Rekonsiliasi; untuk Kepentingan Demokrasi Atau Hanya Bagi-Bagi Kursi
Pertemuan Prabowo Subianto (kiri) dengan Joko Widodo (kanan) di Stasiun MRT Lebak Bulus, Sabtu (13/07). (Foto: Instagram/@jokowi)

SURABAYA (Suaramuslim.net) – Pertemuan Jokowi dan Prabowo yang selama ini ditunggu-tunggu terjadi. Pertemuan tidak digelar di Istana Kepresidenan atau Hambalang, melainkan di Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada Sabtu pagi (13/7).

Akankah pertemuan bersejarah ini mampu menurunkan tensi perpecahan hingga ke akar rumput? Lalu benarkah pertemuan itu semakin mendekatkan sinyal Gerindra merapat ke koalisi pemerintah? Apakah ini silaturahmi biasa atau rekonsiliasi untuk kepentingan demokrasi ataukah sekadar berbagi kursi?

Peneliti politik di The Initiative Institute Bustomi dalam talkshow Ranah Publik (15/7) di Suara Muslim Surabaya 93.8 FM menyebut, dalam politik bukan area hitam putih, persoalannya mayoritas pendukung Prabowo yang kecewa dari kelompok yang memiliki semangat religiositas tinggi. Ketika mereka membaca politik seperti cara membaca agama jika tidak haq ya batil, jika tidak hitam ya putih.

“Jadi, narasi yang selalu dibangun kelompok Islam di belakang Prabowo ini adalah tentang sejarah peradaban Islam. Saya kira itu terlalu berlebihan. Pemilihan umum itu seperti kompetisi. Jika kompetisi itu sudah selesai, secara konstitusional pun MK sudah menetapkan secara final presiden terpilih, ya sudah, Prabowo pun menerima,” paparnya.

Baca Juga :  Surplus Formalisme Defisit Substansi: Mencla Mencle Jokowi terhadap Abu Bakar Ba’asyir

Jika dipahami, imbuh Bustomi, Joko Widodo dan Prabowo Subianto bertemu di stasiun MRT. Ini menunjukkan semiotika politik. Stasiun MRT milik rakyat bisa diartikan Jokowi dan Prabowo siap untuk bekerja sama demi kemajuan Indonesia.

“Dari stasiun MRT Lebak Bulus, Jokowi dan Prabowo bersama-sama naik MRT ke arah FX Senayan untuk melakukan pembicaraan. MRT itu bisa diartikan sebagai sarana transportasi cepat. Keduanya seakan memberi kesan siap bahu membahu dengan cepat untuk kemajuan Indonesia,” paparnya.

Dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura, Surochim Abdus Salam dalam talkshow Ranah Publik (15/7) di Suara Muslim Surabaya 93.8 FM menjelaskan, latar kontekstual pertemuan dua tokoh itu memang polarisasi konflik bertensi tinggi satu dasawarsa ini. Jika ada kesadaran dua pemimpin yang mau bertemu, layak diapresiasi. Tentu, banyak yang menganalisa itu hanya panggung depan, yang terjadi di belakang masih kita raba.

“Menurut saya, apa yang dilakukan Jokowi dan Prabowo pasti mempunyai multi efek atas sikap kenegarawanan mereka. Di samping menciptakan tradisi baru karena di setiap kompetisi pasti ada pemenang, dan sikap positif itulah yang akan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Karena politik kita harus diselamatkan melalui keteladanan jiwa besar dari para pemimpin,” paparnya.

Baca Juga :  Jokowi Efek Tumpul ke PDIP Tajam ke Dolar

“Saya mendengar jika pertemuan kemarin yang mempunyai kontribusi besar untuk meyakinkan kedua belah pihak bertemu adalah Jusuf Kalla, dan saya percaya karena kapasitas beliau selama ini bisa mendamaikan tokoh-tokoh elit di republik. Persoalan deal lain itu masih belum diketahui,” jelasnya.

Jika dihitung secara matematis, ucap Surochim, jauh lebih bermanfaat bagi Prabowo menjadi oposan dibanding masuk pemerintahan. Kalaupun diminta untuk ikut pemerintahan maka akan lebih elegan menyodorkan dari kalangan professional.

“Selain itu, lebih elegan jika Gerindra beserta koalisinya menjadi oposan positif karena yang namanya politik ada masa timbul dan tenggelam. Tidak mungkin PDIP akan menjadi partai penguasa terus menerus, suatu saat pasti akan beralih kesempatan itu ke partai lain. Jangan sampai kebiasaan politik menjadi oposan itu dihindari, apalagi partai politik menengah dan kecil, yang suka merapat ke kekuasaan,” katanya.

Surochim menjelaskan, ketika banyak partai menengah dan kecil merapat kepada pemerintah akan menjadi pintu politik pragmatis. Misalnya, siapa yang ingin terjamin menjadi ketua umum partai maka akan merapat ke presiden. Jika seperti itu pintunya akan selalu menunjukkan politik transaksional, tidak ada lagi politik yang menunjukkan keanggunan, kemuliaan, dan menjaga marwah politik. Pintu seperti ini lah yang merusak perpolitikan.

Baca Juga :  Pemuda Muhammadiyah: Drama Politik Jokowi Jelek

“Saya secara pribadi berharap Prabowo tetap menjadi oposan konstruktif, karena bagaimanapun politik tidak ada yang permanen, siapa yang menginvestasikan politik dengan pintu yang mulia, pasti suatu saat akan diberi kesempatan oleh pemilih Indonesia,” pungkasnya.

Reporter: Dani Rohmati
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.