Pudarnya Budaya Malu di Kalangan Elite Politik
Ilustrasi politisi (Ils: Rossana Piazzini/Dribbble)

Suaramuslim.net – Dalam tata nilai sosial, budaya malu adalah hal penting yang harus dilakukan masyarakat. Ia berperan sangat signifikan dalam tata nilai sehingga menyebabkan seseorang dikatakan beradab atau tidak beradab karena malu.

Psikologi pendidikan menjelaskan bahwa individu selalu dikarunia keterampilan untuk memahami nilai-nilai yang telah ada dan ditetapkan masyarakat. Pada umumnya nilai dan norma sosial merupakan sesuatu yang sudah mendarah daging dan tidak bisa dibantah. Namun, ironisnya kalangan elite politik yang selama ini dihormati dan dijunjung tinggi masyarakat justru sebaliknya mulai melupakan dan tidak mengindahkan tata nilai sosial yang selama ini telah menjadi panduan dalam bersikap dan berperilaku.

Hal ini dapat dipastikan karena budaya malu dalam masyarakat dan kalangan elite politik semakin memudar. Bahkan, bisa dikatakan kalangan elite politik memberikan contoh kepada masyarakat akan ketidakmaluan ketika melanggar tatanan nilai-nilai sosial yang sangat dijunjung tinggi selama ini.

Berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat dan elite politik dewasa ini. Bisa dikatakan telah terjadi degradasi moral dan penaatan nilai-nilai sosial. Jika tindakan-tindakan masyarakat dan elite politik ini terus berlangsung akan membuat budaya malu dalam kehidupan semakin memudar.

Dari waktu ke waktu moral masyarakat dan elite politik semakin melemah. Konon, ketika membaca buku-buku tentang budaya masyarakat sebelum abad ke XX dapat ditemukan bahwasanya kebudayaan dan tata nilai masyarakat masih dikatakan sangat menjunjung tinggi peradaban dan kebudayaan luhur bangsa.

Memang masyarakat perlu memberlakukan sanksi sosial bagi para pelanggar yang menyalahi aturan-aturan dalam bertingkahlaku. Hal ini sangat penting dalam memberikan pendidikan karakter bagi masyarakat kita. Sudah sepantasnya kita sebagai bagian masyarakat yang berakal dapat memberikan sumbangsih bagi perbaikan moral dan meningkatkan budaya malu pada seluruh anggota masyarakat.

Sudah sepantasnya sebagian dari kita yang merasa sebagai manusia yang berakhlak tinggi memberikan tata nilai dan pandangan yang baik bagi perkembangan mentalitas budaya malu.

Bila saya boleh jujur masyarakat kita sudah sangat jauh mempergunakan ketidakjujurannya. Ketidakjujuran dalam masyarakat lantaran budaya malu yang mulai menipis ini menimbulkan hilangnya rasa kemanusiaan yang ada pada semua anggota masyarakat.

Saya sebagai bagian dari masyarakat sendiri merasa sangat kuatir dengan segala tindakan yang dilakukan oleh masyarakat saya. Sebagaimana yang sudah saya lihat, masyarakat mulai melupakan budaya tata krama yang seharusnya dihormati serta dijunjung tinggi. Masyarakat kita gandrung menyebarkan berita-berita hoaks yang merancukan pikiran-pikiran masyarakat.

Dalam kajian filsafat dan etika sosial, budaya malu sangat penting dalam membentuk mentalitas masyarakat yang  berjiwa sosial tinggi. Sebuah pelajaran yang dapat kita ambil di sini adalah masyarakat kita harus disadarkan dengan membentuk mentalitas yang menjiwai moral dan etika yang sudah berlaku secara umum dalam khazanah budaya masyarakat secara turun-temurun.

Mungkin sudah sepatutnya masyarakat kita menengok sejarahnya kembali dan memberikan pandangan yang etis dalam menyikapi keadilan dan kebenaran yang ada. Maka, dari sini kita bisa memberikan pandangan yang lebih luas tentang budaya etika dan moral.

Apakah kita sebagai bagian dari anggota masyarakat sudah membangun peradaban yang baik dan benar? Selanjutnya kita berharap masyarakat dapat memberikan revolusi moral dengan mengubah sistem-sistem yang sudah bobrok.

Coba kita renungkan bagaimana bila budaya hilangnya malu terus menjangkiti masyarakat kita. Apakah masyarakat kita terus menerus sakit? Perbaikan yang saya maksud di sini akan memberikan pengetahuan yang akan membentuk peradaban seperti yang dicetuskan oleh Herbert Mercuse.*

Kontributor: Gratia Artha
Editor: Muhammad Nashir

*Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Suaramuslim.net

Baca Juga :  Catatan Oase 192: Nissa Sabyan dan "Politikus"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.