik ataupun ideologis, beberapa kali esok harinya selepas kejadian naik di halaman muka.

Lain halnya ketika kejadian dengan menempatkan kalangan epistemik ataupun preferensi politik yang relatif dekat dengan koran ini sebagai tersangka pelaku, maka redaksi dalam beberapa kejadian serupa bisanya memilih “menutupi” atau tidak komprehensif melakukan liputan. Adagium sebagai pengusung jurnalisme empati dan presisi entah ditetapkan sebagai modus kerja atau tidak.

Yang jelas, jangan harap akan ada keutuhan kejadian dengan menempatkan kalangan pelaku dan petuah-petuah bijak narasumber sebagaimana dalam kejadian dengan Muslim sebagai tersangka. Argumentasi ingin berhati-hati sebenarnya sumir dan inkonsisten, mengingat seleksi kejadian dan diskriminasi membuat bingkai latar, seperti dalam kasus di Kalimantan Barat, sering terpola dan berulang terjadi di koran beroplah tertinggi di tanah air kita ini.

Dalam kasus tragedi Maluku pada 1999-2000, misalnya, pola seperti dalam kejadian di Kalimantan Barat ada beberapa kemiripan. Canggihnya teknologi koran ini, ditambah sumber daya manusia yang pilihan, mereka tertinggal dalam mengangkat kejadian memilukan yang tak beradab dengan korban warga Muslim.

Ironisnya, tiadanya soal pembantaian pada warga Muslim di koran ini oleh penguasa masa itu jadi tolok ukur kebenaran. Dan memang tak sedikit asumsi kebenaran disandarkan dari ada atau tiadanya pemberitaan di koran ini. Lucu, naif sekaligus tragis memang asumsi ini.

Ketika satu kejadian yang meletakkan anak bangsa ini jadi korban, sudah sepatutnya diangkat tanpa melihat besaran korban ataupun posisi pelaku. Identitas tersangka tidak perlu jadi bahan sensitif untuk menjadi alasan meninjau ulang pemberitaan lugas dan apa adanya.

Toh media bertugas selain menuliskan dengan jujur, juga menjaga akal sehat publik. Tak mesti pelaku dari satu kelompok maka kelompok itu secara keseluruhan pasti menyokong satu tindakan jahat. Sayangnya, media yang acap dipuja-puja independen dan objektif beberapa kali lalai lakukan sikap dingin dengan bijak. Sikap bijak menguraikan suatu kasus sering kali diboncengi sikap tendensius secara tersamar untuk menafikan pandangan berbeda.

Kejadian radikalisme sering ditempatkan sebagai kontradiksi inklusivitas dan sikap toleran yang hendak dibangun di alam berpikir pendiri dan redaksi koran tersebut. Sayangnya, narasi yang dibangun tidak jujur, selain hanya mengikuti arus besar wacana yang menegasikan pemikiran berbeda.

Sebab apa radikalisme hadir, mengapa muncul kekerasan atas nama agama, semua diputar-putar di posisi yang sama tapi sebenarnya hanya menebar ketakutan pada publik. Analisis ahli yang dipilih juga sudah diseleksi agar mengikuti narasi besar koran.

Pola di atas amat mudah didapati pada kejadian terorisme yang melibatkan kononnya Islam garis keras. Tentu akan sukar mengharap adanya amatan detail serupa itu dalam kejadian seperti di Kalimantan Barat. Kejadian akan diarahkan pada hal-hal normatif dan bernuansa Menyatukan.

Bagaimana laten masalah dan latar persoalan? Semua dimaafkan hanya karena bukan Muslim tersangkanya. Barangkali ini stereotip memang, hanya saja kejadian selektif dan memilah aktor tersangkanya kejadian bukan barang asing didapati pada koran sekelas Palmerah Selatan ini.

Semoga saja, hari-hari ke depan, kejujuran yang menyeruak dihadirkan. Menjaga akal waras dan sikap bijak tanpa harus cemas akan ada hal-hal tak diinginkan lantaran pelakunya diindikasikan dari kalangan minoritas. Kiranya siapa saja pelaku tak perlu diungkai asalnya; fokuskan pada kekeliruan berpikir dan bertindak.

Demikian pula tatkala para islamis yang bablas mengekpresikan kecintaan pada agamanya jatuh pada tindakan menabrak hukum, seyogianya tak perlu ditarik sebagai persoalan genting dan darurat bagi bangsa kita ini.

Dengan demikian, media, apatah lagi berkelas nasional dan mendunia pula, punya beban besar menjaga kebangsaan dengan sungguh-sungguh, bukan bermuatan politis untuk memukul lawan politik ataupun pemikiran. Sekira tak suka dengan pihak di luar sana, tetap saja sikap adil harus ditegakkan. Terlebih bagi awak media yang kadung disimbolkan sebagai aktor demokrasi.

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Like this article?

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on WhatsApp
Share on Telegram

Leave a comment