Ricuh Pasca Aksi Damai, Habib Novel Alaydrus: Mari Kita Tiadakan Kekerasan Dalam Bentuk Apapun
Habib Novel Alaydrus asal Solo saat diwawancarai di sela Hijrah Fest 2019 JCC Senayan, Sabtu (25/5/19)

JAKARTA (Suaramuslim.net) – Kericuhan pasca aksi damai Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat 21-22 Mei yang menelan korban 8 orang meninggal dunia, ratusan terluka dan puluhan warga tidak diketahui keberadannya mendapat perhatian dari Habib Novel Alaydrus asal Solo.

Ia menyebut kekerasan yang menimpa siapa pun, baik itu menimpa polisi, menimpa mereka yang berdemo dan siapa pun, semua bentuk kekerasan itu tidak bagus.

“Kalau kita bisa membuat kekerasan itu menjadi tidak ada, maka itu menjadi bagus. Saya mengajak semua elemen bangsa, biasakan kita angkat tangan berdoa, ini yang sekarang ditinggalkan. Angkat tangan berdoa. Seakan-akan kita menganggap Allah tidak mampu mengubah semuanya dengan doa.” Jelasnya saat ditemui Suaramuslim.net di sela acara Hijrah Fest Ramadhan 2019 di JCC Senayan, Sabtu (25/5).

“Saya yakin doa mampu mengubah banyak hal. Bahkan semuanya. Firaun tenggelam bukan karena nabi Musa punya gada, bukan karena nabi Musa punya pasukan. Firaun tenggelam karena musa pernah mengangkat tangan berdoa dan memerintahkan Harun saudaranya untuk mengaminkan doanya. Musa berdoa, Harun mengaminkan, Allah pun menenggelamkan Firaun. Memang butuh waktu, proses 40 tahun, tapi tenggelam. Itu Firaun dan nabi Musa. Yang lain kan tidak seperti Firaun insya Allah,” lanjutnya.

Baca Juga :  Cerita Dari RS Budi Kemuliaan: Dari Korban yang Meninggal Hingga Selongsong Peluru

Pengasuh Majelis Ar-Raudah Solo ini juga memberikan nasihat kepada aparat dan warga Indonesia setelah kejadian ricuh 21-22 Mei lalu.

“Ini untuk semuanya, mau aparatur negara atau bukan aparat. Pokoknya yang muslim, dan hidup berbangsa, yuk kita meniadakan kekerasan dalam bentuk apapun. Insya Allah bisa. Walaupun dalam hal-hal tertentu diperlukan prosedur. Tapi saya yakin kalau iktikad kita, baik yang berdemo dan yang didemo, iktikadnya tidak ingin menggunakan kekerasan apapun, insya Allah bisa,” ujarnya.

Seperti di 212, lanjut Habib Novel, sekian banyak aparat dan umat Islam. Mereka bisa santun dan aparat santun.

“Yang kemarin itu tragedi, sudah terjadi. Itu pelajaran untuk kita semua. Kedepannya kita harus menjadikannya jauh lebih bagus dan baik,” tutupnya.

Reporter: Abdullah Tommi
Editor: Muhammad Nashir

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.