Sejumlah narasumber yang hadir dalam rangka memberikan pres conference di tempat Humas Pemkot Surabaya pada Senin 11 Febuari 2019, foto: Teguh/Suaramuslim.net

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Wabah flu babi yang akhir-akhir ini diperbincanglan kembali dalam publik, memantik Pemerintah Kota Surabaya mensosialisasikan hal tersebut guna antisipasi flu jika sewaktu-waktu hal ini terjadi kepada masyarakat Indonesia khususnya Surabaya. Meski Surabaya masih tergolong aman namun tidak disangka, kedepan, jangan-jangan ada warganya yang terrimpa flu babi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Surabaya dr Mira Novia memastikan hingga saat ini belum ada kasus penyakit flu babi di Kota Surabaya. 

“Sampai sekarang laporan yang kami terimah belum ada warga yang terserang penyakit ini dan semoga tidak ada, apabila ada segera melapor dan datang ke rumah sakit Dr Soetomo,” ujarnya saat jumpa pers di kantor Humas Pemkot Surabaya, Senin (11/2/2019).

Mira mengingatkan bahwa gejala penderita yang terkena virus H1N1 hampir sama seperti flu biasa. namun disertai oleh sesak.

“Tidak semua yang terkena penyakit demikian adalah mereka yang terdeteksi flu babi, harus dilihat dulu sebelum flu dia habis bepergian kemana, apakah dari luar negeri yang negaranya pernah terserang virus H1N1?. Kalau memang dari negara yang terserang virus ini, maka ini indikasi bahwa dia benar-benar terserang flu babi,” tegasnya.

Disisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RPH Surabaya Bela Bima juga memastikan pemotongan babi di instansinya sudah steril dan melalui beberapa pemeriksaan dan proses panjang. 

“Saat usia panen, dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan di daerah itu. Ini nanti yang akan mengeluarkan rekomendasi berupa surat keterangan kesehatan hewan. Nah, ketika tiba di RPH, surat inilah yang akan kami tanya,” kata Bima.

Selanjutnya, dokter hewan di RPH akan memeriksa lagi dan mencocokkan dengan surat keterangan kesehatan hewan yang telah dibuat oleh dokter hewan sebelumnya. 

Karenanya, dalam proses pemotongan babi di RPH, dilakukan filter atau pemeriksaan dua kali.

“Pemotongannya pun berbeda dengan sapi dan kambing. Dalam proses pemotongan inilah virus-virusnya dihilangkan. Tempatnya pun berbeda dengan pemotongan sapi dan kambing,” kata dia.

Bima juga memastikan bahwa pemotongan babi itu hanya dilakukan dua hari sekali di RPH. “Dalam sekali potong, rata-rata memotong 200 babi,” pungkasnya.

Reporter: Teguh Imami
Editor: Muhammad Nashir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here